Petualangan di Neraka

Saparuddin Santa
Chapter #7

Bab 7 - Perempuan yang Mengubah Jalan

Bab 7 - Perempuan yang Mengubah Jalan

Malam di Baazela tidak pernah benar-benar berakhir. Di kota itu, langit selalu berada pada warna yang sama: hitam kebiruan dengan semburat merah di balik awan. Tidak ada matahari yang terbit, tidak ada embun yang jatuh di atas rumput, dan tidak ada ayam yang berkokok untuk mengingatkan manusia bahwa waktu telah bergerak. Lampu-lampu gedung menggantikan bintang. Musik menggantikan suara alam. Tawa menggantikan kesunyian. Bahkan kesedihan, jika muncul terlalu lama, seolah-olah dianggap sebagai gangguan ketertiban umum.

Razman berjalan mengikuti Cepot melewati sebuah lorong yang menghubungkan kasino dengan kawasan hiburan malam. Di kiri-kanan mereka berdiri bangunan dengan pintu berwarna merah, ungu, dan emas. Perempuan-perempuan berpakaian indah berdiri di balik kaca, menyapa setiap lelaki yang melintas. Di beberapa pintu, terpampang tulisan dalam berbagai bahasa.

*KEPUASAN TANPA PERTANYAAN*

*CINTA TANPA KEWAJIBAN.*

*MALAM YANG TIDAK AKAN KAU LUPAKAN.*

Razman berhenti di depan sebuah pintu yang dihiasi bunga-bunga plastik. “Ini tempat apa?” tanyanya, meskipun ia sebenarnya sudah tahu.

Cepot memandang tulisan di atas pintu. “Tempat orang membeli sesuatu yang sering mereka sebut cinta, tetapi tidak ingin membayar dengan kesetiaan.”

“Jangan mulai dengan filsafatmu.”

“Baik. Ini rumah pelacuran.”

Cepot mengatakannya begitu santai sehingga Razman merasa perlu memeriksa apakah temannya itu sedang bercanda.

“Kenapa kita ke sini?”

“Karena aku lapar.”

Razman menoleh kepadanya. “Di tempat pelacuran?”

“Apa salahnya? Aku pernah mendengar orang berkata bahwa cinta bisa membuat kenyang.”

“Kau tidak sedang mencari makanan.”

“Kalau begitu, mungkin aku sedang mencari pengetahuan.”

Razman menggeleng. Ia sudah belajar bahwa berdebat dengan Cepot sering kali seperti mencoba menangkap asap dengan kedua tangan. Setiap kali ia hampir menemukan jawaban, temannya itu sudah berpindah ke persoalan lain. Mereka melewati pintu. Di dalam, sebuah ruang luas dipenuhi sofa beludru, lampu gantung, dan cermin-cermin tinggi. Musik terdengar lembut. Para pengunjung duduk bersama perempuan-perempuan yang tersenyum dengan keramahan yang tampak terlatih. Tidak ada teriakan, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada suasana menyeramkan seperti yang dibayangkan Razman ketika pertama kali mendengar kata Neraka. Justru itulah yang membuatnya tidak nyaman. Ia pernah mengira Neraka akan dipenuhi api, jeritan, dan makhluk-makhluk mengerikan. Namun di Baazela, orang-orang terlihat begitu bahagia sampai-sampai ia mulai curiga bahwa kebahagiaan pun bisa digunakan sebagai alat untuk menyembunyikan sesuatu.

Seorang perempuan yang terlihat muda mendekati mereka. Wajahnya ceria, matanya memancarkan sinar ajakan, semacam gairah.

“Selamat malam. Apakah Tuan berdua ingin menikmati layanan kami?”

Cepot mengangkat tangan. “Terima kasih. Saya sedang berusaha mengurangi dosa.”

Perempuan itu tersenyum profesional. “Di sini, Tuan tidak perlu memikirkan dosa.”

“Itulah yang membuat saya khawatir.”

