Hari Senin selalu menjadi monster yang paling menakutkan di kantor kami. Tumpukan berkas dari klien baru seolah sengaja menggunung, menuntut perhatian penuh sejak jarum jam baru menyentuh angka delapan pagi.
Namun, Senin ini berbeda bagiku. Di balik jemariku yang menari di atas keyboard dengan kecepatan ganda, ada rasa tidak nyaman yang terus kupaksa tenggelam. Sisa dingin dari air hujan hari Sabtu kemarin rasanya masih tertinggal di tulang, juga meninggalkan denyut sakit dikepala yang tak kunjung sembuh sejak kemarin, berpadu dengan penolakan kaku Ayah juga keluarga besarnya yang terus berputar di kepala. Aku butuh pengalihan. Maka, mataku meneliti baris-baris angka di layar Excel tanpa jeda, memburu sisa akun yang belum direkonsiliasi. Aku bahkan sengaja melewatkan jam makan siang demi menyelesaikan laporan keuangan ini tepat waktu. Bukan karena ada deadline mendesak dari Pak Benny. Selain itu ada sebuah janji yang sudah kubuat dengan Alam.
Hari ini adalah hari jadi kami yang kelima.
Meski usia kami sudah sama-sama beranjak dewasa, kami selalu merayakan hari jadi seperti sepasang remaja yang baru dimabuk cinta—walau perayaan kami sebenarnya sederhana, hanya makan malam romantis berdua. Setelah lima tahun berlalu pun debar jantungku selalu menggila setiap kali hari ini tiba. Aku selalu hanyut dalam tebakan dan bayangan: kejutan manis apa lagi yang sudah Alam siapkan untukku kali ini?
Namun berbeda dengan tahun ini. Debar jantung dan rasa excited itu tak kurasakan sama sekali. Semua kesenangan menunggu kejutan dari Alam benar-benar tenggelam oleh rasa sakit sisa sabtu kemarin.
Aku meregangkan otot leher yang terasa kaku karena duduk berjam-jam. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum jam pulang kantor. Jemariku kembali gesit menggerakkan kursor, menggulir tampilan komputer untuk melakukan final check.
Namun, fokusku buyar ketika tiba-tiba Clara—salah satu rekan kerjaku—sudah berdiri tegak di ujung kubikel.
"Udah selesai kerjaan lo?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Udah nih, tinggal ngecek ulang," jawabku seadanya.
Senyum Clara langsung mengembang lebar, ia bahkan menepuk tangannya dengan gestur riang yang dibuat-buat. "Oke deh! Berarti nanti bisa dong ikut nonton sama anak-anak yang lain? Ada film bagus baru rilis, nih. Abis itu kita makan sushi. Girls'time lah sekali-kali."
Aku tersenyum kaku. Ada rasa tidak enak yang mendadak merambat di dadaku. "Sorry banget, Ra. Gue nggak bisa ikut sore ini. Udah ada janji sama Mas Alam."
Senyum di wajah Clara langsung luntur seketika, digantikan oleh raut masam yang kentara. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatapku sinis. "Yaelah, Dis... Alam mulu. Sesekali kumpul sama kita kenapa, sih?"
"Gue udah janji duluan sama dia, Ra," ujarku, mencoba tetap sopan.
"Batalin aja sih. Lagian kalian juga masih pacaran ini, belum tentu dinikahin juga."
Kata-katanya langsung memicu rasa panas yang membakar dadaku. Mataku tajam menatapnya. Bagaimana bisa dia mengucapkannya seringan itu? Baru saja sabtu kemarin aku dihantam kenyataan bahwa aku didepak dari silsilah keluarga besar Ayah, dan sekarang rekan kerjaku sendiri meremehkan status hubunganku? Baru saja bibirku terbuka, siap melesatkan balasan yang sama pedasnya, sebuah suara lain memotong dari kubikel sebelah.
"Hust, nggak boleh ngomong gitu, Ra. Nggak enak didengar," bela Mbak Tia, mencoba menengahi.
"Loh, emang bener, kan?" Clara malah makin menjadi, suaranya sengaja ditinggikan agar didengar yang lain. "Disa pacaran sama Alam udah lama banget, tapi sampai sekarang belum dinikahin. Jangankan nikah, dilamar aja belum!"
Rasanya aku ingin sekali berdiri dan membungkam mulut julidnya saat itu juga. Tanganku mengepal kuat di bawah meja hingga buku jariku memutih, menahan gejolak emosi yang hampir tumpah. Kalimat Clara telanjur menyenggol egoku yang sudah tipis. Aku membiarkan Mbak Tia kembali menyahut hingga keduanya terlibat perdebatan kecil. Dalam hati, aku membenarkan kata-kata Mbak Tia selanjutnya: bahwa menikah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus disiapkan, terutama mental.