Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #3

3. Selisih 2 Milyar dan Janji Masa Depan

Jam sudah menunjukkan pukul 20.15 ketika ponselku yang berada di dekat tumpukan berkas itu berdenting, ada sebuah pesan masuk. Aku langsung mengetahui Alam-lah si pengirimnya. Notifikasi darinya sengaja ku bedakan dari yang lain.

Pesan itu hanya berisi ingatan untuk jangan lupa makan malam. Aku mengabaikannya. Fokus ku masih berada pada deretan angka di kolom Excel, juga bertumpuk berkas audit diatas meja kerjaku. Ku abaikan juga rasa perih di lambung karena belum terisi makanan sedari siang. Hanya bergelas-gelas kopilah yang menemaniku hari ini.

Di lantai tiga gedung kantor ini, suasana penuh dengan hiruk-pikuk, begitu sibuk. Ada laporan yang harus dikirim ke klien esok hari. Ditengah bunyi printer yang berdengung, denting ponselku kembali terdengar. Alam kembali mengirim pesan. Kali ini bertanya pukul berapa ia bisa menjemputku.

Ku lepas kacamata yang bertengger manis di hidung bangirku. Dengan bersandar pada kursi kerja barang sejenak, aku memilih membalas pesan Alam. Ku lirik tumpukan berkas audit juga layar komputer, menghitung berapa lama lagi aku bisa menyelesaikannya. Jemariku dengan lincah bergerak diatas layar benda pipih itu, mengetik pesan balasan. Kurang lebih satu jam lagi Alam bisa menjemput.

Namun belum juga aku memencet tombol kirim, Sita, salah satu juniorku di perusahaan akuntan ini datang dengan wajah pucat, tampak sangat frustasi.

"Mbak Dis, maaf banget. Data inventory dari klien manufaktur kita ada selisih dua miliar. Aku sudah cek sampling-nya, tapi tetap nggak ketemu matching-nya."

Aku langsung menegakkan tubuh. Bayangan akan segera pulang dan berendam air hangat sirna sudah, berganti dengan angka-angka yang kembali mengisi kepala yang kini mulai berdenyut sakit.

"Dua miliar? Sit, kita deadline besok pagi untuk preliminary report."

Sita berdiri di depan ku dengan tatapan nelangsa. Wajahnya tampak sekali ingin menangis. Sebagai fresh graduate yang baru saja berkerja di perusahaan akuntan belum genap setahun, bertemu dengan selisih sebanyak ini menjadi pengalaman baru baginya. Aku pernah berada di posisinya. Rasa takut salah, takut dimarahi atasan dan klien, juga takut dicap tidak kompeten terus menghantui.

Sebagai senior, akulah yang harus menenangkan suasana. Meski kepalaku makin berdenyut ketika melihat kertas kerja yang diangsurkan Sita dengan tangan gemetar itu tampak banyak tanda merah.

"Sit, tenang dulu," kataku, berusaha menenangkan suasana meski denyut di pelipis kian kencang. "Jangan panik. Panik cuma bikin kita makin ceroboh dan melewatkan detail kecil."

Aku meraih kacamata yang ku lepas tadi, lantas membuka file besar di layar monitor, mulai membandingkan saldo akhir fisik dengan catatan sistem. "Kamu cek bagian Goods in Transit. Seringkali selisih besar begini cuma masalah cut-off tanggal pengiriman yang belum tercatat di gudang penerima. Aku akan bantu sisir transaksi diatas satu milyar di buku besar. Kalau perlu, bongkar stock opname dari awal, kita harus cari datanya sampai dapat, jangan sampai ini masuk ke management letter tanpa penjelasan."

Sita mengangguk cepat, wajahnya sedikit lebih tenang meski masih pucat. Ia segera kembali ke kubikelnya, memulai pertempuran dengan angka-angka itu sekali lagi.

Aku meraih ponselku lagi. Pesan untuk Alam yang sudah ku ketik rapi di layar ponsel—Jemput jam sembilan ya, Mas— akhirnya kuhapus kembali. Dengan helaan napas panjang, aku menggerakkan jemariku secepat kilat, membalas pesan Alam.

Disa : dataku selisih 2M mas, kayaknya bakal malem banget pulangnya. Mas nggak usah jemput deh, aku naik ojol aja. Selamat istirahat mas, love you.


***

Aku menggeser kursor dengan cepat. Mataku yang sudah terasa perih karena berjam-jam memandangi layar monitor itu ku paksakan untuk mencari transaksi yang sudah ku filter diatas satu milyar. Membacanya secepat kilat satu-persatu, mencari data yang hilang. Gerakan jemariku berhenti pada satu kode transaksi yang terasa asing. Aku memperbesar layar excel, membacanya sekali lagi.

Lihat selengkapnya