Bab 4 – Orang-Orang Suci
Sebelum tiba di pintu gerbang, Razman mengentikan langkahnya, tepat saat hendak memasuki pintu yang luasnya setara lapangan bola. Matanya membelalak menyaksikan kerumunan orang-orang yang berjejer di pinngir jalan utama menuju gerbang kota. Banyak diantaranya yang bersorban. Bukan sorbannya yang membuat mata Razman menatap heran. Para lelaki bersorban itu, kepalanya tergantung dilangit-langit pepohonan yang tumbuh dipinggiran jalan. Pohon-pohon itu sedang terbakar, dan wajah-wajah bersorban yang menggantung itu lidahnya menjulur kedepan.
“Mereka orang-orang yang ketika hidup didunia, pekerjaannya hidup dari menipu umat. Berkhotbah seolah-olah suci tapi kelakuannya seperti binatang.” Kata Cepot seperti membaca rasa penasaran Razman.
“Itu ada juga pemimpinnya disini. Namanya Mansur, orang Indonesia juga” lanjut Cepot sambil sesekali melambaikan tangan ke beberapa kepala bersorban yang mengantung dipohon-pohon terbakar.
“Apakah mereka sudah lama disini?”
“Setahu saya, mereka sudah puluhan tahun. Bahkan ada yang sudah ribuan tahun. Mereka betah menjadi peminta-minta. Kata Mansur, sebagian dari mereka itu adalah jamaahnya dia saat di dunia. Orang-orang suruhan Mansur.”
“Memangnya mereka disuruh apa sama Mansur saat di dunia?”
“Mereka bertugas mengumpulkan donasi.”
“Hanya itu?”