Biasanya setiap malam, jika tidak sedang lembur, aku akan melakukan panggilan video atau sekedar suara dengan Ibu. Namun malam ini, aku memilih mengikuti kata Lisa. Karena jelas yang ku tahu, setiap mengobrol dengan Ibu, beliau akan kembali menceritakan kisah rumah tangganya yang tidak pernah beruntung.
Percakapan dengan Lisa juga membuat rasa rindu pada Alam tiba-tiba menyusup masuk. Biasanya, Alam akan menjadi pihak pertama yang menghubungiku. Kali ini, dengan kesadaran penuh, aku melakukan sesuatu yang biasa Alam lakukan.
Sambil menunggu panggilan video dari Alam tersambung, aku iseng membuka status WhatsApp. Nama Lisa ada di barisan paling atas.
Sebuah vidio singkat, dimana Nael dan Gusti tengah membuat keonaran didapur. Di dalam video, Lisa mengatakan kedua laki-laki itu tengah membuatkannya makan malam. Lisa juga mengunggah foto kedua laki-laki yang berarti dihidupnya itu tengah mencium pipinya. Foto itu dibubuhi sebuah caption manis "my safe place. Rezeki itu bukan hanya tentang uang, dikelilingi orang-orang yang menginginkan kehadiran kita dan memperlakukan kita dengan baik juga termasuk rezeki."
Aku tertegun. Caption Lisa seolah menyindirku. Tapi dilubuk hatiku paling dalam, aku ingin berada di posisi Lisa. Memiliki keluarga kecil yang bahagia.
Belum sempat aku merenung lebih jauh, layar ponselku berubah, menampilkan wajah Alam yang tengah meringis karena Nata, keponakannya, tengah berusaha menaiki punggungnya dan menjadikan rambutnya sebagai pegangan.
"Nata lihat, tante cantik lagi liatin kita." Kata mas Alam berusaha menarik atensi Nata.
"Ih ada kesayangan Nata." Teriak Nata girang.
Aku langsung tertawa mendengar kalimat Nata. Kebiasaan Alam yang memanggilku 'sayang' di depan Nata, membuat anak laki-laki berusia tiga tahun itu meniru omnya.
"Hallo kesayangan tante,"
Gambar di ponselku terlihat tidak beraturan, dikarenakan dua laki-laki berbeda usia itu tengah berebut. Suara mereka terdengar berisik, tidak ingin kalah. Aku langsung menggelengkan kepala.
Alam baru mau mengalah ketika Nata terdengar ingin menangis. Lalu layar ponsel itu menampilkan wajah keduanya yang terlihat menggemaskan, meski wajah Nata terlihat lebih mendominasi di layar.
Nata terus berceloteh, menceritakan ini dan itu. Di belakangnya, Alam tampak cemberut. Kesal karena Nata memonopoli-ku. Meski begitu, dia mengusap rambut Nata dengan sayang.
Ada saja tingkah Nata yang membuat Alam repot. Kali ini, anak itu ingin menunjukkan padaku jika ia memiliki kuda, yang tidak lain adalah Alam. Pemuda yang sangat disegani di kantor itu tampak pasrah ketika keponakannya menaiki punggungnya dan menjadikan rambutnya sebagai pegangan.
Di layar ponselku, Alam tampak begitu berantakan dalam cara yang paling indah. Rambutnya yang biasanya klimis dan tertata tegas setiap kali ia bersiap ke pengadilan, kini mencuat ke segala arah akibat tarikan tangan mungil Nata. Namun, tak ada gurat kekesalan sedikit pun di wajahnya. Sebaliknya, ia tertawa lepas—tawa rendah yang hangat yang membuat perutku terasa seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu.
Aku tertegun, jari-jariku tanpa sadar menyentuh permukaan layar, seolah ingin ikut merasakan tekstur kekacauan yang manis itu.
"Lihat Nata, tante cantik sampai nggak kedip lihat kita." Kata Alam yang memantik senyum di wajahku.
"Soalnya omnya Nata keliatan makin ganteng kalo rambutnya berantakan gitu. Tante jadi kangen."
Alam tertegun, mungkin terkejut kalimat itu meluncur dengan lancar dari celah bibirku, tidak seperti biasanya yang selalu mengedepankan gengsi.
Ditengah lamunannya, gerak reflek Alam begitu baik ketika Nata akan terjatuh. Tangan besar itu dengan sigap menyangga pinggang kecil keponakannya itu dengan protektif.
Cara Alam menjaga keseimbangan tubuhnya agar Nata tidak terbentur, cara dia membiarkan kaus mahalnya ditarik hingga melar, dan sorot matanya yang memancarkan ketulusan tanpa syarat, itu semua adalah serangan telak bagi benteng pertahananku. Seketika aku merasa sedang melihat visualisasi dari status WhatsApp Lisa tadi. Sebuah keharmonisan yang tidak dibangun di atas tumpukan materi, tapi di atas ketulusan. Dan aku menginginkan itu. Aku menginginkan ada di posisi Lisa.
Selama ini, definisi "laki-laki" di kepalaku adalah sosok yang menuntut dilayani, yang suaranya mendominasi rumah, yang setiap ucapannya adalah perintah mutlak yang harus dijalani, sampai membuat Ibu tidak berkutik. Definisi laki-laki di hidupku hanya sebatas mencari uang, tidak ada waktu untuk bermain dengan anak atau sekedar menanyakan hal apa saja yang dilalui anaknya. Ada jurang pemisah tak kasat mata antara aku, Ayah, dan Bapak. Jangankan dengan keponakan, dengan anaknya saja, mereka tidak memiliki waktu. Selama aku hidup dua puluh enam tahun, belum pernah aku merasakan ada di posisi Nata, bermain dengan ceria bersama Ayah.
Melihat Alam yang begitu tunduk pada keinginan seorang anak kecil, aku melihat definisi baru. Aku melihat kekuatan yang tidak digunakan untuk menindas, melainkan untuk melindungi. Aku melihat kesabaran yang bukan lahir dari kelemahan, melainkan dari kasih sayang yang meluap. Dan aku melihat peran Ayah bukan hanya untuk mencari uang, tetapi juga menjadi teman untuk anaknya.