Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #9

9. Luka Tak Berdarah

"Udah mandinya?" tanyaku tanpa menoleh saat mendengar derit pintu kamar terbuka, jemariku masih sibuk menata tumpukan baju ke dalam tas—ingin segera menyelesaikan segalanya dan pergi.

Namun, sunyi yang menyahut tak seperti biasanya, tak ada suara ceria Bella atau langkah kakinya yang ringan, membuatku terpaksa mendongak dan seketika membeku menyadari bahwa yang berdiri di sana adalah Ayah. Pria paruh baya itu bersandar kaku di kusen pintu, menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan, sementara bibirnya terkatup rapat seolah ada ribuan kata yang tertahan di sana.

Aku berdehem canggung, mencoba mengabaikan gemetar halus di tanganku dan kembali memasukkan baju-baju itu ke dalam tas. "Kenapa, Yah?" tanyaku, mencoba memecah keheningan yang mulai terasa menyesakkan.

Langkah kaki Ayah terdengar mendekat, berat dan ragu, lalu berhenti tepat di belakang punggungku sebelum sebuah tangan menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah tepat di depan mataku. Aku tersentak dan langsung berdiri tegak, menatap lembaran uang itu dan wajah Ayah bergantian dengan kening berkerut. "Apa ini?"

Ayah mengerjap sesaat, lalu dengan gerakan cepat—hampir seperti paksaan—ia menarik tanganku dan meletakkan uang itu di atas telapak tanganku yang dingin. "Katanya semalem kamu udah nggak punya uang cash buat di jalan, tapi karena kita pulangnya kemaleman jadi nggak sempat mampir ke ATM, yaudah ini buat bekal kamu," ucapnya dengan nada yang terdengar kaku, seolah ia sedang menghafal naskah yang tidak nyaman baginya.

Aku terkesiap, lalu refleks menyambar ponsel di atas tas. "Makasih, Yah. Kalau gitu Ayah kirim nomor rekening aja, biar sekarang aku transfer gantinya."

Kening Ayah yang mulai dimakan usia itu langsung berkerut dalam, menatapku dengan perpaduan antara bingung dan rasa tersinggung yang mulai terbaca. "Ngapain? Ayah ngasih, bukan minta ganti."

"Nggak apa-apa, Yah. Aku nggak enak kalau tiba-tiba dikasih begini, aku transfer balik aja ya?" balasku, mencoba menjaga jarak yang selama ini memang sudah ada di antara kami.

"Kenapa harus nggak enak? Aku Ayahmu!" Suara datar itu mendadak meninggi, berubah menjadi percikan kekesalan yang nyata.

Aku menghela napas, merasa lelah dengan ketegangan ini, lalu aku menghitung uang itu dan mencoba mengembalikan beberapa lembar kepadanya. Namun, saat tanganku terulur, Ayah justru menghindar dengan kasar, membiarkan tanganku menggantung hampa di udara.

"Ini kebanyakan, Yah. Aku terima segini aja cukup."

"Tinggal diterima apa susahnya sih, Dis?!" Suara Ayah naik satu oktaf, meledak memenuhi ruangan hingga membuatku tersentak kaget, bahkan Bella yang baru saja muncul dengan rambut basah langsung terpaku di ambang pintu dengan wajah pucat.

Aku berusaha menelan rasa sesak di tenggorokan, mencoba tetap berdiri tegak meski hatiku mulai mencelos. "Harusnya aku yang kasih uang ke Ayah, kan aku udah menumpang nginep di sini beberapa hari."

"Kamu pikir rumah ini hotel?!" Kemarahan Ayah pecah sepenuhnya. Urat-urat di lehernya menonjol dan matanya menatapku seolah aku adalah orang asing yang baru saja menghinanya.

Aku terdiam, mataku seketika berkaca-kaca karena selama dua puluh enam tahun aku bernapas, baru kali ini aku mendengar bentakan itu—dan itu keluar dari mulutnya. Ibu Ayu, Ibu tiriku yang sedang menyiram tanaman di luar langsung berlari masuk, menyenggol bahu Bella yang masih mematung, lalu mendekati Ayah dengan sisa napas yang terengah.

"Jangan keras-keras sama anak sendiri," bisik Ibu Ayu lirih sembari mengusap lengan Ayah, mencoba meredam api yang telanjur menyala.

Ayah memejamkan mata erat, mengusap wajahnya dengan kasar seolah sedang membuang rasa frustrasi yang tak mampu ia jelaskan.

Lihat selengkapnya