Bab 6 - Orang yang Tidak Pernah Menang
Suara tawa dari pusat hiburan Baazela terdengar sampai ke jalan tempat Razman dan Cepot berdiri. Musik berdentum dari gedung-gedung tinggi. Lampu berwarna merah, ungu, dan keemasan menari di atas kepala mereka, membuat kota itu tampak seperti perayaan yang tidak pernah mengenal pagi.
Di kejauhan, sebuah papan raksasa berkedip-kedip.
*KASINO ABADI - SEKALI MASUK, TAK ADA YANG BENAR-BENAR PULANG DENGAN TANGAN KOSONG.*
Razman membaca kalimat itu dua kali.
“Menurutmu, maksudnya apa?” tanyanya.
Cepot mengangkat bahu. “Mungkin mereka memberi suvenir.”
“Di Neraka?”
“Di dunia juga begitu, bos. Orang masuk kasino membawa uang, keluar membawa pengalaman. Pengalaman itu biasanya bernama kebangkrutan.”
Razman tertawa kecil. Ia mulai terbiasa dengan cara Cepot memandang segala sesuatu. Di tengah tempat yang seharusnya menakutkan, temannya itu selalu menemukan celah untuk mengejek kehidupan. Kadang-kadang, ejekan Cepot terasa lebih menyakitkan daripada ancaman apa pun.
Mereka melangkah menuju gedung kasino.
Di depan pintu, berdiri dua patung manusia telanjang yang tubuhnya dilapisi emas. Patung pertama memegang sekantung uang. Patung kedua menggenggam sebuah tengkorak. Di antara keduanya tertulis kalimat yang diukir dengan huruf besar:
*YANG KAU PERTARUHKAN BUKANLAH UANGMU, MELAINKAN DIRIMU SENDIRI.*
“Lumayan filosofis,” kata Razman.
“Biasanya tulisan paling bijak dipasang di tempat yang paling tidak dipatuhi orang.”
“Seperti nasihat tentang kejujuran di kantor pemerintah?”
Cepot menoleh kepadanya.
“Wah, rupanya kau sudah mulai belajar banyak bos”
Pintu kasino terbuka dengan sendirinya. Di dalam, ribuan orang duduk mengelilingi meja-meja perjudian. Ada yang memainkan kartu, melempar dadu, memutar roda keberuntungan, dan menekan tombol mesin yang berkelap-kelip. Suara koin berjatuhan terdengar seperti hujan logam. Orang-orang bersorak setiap kali menang, lalu mengumpat ketika kalah.
Namun ada sesuatu yang ganjil. Sebagian pemain tampak sudah tua, tetapi wajah mereka tidak pernah benar-benar menua. Sebagian lain menangis sambil tertawa. Ada yang memeluk tumpukan uang dengan kedua tangan, seolah-olah benda itu dapat menggantikan seluruh kehilangan yang pernah dialaminya. Seorang lelaki kurus duduk di depan meja roulette. Kemejanya terbuka sampai ke dada, rambutnya kusut, dan matanya merah. Di depannya bertumpuk uang dalam jumlah besar.
“Lihat,” kata Razman. “Dia menang banyak.”
Cepot tidak menjawab. Lelaki itu meletakkan seluruh uangnya di atas angka tujuh. Roda berputar. Bola kecil melompat-lompat, lalu berhenti di angka tujuh. Lelaki itu berteriak kegirangan. Ia mengangkat kedua tangannya, memeluk seorang pelayan, kemudian tertawa sampai terbatuk-batuk.
“Lihat! Aku bilang juga apa! Aku selalu punya keberuntungan!”
Seorang petugas kasino datang membawa sebuah kotak hitam. Ia mengumpulkan seluruh uang di meja, termasuk uang yang baru saja dimenangkan lelaki itu. Lelaki tersebut mendadak terdiam.
“Hei! Apa yang kau lakukan?”
“Permainan Anda telah selesai,” jawab petugas itu.
“Tapi aku menang!”
“Benar.”
“Kalau begitu, uang itu milikku!”
Petugas itu tersenyum sopan. “Anda memenangkan permainan, Tuan. Bukan uangnya.” Lelaki itu berdiri, membanting meja, dan berteriak memanggil pengelola kasino. Dua petugas bertubuh besar mendekat. Mereka tidak memukulnya. Mereka hanya memegang kedua lengannya dan mengantarnya ke meja lain.
Di atas meja itu terdapat sebuah jam pasir raksasa. Pasir hitam mengalir dari bagian atas menuju bagian bawah. Lelaki tersebut didudukkan di hadapan jam pasir itu.
“Silakan lanjutkan permainan Anda,” kata petugas.
“Aku tidak punya uang!”
“Tidak masalah. Di sini, setiap orang selalu memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan.”
Petugas itu menunjuk jam pasir.
“Waktu Anda.”
Lelaki itu mendadak pucat. Razman merasakan tengkuknya meremang.
