Suara derit kursi kayu di teras rumah selalu terdengar seperti intro film horor bagiku. Setiap Jumat sore, setelah menempuh perjalanan satu jam menggunakan motor matic milikku, aku akan duduk di sana, menyesap teh hambar. Mataku menatap tanaman bunga mawar yang kutanam bulan lalu basah oleh hujan yang baru saja turun. Diantara riuhnya suara hujan sore ini, telingaku terbuka lebar, bersiap menerima 'warisan' mingguan dari Ibu.
"Kamu sudah lihat postingan Ibu tirimu di facebook?" Ibu memulai pembicaraan tanpa basa-basi. Jemarinya yang mulai mengerut ia gunakan untuk memetik tangkai bayam, sayur untuk kami sekeluarga sore ini. Mata yang nampak lelah itu tidak menatapku.
"Bella dibelikan motor baru oleh ayahmu.” Lanjutnya tanpa menunggu jawabku. “Padahal dulu waktu kamu masuk SD, Sewaktu Ayahmu izin merantau, dia pernah janji mau beli sepeda supaya kamu semangat ke sekolah. Kamu sudah riang sekali hari itu, ribut minta warna dan model yang sama seperti Nia. Tapi nyatanya dia malah kabur sama perempuan itu." Suaranya terdengar datar, namun aku tahu ada badai yang tengah ia redam di dalam sana. Suara itu penuh dengan getar luka yang masih basah meski belasan tahun telah berlalu.
Cengkramanku pada gelas teh itu mengerat. Cerita itu, jelas aku masih sangat mengingatnya. Usiaku belum genap tujuh tahun kala itu, sama sekali tak mengerti apa yang terjadi. Aku tak mengerti mengapa ayah memelukku cukup lama. Yang ku tahu ayah hanya berjanji akan membelikan sepeda baru. Lalu saat ayah berjalan menjauh, aku mengejarnya, bahkan sampai terjatuh. Ayah sama sekali tak berbalik untuk menolongku. Bahkan tangisanku pun tak membuatnya ingin menoleh sedikitpun. Seolah ia sangat niat untuk meninggalkanku dan ibu.
Aku tersenyum kecut. Luka itu sudah mengeras, tak lagi berdarah, tapi bekasnya permanen. Aku tidak pernah memimpikan hadiah apapun lagi sejak itu. Ku sesap teh hambar yang di buat Ibu, barangkali bisa merendakan rasa perih yang menjalar di ulu hati.
"Yang ku dengar, Bella diterima di perusahaan besar disana, Bu. Mungkin motor itu sebagai hadiah sekaligus transportasi Bella nanti sewaktu kerja." Kataku hati-hati, tak ingin terlihat seperti membela. Hanya ingin sedikit memberi kalimat penenang, agar hati tak semakin memendam kesal. Bukan hanya untuk ibu, tapi juga untukku.
Rasanya tak pantas jika aku merasa iri pada hal-hal yang kini bisa ku usahakan sendiri, bahkan aku bisa membelinya secara cash jika mau.
“Perusahaan besar apa? Kamu dulu bahkan lulus cumlaude, Dis. Kurang dari sebulan sudah diterima di perusahaan akuntan yang tempatmu kerja sekarang. Bahkan lebih besar dan bergengsi. Tapi jangankan hadiah, ucapan selamat dari Ayahmu saja datang dua hari setelahnya. Itupun lewat whatsapp.” Sungut Ibu, terlihat sangat kesal. Jemarinya yang sudah mulai keriput itu, ia bawa untuk menunjuk kearah garasi rumah, dimana motor matic milikku yang sudah ketinggalan jaman itu terparkir rapi.