Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #10

10. Rintik dibalik Kaca

Suara rintik hujan menghantam kaca jendela kafe, menciptakan irama monoton yang justru membuat kepalaku semakin berdenyut. Aku bertopang dagu, menatap butiran air yang berlomba turun di permukaan kaca, membiarkan pikiranku melayang entah ke mana. Di atas meja kayu di hadapanku, matchalatte yang kupesan tadi masih terisi penuh dalam gelasnya, bahkan sampai mengembun pekat, persis seperti jendela yang sedang kutatap. Di sampingnya, ponselku kembali bergetar hebat. Nama "Ibu" muncul di layar, disusul dengan deretan panggilan tak terjawab yang sudah kutumpuk sejak kemarin.

Aku tidak mengangkatnya. Jemariku hanya diam, lalu dengan satu gerakan kasar, kubalik ponsel itu hingga layarnya menghadap meja.

Aku lelah. Benar-benar lelah.

Aku tahu apa yang akan Ibu katakan jika aku mengangkat telepon itu. Keluh kesah tentang Bapak, tentang betapa sulitnya menjadi istri, atau mungkin sindiran halus yang ujung-ujungnya membuatku merasa harus menjadi pendengar yang baik. Saat ini, aku tidak punya kapasitas untuk menampung racun yang perlahan membunuh masadepanku itu. Perasaanku sendiri sedang berantakan, berserakan seperti kepingan kaca yang pecah setelah pertengkaranku dengan Ayah beberapa hari lalu. Aku takut jika suara Ibu masuk ke telingaku, pertahananku yang tersisa akan hancur total di tempat umum ini.

"Disa?"

Panggilan itu menyentak lamunanku. Aku langsung mendongak dan mendapati Nia—sepupuku dari pihak Ayah—berdiri di depan mejaku dengan baju yang setengah basah. Tanpa menunggu persetujuanku, ia langsung menarik kursi dan duduk di hadapanku.

"Muka lo kayak yang habis diputusin aja," celetuknya tanpa dosa, sambil menyesap hot chocolate yang baru saja disajikan oleh pramusaji.

Aku mengangkat sebelah alis, berusaha menyembunyikan raut tidak suka. Aku sedang menghindari segala permasalahan yang bermula dari keluargaku, namun salah satu sepupuku ini justru datang dan langsung mengusik ketenanganku.

"Beneran putus sama pacar lo yang pengacara itu?"

Aku mendengus mendengarnya. "Nggak ya!" jawabku ketus. Kutatapi Nia yang malah tampak santai menyeruput hot chocolate-nya. "Lo ngapain sih ke sini?"

"Neduhlah, lo nggak lihat hujan?"

Aku berdecak sebal. Meski bekerja di kota yang sama, kami memang jarang bertemu. Dan sekalinya bertemu, Nia masih saja menyebalkan seperti biasanya.

"Meja lain penuh. Makanya jangan kebanyakan ngelamun sampai nggak tahu situasi," tambah Nia.

Aku mengabaikan jawabannya. Meski begitu, mataku tetap mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar kata Nia, kafe ini sudah penuh oleh manusia yang sedang makan atau sekedar duduk memesan minuman sembari menunggu hujan reda.

Aku kembali menatap ke luar jendela, namun suara Nia lagi-lagi menginterupsi. "Lo berantem ya sama Om Tio?"

Aku menatap Nia, kali ini dengan tatapan yang rumit. Entah bagaimana caranya pertengkaranku dengan Ayah bisa diketahui olehnya secepat ini. Di kepalaku, nama Bella langsung menjadi tersangka utama penyebaran berita itu. Aku menghela napas panjang. Nyatanya, mau sekeras apa pun aku menghindar dari Ibu untuk menenangkan pikiran, Nia justru datang dan tidak membiarkanku tenang barang sejenak.

"Bella ya?" tanyaku, memastikan pradugaku.

Di luar dugaan, Nia menggeleng. "Om Tio sendiri yang cerita sama Ibu. Om ngerasa bersalah udah bentak lo, tapi..." Nia menggantung ucapannya. Ia menatapku dengan tatapan yang tak terbaca. Aku tetap bertopang dagu, menunggu kelanjutan kalimatnya.

"Menurut gue, kalian cuma salah paham. Lo mungkin canggung sama Ayah lo, tapi Om Tio juga tersinggung waktu lo nolak pemberiannya. Om juga sebenernya ngerasa lo selalu ngehindarin dia. Dia sampai nanya gini ke Ibu: 'Disa ini nganggep aku Ayahnya nggak sih, Mbak? Atau justru orang lain bagi dia?' Gue nggak tahu gimana hubungan kalian, tapi emang nggak bisa kayak biasa layaknya anak sama Ayah ya, Dis?"

Aku menyunggingkan senyum miring. Meski di luar aku tampak sinis, tidak ada yang tahu bahwa di dalamnya, hatiku tengah remuk redam. Pertanyaan Ayah kepada Ibunya Nia telanjur menyentak batinku. Namun, sikapku saat ini layaknya sebuah cermin. Ayah memperlakukanku seperti orang lain, maka aku pun memperlakukannya persis seperti yang ia lakukan padaku.

"Harusnya gue yang tanya, gue ini anaknya atau bukan? Gue anak kandung tapi berasa anak tiri."

"Tapi, Dis..."

Lihat selengkapnya