Jumat pagi di Semarang, matahari tampak enggan menampakkan diri. Awan tebal bergelung lebar di cakrawala, menyekap sinar mentari sepenuhnya dalam balutan mendung yang pekat. Meski waktu sudah beranjak ke pukul sepuluh, langit masih saja muram, tidak membiarkan cahaya masuk, namun juga tak segera menumpahkan jutaan tetes air yang dikandungnya.
Namun, redupnya langit tak mampu merusak suasana hatiku. Kupulas lipcream ke bibir tipisku sebagai sentuhan terakhir. Suara deru mobil yang berhenti di depan kost seketika memantik senyum. Aku segera menyambar ransel dan kotak kado di atas nakas, melangkah ringan menghampiri Alam yang telah menunggu.
Masalah kami tempo hari sudah menguap sepenuhnya. Aku telah berjanji pada diri sendiri untuk lebih menghargai kehadirannya—sebuah komitmen yang ku buktikan pagi ini. Aku kembali tersenyum ketika melihat pakaian kami yang senada; aku dengan dress floral biru, dan Alam dengan polo shirt berwarna serupa.
Perjalanan menuju Yogyakarta terasa begitu hangat. Aku mengambil cuti demi menjenguk Kak Lista, kakak perempuan Alam yang baru saja melahirkan. Di dalam mobil, tawa dan obrolan mengalir tanpa jeda. Alam menunjukkan sisi protektif yang membuatku merasa sangat dijaga. Namun, saat roda mobil memasuki kompleks perumahan Kak Lista, jantungku mulai berulah. Meski ini bukan pertemuan pertama dengan keluarganya, debar itu tetap saja menggila. Seolah mampu membaca kegelisahanku, Alam menggenggam tanganku erat saat kami sampai. Tatapannya meneduhkan, seolah berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Relax, Dis," bisiknya lembut.
Genggaman itu tak terlepas, bahkan saat kami melangkah masuk ke rumah minimalis dua lantai tersebut. Tak ayal, kami langsung menjadi sasaran empuk godaan Mila, adik bungsu Alam. Wajahku memanas, memerah sampai ke telinga. Ibu Alam akhirnya turun tangan meredam kenakalan Mila, meski akhirnya suasana pecah saat Alam dan Mila malah bertengkar kecil layaknya anak-anak. Aku hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah mereka. Ada secercah rasa iri yang tiba-tiba menyentak hatiku. Hidupku terlalu tenang—atau mungkin terlalu sepi. Aku tak pernah tahu rasanya berebut sesuatu dengan saudara di rumah. Hubunganku dengan Bella pun tak pernah seakrab itu.
Suasana semakin hangat saat Ibu memperkenalkanku pada keluarga besar sebagai calon menantu. Di sela persiapan acara tasyakuran, Ibu mengajakku menemui Kak Lista di kamarnya. Di sana, aku melihat sesosok bayi mungil dengan pipi bulat kemerahan yang sedang terlelap usai menyusu. Atas arahan Ibu, aku mencoba menggendongnya dengan kaku.
"Disa udah cocok ya, Lam, gendong anak," goda Kak Lista jahil.