Bab 3 – Kota Hiburan di Neraka.
Razman dan Cepot bersepakat untuk menemui seseorang, setelah Cepot berhasil meyakinkan razman bahwa di neraka ada juga fasilitas hiburan. Dan orang-orang yang dulunya di dunia menyenangi kehidupan seperti ini, sebagian besar menjadi penghuni tempat hiburan yang diceritakan Cepot. Razman setengah tidak percaya dengan cerita Cepot. Tapi gaya Cepot bercerita persis ketika ia masih bersamanya di dunia, dan belum pernah membohonginya, ia akhirnya sepakat. Tempanya disebut oleh cepot sebagai kota Baazela. Sambil berjalan Cepot bercerita banyak tentang pengalamannya selama tiga tahun di Neraka. Katanya, bayyak juga ia bertemu dengan para pesohor yang sering muncul di televisi, bahkan tidak sedikit yang dulu dikenal didunia sebagai seorang tokoh agama, ada juga di tempat ini, kata Cepot.
Razman sebetulnya tidak datang untuk menghibur diri. Ia hanya ingin memastikan kata-kata Cepot, bahwa orang Indonesia-lah yang mendirikan tempat hiburan itu di neraka. Dan penduduk neraka, yang setiap akhir minggu ramai-ramai ke Baazela adalah sebagain besar orang-orang Indonesia. Konon, rakyat Indonesia merasa betah berlama-lama di neraka karena alasan ini. Termasuk Cepot. Ia tidak menyesali dibuang ke neraka dan bertahan selama tiga tahun, meskipun merasa kebaikannya didunia cukup banyak untuk lebih awal bisa keluar dari neraka, tapi karena Cepot merasa tetap bisa menikmati hidup di neraka dengan fasilitas yang menyenangkannya, ia memilih terus melakukan pembangkangan.
Ditengah perjalanan, Razman menghentikan langkahnya. Tidak jauh didepan, ia sudah bisa melihat kota yang dimaksudkan oleh Cepot. Sebuah pintu gerbang raksasa bertuliskan nama kota Baazela, saking besarnya tulisan itu, dari jarak yang masih sekitar dua kilometer dari tempat Razman dan Cepot berhenti, tulisan itu terlihat jelas. Sebuah gerbang yang dikelilingi tembok besar menjadi penanda bahwa kota itu memang dibangun khusus. Semua nampak berbeda pemandangannya. Tapi satu hal yang sama dengan tempat Razman dan Cepot berdiri saat ini adalah, udara yang menghampar membentang luas diatas kota itu, dengan tempat mereka berpijak saat ini, merahnya sama. Kota itu juga dikelilingi api, seperti bahan dasar semua tempat di neraka.
“Kamu tidak salah Cepot? Itu tempat hiburan?” Sambil menunjuk tempat yang menghampar jauh didepan mereka, pertanyaan Razman ingin memastikan bahwa pikirannya salah. Bagaimana mungkin dibawah hamparan udara memerah yang didkelilingi api, ada tempat yang dikatakan tempat untuk menghibur diri, seperti yang diceritakan Cepot sebelum berangkat.
“Percayalah bos…kawanmu ini tidak pernah salah. Aku sudah berkali-kali kesana. Pemiliknya namanya Bung Yosiningrat, dipanggil Bung Yosi. Dia dulunya, sewaktu hidup di dunia, yang membangun pertama kali diskotik di Jakarta. Konon sudah sejak puluhan tahun lalu, ia membangun kota Baazela.
“Tapi kalau masuk kesana, ada syaratnya bos.”
“Apa syaratnya?”
“Bos harus memikirkan semua hal yang bos senangi.”
“Oh, itu gampang”