Aku menarik nafas panjang. Ku pulas lebih banyak concealer di bawah mata untuk menutupi bengkak disana. Mood-ku belum juga membaik. Ku putuskan untuk pergi keluar barang sejenak. Selain untuk menghirup udara segar, pergi dari rumah menjadi alibi mengapa aku berdandan sepagi ini jika ditanya Ibu. Dirumah ini, kesedihan yang terlalu berisik akan mengundang interogasi yang melelahkan.
Sebelum keluar kamar, ku buka kembali ponsel yang sejak semalam ku acuhkan. Ada rentetan pesan dan panggilan tak terjawab dari Alam. Baru saja membukanya, layar ponsel itu berubah menjadi panggilan telepon. Nama Alam terpampang jelas di layarnya.
Setelah menghela nafas berkali-kali. Aku memutuskan untuk mengangkatnya. Pasti lelaki itu sulit tidur karena pesannya ku acuhkan semalaman.
"Hallo, Dis?"
Suara Alam mengalun lembut menyapa indra pendengaran. Ku jawab panggilannya dengan singkat, tenggorokan ku terasa tercekat, sulit sekali mengeluarkan suara.
"Kamu nggak apa-apa kan? Pesan Mas semalam cuma kamu baca, telpon mas juga dari semalam nggak diangkat. Mas takut kamu kenapa-napa. Nggak biasa kamu begitu."
Terdengar nada khawatir dari suaranya. Aku menahan napas. Ingatanku kembali pada pesan Alam semalam. Otakku otomatis berfikir cepat, mencari alasan yang masuk akal tanpa menyakiti Alam.
"Maaf ya, semalam setelah baca pesanmu, aku dipanggil Ibu, diajak ngobrol sama bapak juga sampai malem, setelah itu langsung tidur tanpa ngecek ponsel."
Helaan nafas lega terdengar dari sebrang telpon. Lalu, Alam kembali melanjutkan ucapannya, "syukurlah kalo gitu. Mas pikir ada apa-apa. Soal yang semalam itu, Ibu benar-benar bersemangat, Dis. Katanya, kalau kamu ada waktu luang minggu depan, kita cari cincinnya ya? Mas ingin kamu pilih yang paling kamu suka, yang nyaman dipakai kerja juga."
Aku tercekat. Di kepalaku, suara Ibu kemarin sore kembali terngiang. Tentang Ayah dan Bapak yang dulu royal di awal, tentang mereka yang begitu menjanjikan masa depan cerah, tapi nyatanya malah membawa ibu ke jurang penderitaan. Ketakutan itu kembali menyusup ke sanubari. Tanganku berkeringat dingin. Bayangan tentang Alam di masa depan yang bersikap seperti Ayah dan Bapak otomatis terlintas di kepala.
"Mas," panggilku lirih. Suaraku terdengar serak. Seolah ada tali yang mengikat leher. Ku basahi kerongkongan ku dengan air liur. "Apa nggak terlalu cepat? Maksudku, soal perhiasan dan lainnya. Kita kan baru bicara soal rencana, belum benar-benar melangkah."
"Mas rasa rencana-rencana kita soal masa depan sudah sangat jelas, Dis. Mas mau persiapkan pelan-pelan. Mas nggak mau nanti kamu merasa kekurangan atau merasa Mas nggak menghargai kamu dengan nggak memberimu kepastian. Hubungan kita udah terjalin lama. Mas ingin memberikan yang terbaik yang Mas bisa."
Ketakutan itu semakin menguasai. Aku takut yang terbaik menurut Alam itu akan berubah setelah kami menikah. Aku mencintai Alam, sangat. Dan aku takut cintaku akan menjebakku masuk kedalam nestapa. Aku takut rencana yang kami rajut bersama menjadi jaring kesakitan yang akan membawaku ke dalam jurang penderitaan.
"Gimana kalo kita omongin nanti, setelah aku udah disana. Rasanya, banyak yang harus kita obrolin, Mas. Lagian, aku belum bilang sama Bapak Ibu." Kataku dengan suara bergetar.
Di sebrang telpon, Alam terdiam. Aku tak bisa menebak isi pikirannya. Tapi ku harap, dia tidak merasa aku menolaknya.
Setelah diam cukup lama, suaranya yang terdengar penuh pemahaman itu kembali mengalun memasuki indra pendengaran. "Ya sudah kalo begitu. Perlu Mas jemput besok?"