"Good job Disa, kamu nggak pernah mengecewakan." Pujian pak Beny yang disertai tatapan bangga di ruang meeting tadi terus terngiang di ingatan. Senyumku terus tersungging selama dijalan. Di depan tim audit juga klien, pak Beni selaku manager itu menepuk pundakku, memuji ketelitian ku dalam menemukan selisih angka yang luput dari pengamatan. Pujian itu harusnya cukup menjadi amunisi kebahagiaan untuk seminggu kedepan.
Ada sebuah rasa bangga yang membuncah. Aku seolah mendapat validasi bahwa aku bukan hanya sekedar skrup kecil di mesin perusahaan, melainkan seorang individu yang kompeten.
Saking asiknya me-reply adegan di ruang meeting tadi dalam ingatan, kendaraan roda dua yang ku naiki sudah sampai di depan sebuah cafe yang tak jauh dari kantor.
Siang ini, aku ada janji temu dengan Lisa, sahabat dekatku sejak masa SMA. Bahkan kami pernah tinggal dalam satu kost meski bekerja di tempat yang berbeda. Lisa pindah tempat tinggal begitu ia menikah. Sejak itu, kami jarang bertemu karena kesibukannya mengurus anak juga suami. Namun komunikasi kami masih berjalan lancar.
Lisa melambaikan tangan begitu melihatku memasuki cafe. Aku langsung menghampirinya, memeluknya singkat untuk melepas rindu. Sudah lebih dari sebulan kami tidak bertemu.
Kami memesan beberapa makanan juga minuman untuk menemani obrolan siang ini. Ditengah makan siang, Lisa membuka suara memulai pembicaraan.
"Sorry ya ketemunya harus di jam istirahat gini. Kalo pulang kerja gue sibuk ngurus anak sama suami." Kata Lisa tak enak hati.
"It's okay, gue ngerti kok. Pasti Nael juga lagi aktif-aktifnya."
"Jelas, gue sampe capek ngurusnya. Pulang kerja langsung disambut mainan Nael yang udah nyebar seruangan. Belum lagi mas Gusti yang kadang request menu makan malem aneh-aneh. Habis makan, gue masih harus ngurus Nael yang rewel mau tidur. Besoknya harus bangun pagi buat nyiapin sarapan buat mereka. Capek banget, Dis. Kadang gue kangen masa-masa kita dulu. Bangun siang, cari sarapan diluar, pulang kerja langsung rebahan." Keluh Lisa sambil memijat pangkal hidungnya. Gurat lelah nampak sekali di wajahnya. Wajah yang dulu selalu berseri dan disukai banyak pria itu, sekarang nampak begitu kuyu. Aku sampai tidak tega melihatnya.
"Tapi pernikahan lo baik-baik aja kan, Lis?" Entah kenapa pertanyaan itu terucap begitu saja. Mendengar cerita Lisa, aku langsung teringat Ibu.
Lisa menghentikan makannya. Ia menaikkan sebelah alisnya sambil menatapku, membuatku langsung meralat kalimatku. "Maksud gue, lo bahagia dan nggak menyesal dengan keputusan lo untuk nikah sama mas Gusti kan?"