“Apa yang akan terjadi kepadanya?” bisiknya.
“Dia akan terus bermain,” jawab Cepot.
“Untuk apa?”
“Untuk mengembalikan apa yang sudah hilang.”
“Tapi dia tidak punya apa-apa lagi.”
Cepot menatap lelaki di depan jam pasir. “Justru itulah masalahnya. Orang yang kehilangan segalanya kadang-kadang masih percaya bahwa satu kemenangan lagi akan menyelamatkannya.”
Razman memperhatikan wajah lelaki itu. Ia mengenali ekspresi tersebut. Bukan karena pernah bermain judi, melainkan karena ia pernah melihatnya di wajah para pengedar yang terus menjual narkoba meskipun tahu bahwa suatu hari polisi akan datang. Ia juga pernah melihat ekspresi yang sama pada dirinya sendiri ketika masih menganggap uang sebagai jawaban untuk semua persoalan. Manusia, pikirnya, sering kali tidak kecanduan pada sesuatu yang menyenangkan. Mereka kecanduan pada harapan bahwa penderitaan mereka bisa dibatalkan oleh satu keputusan berikutnya.
“Bagaimana kalau dia berhenti?” tanya Razman. “Berhenti?” Cepot mengulang kata itu seperti baru mendengar istilah asing. “Kau pikir orang seperti itu datang ke sini untuk berhenti?”
Mereka meninggalkan meja roulette dan berjalan menuju ruang utama kasino. Di sana, sebuah layar besar menampilkan nama-nama pemain yang telah memperoleh kemenangan tertinggi. Di antara nama-nama itu, Razman melihat sesuatu yang aneh. Beberapa nama memiliki gelar panjang: mantan menteri, mantan gubernur, mantan anggota parlemen, mantan kepala badan, mantan pejabat pengadaan, dan berbagai jabatan lain yang terdengar akrab dari dunia yang telah ditinggalkannya.
Di bawah setiap nama tercantum jumlah kekayaan yang pernah mereka miliki. Namun kolom kemenangan mereka kosong.
“Kenapa nama-nama pejabat ada di sini?” tanya Razman.
Cepot mendekatkan wajahnya ke layar. “Barangkali karena mereka sudah terbiasa bermain dengan uang orang lain.”
Sebelum Razman sempat menjawab, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Tidak semua pejabat seperti itu, pak bos.”
Razman berbalik. Seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di hadapannya. Tubuhnya tegap, rambutnya tersisir rapi, dan jasnya tampak mahal meskipun terdapat noda hitam di bagian lengan. Sebuah pin berbentuk lambang negara masih menempel di dadanya. Wajahnya terlihat ramah. Senyumnya adalah jenis senyum yang mungkin pernah menghiasi baliho-baliho besar menjelang pemilihan umum.
“Aku memperkenalkan diri,” katanya. “Haji Wiratama. Dahulu anggota parlemen selama tiga periode. Pernah menjadi ketua komisi, kemudian wakil menteri. Aku juga pernah mencalonkan diri sebagai gubernur.”
“Dan sekarang?” tanya Razman.
“Sekarang aku sedang menunggu kesempatan.”
“Kesempatan apa?”
Haji Wiratama menunjuk meja roulette. “Kesempatan untuk menang lagi.” Ia tertawa, seolah-olah baru saja mengucapkan lelucon yang sangat cerdas.
Cepot menggaruk kepalanya. “Bukankah Anda sudah mati?” “Secara administratif, mungkin.”
“Secara moral?”
Senyum Haji Wiratama sedikit menyusut. “Kau anak muda yang kurang sopan.”
“Maaf, Pak. Saya dibesarkan oleh keadaan.”
Razman hampir tertawa, tetapi ia menahannya. Ia ingin mengetahui siapa sebenarnya lelaki itu dan mengapa namanya tercantum di layar para penjudi.
“Bapak kehilangan banyak uang di sini?” tanyanya.
Haji Wiratama mengibaskan tangan. “Uang? Aku tidak pernah terlalu memikirkan uang. Aku hanya tertarik pada permainan. Dulu di dunia, untuk bermain judi di kasino kita harus pergi jauh, ke Macau ataupun ke Las Vegas. Paling dekat ke Genting Malaysia. Sekarang disini semua lengkap…ha..ha..ha.”
“Permainan apa?”
“Kekuasaan.”
Ia mengucapkan kata itu dengan kebanggaan yang tidak disembunyikan. “Di dunia, orang mengira politik adalah tentang pelayanan. Padahal politik adalah permainan. Kau harus tahu kapan berbicara, kapan diam, siapa yang harus dirangkul, siapa yang harus dikorbankan, dan berapa harga yang pantas untuk setiap keputusan.”
“Kalau begitu, Bapak menganggap rakyat sebagai bidak?”
