Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #6

6. Sebuah Permintaan Maaf

Burung besi yang membawaku pulang dari Malang akhirnya mendarat sempurna di Bandara Soekarno-Hatta pukul satu siang. Aku menarik napas panjang. Sudah lima hari aku meninggalkan kota ini, membawa serta rasa bersalah pada Alam yang terus menghantuiku selama di Malang.

Di gerbang penjemputan, aku tersenyum miris melihat orang-orang bersukacita menghampiri keluarga yang menjemput mereka. Sementara aku hanya seorang diri. Orang tuaku tak mungkin menjemput, mereka sangat percaya bahwa aku bisa melakukan segalanya sendiri. Bagi mereka, aku bukanlah anak manja yang apa-apa harus diantar-jemput.

Aku menggenggam erat gagang koperku, seolah-olah benda mati itu adalah satu-satunya hal yang menjagaku agar tetap tegak di tengah hiruk-pikuk manusia yang saling memiliki. Mataku menatap sendu ke arah seorang anak yang dipeluk erat oleh ayahnya tak jauh dari tempatku berdiri. Sang ayah terus menggumamkan kata rindu. Bohong jika aku berkata tidak iri. Semua kemandirian ini hanyalah topeng agar aku tidak terlihat lemah. Jauh di lubuk hati, aku ingin bermanja dengan Ayah, seperti anak-anak lainnya.

Aku kembali menghela napas, mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari mobil kantor. Meski tahu orang tuaku tidak akan datang, hatiku tetap berharap setidaknya bisa melihat sosok itu di sini—orang yang sudah membuatku tersiksa rindu; orang yang kutinggalkan lima hari lalu. Siapa lagi kalau bukan Alam.

Meski pesanku tak dibalas sejak kepergianku malam itu, aku tetap berharap dia muncul. Setidaknya, ada seseorang yang kusayangi menyambutku dari perjalanan panjang ini. Namun, aku harus menelan kekecewaan. Alam tak muncul sama sekali, bahkan sampai mobil kantor membawaku meninggalkan bandara.

Aku menatap jalanan kota yang macet dengan pikiran kacau. Aku memang berhasil membongkar kasus fraud di sana, namun kali ini tak ada riak bahagia seperti biasanya. Rasanya hampa.

Ku abaikan notifikasi ucapan selamat dari rekan kerja menumpuk sejak semalam, tanpa minat untuk membukanya. Pujian Pak Beni di telepon terdengar seperti suara latar yang kabur, kalah oleh deru mesin mobil atau detak jantungnya sendiri yang cemas. Pujian Pak Beni di telepon sepanjang jalan tadi tak mampu menggerakkan hatiku.

Alam benar-benar menjadi distraksi besar di kepala dan hatiku. Pertengkaran dengannya berhasil menyapu bersih rasa bangga atas keberhasilanku hingga tak bersisa. Pemuda itu benar-benar marah. Tidak biasanya dia mengabaikanku seperti ini.

Tanpa kusadari, Alam telah merebut seluruh hatiku, hingga rasa takut kehilangan itu muncul dengan liar dan tak terkendali. Bayangan wajah Ibu yang penuh kesakitan saat menceritakan buruknya pernikahan yang ia jalani, tiba-tiba tumpang tindih dengan wajah Alam yang tampak kecewa dibawah temaram lampu jalan malam itu.

Lihat selengkapnya