Petualangan di Neraka

Saparuddin Santa
Chapter #5

Bab 5 - Selamat Datang di Baazela

Bab 5 – Selamat Datang di Baazela

Gerbang Kota Baazela berdiri seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja yang datang menghampirinya. Dua daun pintunya terbuat dari sesuatu yang menyerupai besi hitam, dengan ukiran wajah-wajah manusia yang tertawa, menangis, dan menjerit dalam bentuk yang aneh. Dari kejauhan, Razman sempat mengira ukiran itu hanyalah hiasan. Namun, ketika ia semakin dekat, salah satu wajah di pintu sebelah kanan tiba-tiba membuka mulutnya lebar-lebar.

“Selamat datang di Baazela!” teriak wajah itu.

Razman terlonjak.

“Kurang ajar! Pintu saja bisa berteriak!”

Cepot tertawa sambil terus berjalan. “Tenang, Bos. Itu cuma ucapan selamat datang.”

“Kalau cuma ucapan selamat datang, kenapa harus seperti orang kesurupan?”

“Barangkali mereka ingin pengunjung merasa terkesan.”

“Kalau begitu, mereka berhasil. Aku hampir kehilangan jantung.”

Cepot kembali tertawa. “Bos lupa, kita ini sudah mati.”

Razman menatapnya tajam. “Justru itu masalahnya. Kalau orang hidup kehilangan jantung, masih ada dokter yang bisa menolong. Kalau orang mati kehilangan jantung, siapa yang mau repot-repot mengurusnya?”

“Di sini, Bos, dokter juga ada.”

“Dokter?”

“Ada. Bahkan rumah sakitnya cukup lengkap. Tapi saya tidak tahu apakah mereka menyembuhkan orang atau sekadar memperpanjang penderitaan.”

Razman menggelengkan kepala. Ia mulai memahami satu hal tentang Cepot. Sahabat lamanya itu tidak pernah kehabisan bahan untuk membuat lelucon, bahkan ketika mereka sedang berdiri di tempat yang seharusnya membuat siapa pun kehilangan selera humor.

Mereka lalu melewati gerbang. Dan seketika itu pula, pemandangan di hadapan Razman berubah. Di luar tembok, tanah tampak seperti hamparan lumpur hitam yang tidak berujung. Udara panas menyengat kulit, sementara bau bangkai dan kotoran terus mengganggu pernapasan. Namun, begitu melewati pintu gerbang Baazela, jalanan berubah menjadi batu hitam mengilap. Lampu-lampu keemasan menggantung di antara bangunan, sementara jendela-jendela besar memancarkan cahaya merah, ungu, dan biru.

Di sepanjang jalan, gedung-gedung tinggi berdiri dengan arsitektur yang aneh. Ada bangunan menyerupai hotel mewah, ada gedung berbentuk piramida terbalik, dan ada pula bangunan bundar yang dindingnya terbuat dari kaca gelap. Dari dalamnya terdengar musik keras, tawa, dan sesekali jeritan yang segera tenggelam oleh suara penyanyi.

Razman berhenti di tengah jalan.“Cepot, kau yakin ini neraka?”

Cepot mengangkat kedua tangannya seolah sedang memperkenalkan sebuah kota wisata.

“Selamat datang di Baazela, Bos. Kota hiburan paling terkenal di neraka.”

“Kalau begitu, di mana apinya?”

Cepot menunjuk ke arah langit. Di kejauhan, nyala merah menyelimuti cakrawala. Lidah-lidah api tampak menjulang di balik gedung-gedung, tetapi tidak satu pun menjilat bangunan di dalam kota.

“Api tetap ada, Bos. Hanya saja, di sini orang-orang tidak terlalu memperhatikannya.”

“Bagaimana mungkin?”

“Kalau orang sudah sibuk mencari kesenangan, kadang mereka lupa memperhatikan apa yang sedang terjadi di sekelilingnya.”

Razman menatap sahabatnya itu. Ada sesuatu dalam kalimat tersebut yang membuatnya ingin bertanya lebih jauh. Namun, sebelum sempat membuka mulut, sebuah suara musik menghentak dari gedung di sebelah kanan.

Sekelompok lelaki keluar dari bangunan itu dengan wajah berseri-seri. Beberapa mengenakan pakaian mahal, sementara yang lain tampil dengan pakaian sederhana. Mereka saling merangkul, tertawa, dan berbicara keras seolah baru saja memenangkan hadiah besar.

Salah seorang di antara mereka menepuk bahu temannya. “Besok kita kembali lagi!”

“Pasti!”

“Kalau perlu, kita tinggal di sini selamanya!”

Mereka tertawa bersama.

