Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #8

8. Ayah Yang Sama, Cinta Yang Berbeda

Untuk kesekian kalinya, aku menghela napas panjang. Menatap jalanan Jogja yang macet malam ini, aku merasa terjebak dalam ruang kedap udara, meski suara Ayah dan Bella mendominasi sebagai backsound perjalanan. Acara tasyakuran anak kedua Kak Lista sudah selesai sejak siang tadi, namun sisa-sisa kebahagiaannya justru meninggalkan rasa hambar di lidahku.

Permintaan Bella tadi pagi adalah awal dari sesak ini. Saat Alam menjemputku, Bella memohon agar aku tidak pulang malam. Ini malam terakhirku di Jogja, katanya. Ia dan Ayah ingin mengajakku berkeliling, merayakan kebersamaan yang jarang terjadi. Lucunya, Alam justru jauh lebih antusias dariku. Padahal aku sudah mati-matian mengulur waktu, menyibukkan diri membantu Ibu Alam membereskan sisa hajatan, namun berkali-kali Alam mengingatkanku pada janji itu.

Pemuda itu sepertinya senang melihat kedekatanku dengan keluarga ini. Mungkin dalam bayangan Alam, kami akan bersenang-senang, melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Jika Alam tahu yang terjadi sebenarnya, ia seharusnya menelan kecewa.

Nyatanya, aku hanya menjadi pajangan disini. Semua obrolan di dominasi mereka berdua, aku hanya di tanya sesekali, seperti sebuah catatan kaki dalam buku sejarah mereka. Malam ini mereka bernostalgia tentang setiap sudut jalan yang kami lewati. Tentang kenangan masa kecil Bella yang melekat erat di memori Ayah.

Saat Ayah menceritakan betapa paniknya ia ketika Bella kecil hampir hilang di Pasar Malioboro—bagaimana ia membuat seluruh pasar heboh karena ketakutan kehilangan putri kecilnya—aku hanya mampu mengulas senyum miris. Dalam hati aku bertanya, jika aku yang hilang, apakah Ayah akan merasakan ketakutan yang sama? Ataukah hilangnya aku justru menjadi kelegaan yang tak terucap baginya?

Aku mencoba menggali ingatan, mencari satu saja fragmen kenangan di mana Ayah menatapku dengan binar protektif yang sama, namun nihil. Memoriku tentang Ayah hanya berisi ruang kosong dan sunyi.

Mobil berhenti di sebuah tenda lesehan langganan mereka. Bahkan pemiliknya, Mbok Darmi, menyapa Ayah dan Bella seperti kerabat lama.

"Wah, siapa ini Pak, Mbak? Baru lihat saya," tanya Mbok Darmi dengan logat Jawa yang kental.

Dengan bangga, Bella merangkul lenganku. "Mbakku dong, Mbok!"

Aku hanya mampu menarik senyum tipis dan mengangguk kaku pada Mbok Darmi.

"Kok baru diajak ke sini, Mbak Bel?" Pak Min, suami Mbok Darmi, ikut menimpali.

"Dia tinggal di Semarang, kerja di sana," sahut Ayah tiba-tiba.

Lihat selengkapnya