“Jangan terlalu sederhana. Rakyat itu pemilih. Mereka punya suara. Kita hanya perlu memastikan suara mereka bergerak ke arah yang benar.”
Razman merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Ia pernah mendengar kalimat serupa, meski tidak pernah diucapkan seterang itu.
“Bagaimana dengan janji-janji Bapak kepada rakyat?”
“Janji adalah bagian dari kampanye.”
“Dan setelah terpilih?”
“Setelah terpilih, keadaan berubah.”
“Berubah bagaimana?”
Haji Wiratama menghela napas panjang, seperti seorang guru yang sedang menghadapi murid lamban. “Anggaran terbatas. Kepentingan banyak. Mitra politik harus diperhatikan. Pengusaha membutuhkan kepastian. Partai membutuhkan biaya. Pegawai membutuhkan jabatan. Kalau semua orang ingin memperoleh sesuatu, bagaimana mungkin seorang pejabat bisa memuaskan semuanya?”
“Dengan tidak mengambil uang yang bukan haknya?” kata Razman.
Haji Wiratama memandangnya beberapa saat. Lalu ia tertawa. Tawanya tidak keras. Justru karena itulah terdengar lebih menjengkelkan.
“Kau pernah menjadi orang baik?”
Pertanyaan itu membuat Razman terdiam.
“Aku pernah menjadi pengedar narkoba,” jawabnya akhirnya. “Aku tahu bagaimana rasanya mencari pembenaran atas sesuatu yang salah.”
“Bagus. Berarti kau memahami persoalanku.”
“Tidak, Pak. Saya justru sedang berusaha memahami bagaimana Bapak bisa merugikan begitu banyak orang dan tetap merasa tidak bersalah.”
Senyum di wajah Haji Wiratama menghilang. Untuk pertama kalinya, Razman melihat kemarahan di balik penampilan santun lelaki itu. “Merugikan rakyat?” katanya. “Apa yang kau ketahui tentang mengelola sebuah negara? Kau pikir keputusan bisa dibuat hanya dengan mengikuti perasaan? Kadang-kadang, kita harus memilih siapa yang akan menerima akibat buruk.”
“Lalu siapa yang biasanya menerima akibat itu?”
“Orang-orang yang tidak memahami persoalan besar.”
“Orang miskin?”
Haji Wiratama tidak menjawab. “Petani yang kehilangan tanah karena proyek yang tidak pernah mereka setujui?” lanjut Razman. “Nelayan yang kehilangan tempat mencari ikan karena kebijakan yang dibuat tanpa mendengar mereka? Warga yang harus hidup di daerah banjir karena tata ruang diubah demi kepentingan pengembang? Anak-anak yang sekolahnya rusak sementara anggarannya habis sebelum pembangunan selesai?”
“Semua pembangunan memiliki risiko.”
“Dan siapa yang menerima keuntungannya?”
“Negara.”
“Negara yang mana, Pak? Negara yang hidup di atas kertas laporan, atau negara yang dihuni orang-orang yang harus membayar akibatnya?”
Haji Wiratama melipat kedua tangan di dada. “Bahasamu bagus. Kau bisa menjadi politisi.”
“Tidak, terima kasih. Saya sudah cukup lama hidup dengan kebohongan saya sendiri.”
Cepot terkekeh. “Dengar itu, Pak. Dia menolak karier yang bahkan di Neraka masih punya prospek.”
Haji Wiratama melirik Cepot dengan jijik. “Orang seperti kalian selalu mudah menyalahkan pemimpin. Kalian tidak tahu betapa rumitnya mengatur masyarakat.”
“Benar,” kata Razman. “Saya tidak tahu cara mengatur masyarakat. Tetapi saya tahu bahwa ketika saya menjual narkoba, orang-orang yang kecanduan tidak menjadi tidak bersalah hanya karena saya memberi mereka barang yang mereka inginkan.”
Lelaki itu terdiam. “Saya bisa mengatakan mereka memilih sendiri. Saya bisa mengatakan saya hanya memenuhi permintaan pasar. Saya bahkan bisa mengatakan uang yang saya hasilkan membantu keluarga dan tetangga. Semua itu mungkin benar. Tetapi tidak menghapus kenyataan bahwa saya ikut merusak hidup orang lain.”
Razman berhenti sejenak. “Kenapa Bapak tidak bisa mengatakan hal yang sama?”
Di sekeliling mereka, suara kasino mendadak terasa lebih jauh. Haji Wiratama menatap Razman seolah-olah sedang mencari celah untuk menyerang. “Karena skala perbuatanku berbeda.”
“Berbeda dalam hal apa?”
“Aku bekerja dalam sistem.”
“Apakah sistem yang membuat keputusan itu, atau Bapak yang menandatangani keputusan tersebut?”
“Keputusan tidak pernah dibuat oleh satu orang.”
“Benar. Tapi seseorang tetap harus bertanggung jawab atas bagiannya.”