Razman memperhatikan rombongan itu sampai menghilang di ujung jalan.

“Cepot, apa mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berada di neraka?”

“Tahu, Bos.”

“Lalu mengapa mereka begitu gembira?”

Cepot mengangkat bahu. “Mungkin karena mereka menemukan sesuatu yang mereka sukai.”

“Di neraka?”

“Di dunia juga begitu, Bos. Ada orang yang tahu bahwa sesuatu akan menghancurkan dirinya, tetapi tetap mengejarnya karena merasa mendapatkan kesenangan.”

Razman tidak segera menjawab. Ia teringat wajah-wajah orang yang pernah membeli narkoba darinya. Ada yang datang dengan mata merah, ada yang tubuhnya kurus dan gemetar, ada pula yang berjanji bahwa pembelian hari itu adalah yang terakhir. Mereka tahu barang yang dibeli bisa merusak hidup mereka. Namun, pengetahuan itu tidak selalu cukup kuat untuk menghentikan keinginan mereka. Dahulu, Razman tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Baginya, selama seseorang bersedia membayar, urusan selesai. Sekarang, di tengah kota hiburan neraka, ia mulai melihat sesuatu yang tidak pernah benar-benar ingin dilihatnya. Keinginan manusia tidak selalu berhenti ketika manusia mengetahui akibatnya.

Mereka melewati sebuah restoran besar dengan pintu terbuka lebar. Di dalamnya, puluhan meja dipenuhi orang yang sedang makan. Aroma daging panggang memenuhi udara. Pelayan berjalan mondar-mandir membawa nampan berisi makanan yang tampak lezat, sementara beberapa pengunjung memanggil mereka dengan suara keras. Di salah satu meja, seorang lelaki gemuk sedang melahap daging dengan rakus. Pipinya penuh makanan. Di hadapannya terdapat tiga piring kosong dan satu piring besar yang baru saja diletakkan pelayan.

Razman berhenti. “Orang itu sudah makan berapa banyak?”

Cepot mengikuti arah pandangannya. “Sejak saya melewati tempat ini tadi, dia sudah menghabiskan sebelas piring.”

“Sebelas?”

“Kalau tidak salah hitung. Tapi saya tidak bisa memastikan. Mungkin ada beberapa piring yang ia habiskan sebelum saya datang.”

Razman memperhatikan lelaki itu. Setiap kali satu potong daging masuk ke mulutnya, tangannya segera mengambil potongan berikutnya. Ia tidak mengobrol dengan siapa pun. Bahkan ketika pelayan menyodorkan minuman, ia hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatian dari makanannya.

“Siapa dia?”

“Dulu pejabat pengadaan barang di pemerintahan.”

Razman menoleh.

“Pejabat?”

“Ya. Selama hidup, dia mengurus proyek pembangunan jalan, jembatan, dan gedung pemerintah.”

“Kalau begitu, kenapa sekarang pekerjaannya makan?”

“Barangkali karena selama hidupnya dia sudah terlalu sering mengambil bagian orang lain. Sekarang dia tidak mau kehilangan kesempatan mengambil bagian yang tersedia di depannya. Sepanjang hari mereka disini hanya makan, begitulah yang mereka dapat disini”

Razman mendengus. “Jangan-jangan nanti dia juga mengambil piring orang lain.”

“Sudah pernah, Bos.”

Razman hampir tertawa. Namun, ia kembali mengamati lelaki tersebut. “Apakah dia tidak pernah kenyang?”

“Pernah. Tetapi setiap kali kenyang, dia merasa ada sesuatu yang belum selesai.”

“Apa?”

“Keinginannya untuk makan lagi.”

Razman menggelengkan kepala. “Itu bukan lapar. Itu penyakit.”

Cepot tersenyum. “Mungkin. Tetapi di sini, Bos, tidak semua penyakit ingin disembuhkan oleh pemiliknya.”

Kalimat itu membuat Razman terdiam. Ia teringat masa ketika bisnisnya berkembang pesat. Semakin banyak uang yang diperolehnya, semakin banyak pula yang ingin ia miliki. Ia membeli kendaraan, menyewa rumah besar, dan menghabiskan uang di tempat-tempat hiburan. Setiap kali berhasil mendapatkan sesuatu, ia merasa bahagia. Namun, kebahagiaan itu sering kali hanya bertahan beberapa hari sebelum ia kembali mencari sesuatu yang lain. Ia dahulu menganggap keinginan tersebut sebagai tanda keberhasilan. Kini ia mulai bertanya-tanya apakah dirinya pernah benar-benar merasa cukup.

“Cepot,” katanya pelan, “menurutmu, apakah orang bisa menjadi miskin meskipun memiliki banyak uang?”

Lihat selengkapnya