Perempuan itu tidak mengerti, atau berpura-pura tidak mengerti. Ia mempersilakan mereka duduk di sebuah sofa dekat tangga. Razman memperhatikan wajah-wajah yang berlalu-lalang. Beberapa perempuan terlihat muda. Yang lain lebih dewasa. Semuanya berpakaian indah, dengan riasan yang membuat mereka tampak seolah-olah baru saja keluar dari halaman majalah. Namun ada sesuatu yang sama pada mata mereka. Mereka tersenyum kepada para tamu, tetapi tidak seorang pun tampak benar-benar hadir dalam senyumnya sendiri.

“Apakah mereka semua dipaksa bekerja di sini?” bisik Razman.

Cepot tidak segera menjawab. “Tidak semuanya,” katanya akhirnya. “Sebagian datang karena ingin menikmati sesuatu. Sebagian karena tidak punya pilihan lain. Sebagian lagi datang karena percaya bahwa di sini mereka bisa memperoleh apa yang tidak pernah mereka dapatkan di dunia.”

“Dan setelah masuk?”

“Mereka menemukan bahwa keinginan manusia bisa berubah menjadi rantai.”

Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di ujung tangga. Rambutnya hitam berkilau, wajahnya nyaris tanpa keriput, dan tubuhnya terawat dengan sempurna. Gaunnya berwarna biru gelap. Ia tidak mengenakan perhiasan berlebihan, tetapi cara orang-orang menyingkir ketika ia lewat menunjukkan bahwa perempuan itu memiliki kedudukan penting.

Ia berhenti ketika melihat Razman. Tatapannya berubah. Bukan karena mengenal Razman, melainkan karena ia seperti melihat sesuatu yang sudah lama hilang dari tempat itu: seseorang yang masih mampu memandang tanpa langsung menginginkan.

Perempuan itu mendekat. “Kalian orang baru?”

Cepot mengangguk. “Kalau yang dimaksud baru di Neraka, iya. Kalau baru dalam urusan membuat masalah, saya tidak berani menjamin.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Namaku Lisa. Lengkapnya Monaisa Pangestu”

“Razman,” jawab Razman. “Ini Cepot.”

“Aku tahu siapa kalian.”

Razman mengerutkan kening. “Bagaimana bisa?”

“Di Baazela, orang-orang baru selalu menarik perhatian. Terutama mereka yang masih memiliki rasa ingin tahu.” Lisa mempersilakan mereka mengikuti sebuah koridor di belakang ruang utama. Mereka melewati pintu-pintu kecil, sebuah kantor dengan beberapa penjaga, lalu sebuah ruangan yang jauh lebih tenang daripada tempat sebelumnya.

Di sana terdapat meja kayu, rak buku, dan jendela besar yang menghadap ke jalan utama. Tidak ada musik. Tidak ada tamu. Hanya sebuah jam dinding yang bergerak tanpa suara.

Lisa menutup pintu. “Kalian tidak seharusnya terlalu banyak bertanya di tempat ini,” katanya.

Cepot duduk di sebuah kursi. “Kalau begitu, kami datang ke tempat yang tepat. Kami memang ahli dalam melakukan hal yang tidak seharusnya.”

Lisa tidak tertawa. “Aku sudah lama menunggu seseorang yang mau mendengarkan.”

Razman memperhatikan perempuan itu. Dari dekat, ia bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat dari kejauhan. Wajah Lisa memang cantik, tetapi matanya menyimpan kelelahan yang tidak sesuai dengan penampilannya.

“Berapa umurmu?” tanyanya.

Lisa tersenyum kecil. “Lima puluh tahun.”

Razman terkejut. “Lima puluh?”

“Apakah menurutmu aku terlalu tua?” Lisa menatap dengan wajah anggun. Ia suadha bisa menduga keterkejutan Razman.

“Bukan begitu. Aku hanya…” kata-kata Razman seperti tercekat. Secepat ini pesonanya merengkuhku, hati Razman berdesir.      

“Tidak melihat kerutan di wajahka?” Kata Lisa seolah membaca pikiran Razman

Razman tidak menjawab. Lisa mendekati cermin besar di dinding. Ia mengamati pantulan wajahnya sendiri, lalu menyentuh pipinya dengan ujung jari.

“Dulu, aku juga terkejut ketika mengetahui bahwa tubuhku tidak akan menua lagi.”

Ia menarik napas panjang. “Pemilik Baazela memberikan hadiah ini kepadaku. Kecantikan abadi. Kulitku tidak akan keriput, rambutku tidak akan memutih, dan tubuhku tidak akan kehilangan daya tariknya. Bahkan ketika puluhan tahun berlalu, wajahku akan tetap seperti saat aku pertama kali memasuki kota ini.”

“Kenapa kau diberi hadiah seperti itu?” tanya Razman.

“Karena aku dianggap berjasa.”

“Berjasa dalam hal apa?”

Lisa menatapnya. “Aku mengelola rumah pelacuran. Aku mengatur perempuan-perempuan, pelanggan, uang, keamanan, dan hubungan dengan para pejabat Baazela. Selama bertahun-tahun, aku memastikan bahwa bisnis ini berjalan lancar. Aku tahu siapa yang harus diberi uang, siapa yang harus disenangkan, dan siapa yang harus ditakuti.”

“Jadi kau seorang mucikari?”

Lisa mengangguk. “Aku tidak akan berpura-pura menjadi orang baik di hadapanmu.”

Razman menghargai kejujuran itu, meskipun ia tidak tahu harus berkata apa.

“Lalu apa yang berubah?”

Lisa berjalan menuju jendela. “Awalnya, aku mengira kecantikan abadi adalah anugerah. Aku bisa mempertahankan wajah yang membuat orang-orang memperhatikanku. Aku tidak perlu takut menjadi tua, kehilangan pelanggan, atau tersingkir oleh perempuan yang lebih muda. Aku bisa terus memegang kendali.”

Ia berhenti sejenak. “Tetapi kemudian aku menyadari bahwa ada harga yang harus kubayar.”

“Berapa?”

“Seluruh sisa hidupku.”

Razman memandangnya dengan bingung. Lisa menunjuk ke arah jendela, ke jalan-jalan Baazela yang berkilauan. “Di luar kota ini, para penghuni Neraka menjalani hukuman mereka. Ada yang harus berjalan melewati padang tandus, ada yang hidup dalam kesunyian, ada yang menghadapi kembali akibat dari perbuatan mereka, dan ada pula yang hanya menunggu waktu berlalu tanpa hiburan apa pun. Mereka harus tinggal di luar Baazela selama bertahun-tahun, sesuai hukuman masing-masing.”

“Lalu mereka masuk ke sini untuk melupakan penderitaan?” Razman mengerti arah penjelasan Lisa

“Ya. Satu jam di Baazela sama dengan satu tahun di luar kota ini.”

Razman terdiam. Ia sudah mengetahui aturan itu. Namun baru sekarang ia mulai memahami bagaimana aturan tersebut bisa menghancurkan seseorang.

“Jadi, jika seseorang menghabiskan satu hari di sini…”

“Dua puluh empat tahun hukuman di luar kota akan ditambahkan kepadanya.”

Razman seperti mengingat pertanyaan besar dikepalanya sesaat sebelum melangkahkan kaki masuk ke Gerbang Baazela. Saat itu, pertanyaannya tak mendapat jawaban dari Cepot. Ia menanyakan ulang ke Lisa.

“Lalu apa yang membuat orang-orang harus risau jika kehidupan disini bisa memenuhi semua kesenangan?”

Lisa memperhatikan kedalam mata Razman, mencoba menebak tujuan Razman bertanya. Ia lalu melirik Cepot, tapi Cepot hanya bersiul pelan, berpura-pura tidak memahami kerisauan mantan bosnya didunia.

“Aapa anda punya keluarga di dunia? Istri…Anak…Ibu…Ayah…atau seeorang yang sangat berharga dalam kehidupan anda di dunia?”

“Maksud anda?” Rasman benar-benar belum paham.

“Anda tidak punya keinginan berkumpul bersama mereka ditempat yang anda idam-idamkan? Di surga misalanya…”

Cepot melirik Razman. Razman memndang lama Lisa. Menelusuri kedalaman mata Lisa dan mencoba memahami arah penjelasaannya. Lalu semenit kemudian Razman berdiri mendekati Lisa yang berdiri memandang keluar jendela Baaleza.

Lihat selengkapnya