Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #12

12. Titik Paling Rendah

Lamaran malam itu menjadi sisa energi terakhir yang ku punya. Akumulasi rasa sakit hati, ego yang terluka, serta kelelahan fisik yang kurasakan sejak hari Sabtu kemarin, akhirnya meledak juga tanpa ampun.

Begitu tiba di kosan menjelang tengah malam, pertahanan tubuhku runtuh total. Kepalaku terasa semakin berat seolah dihantam batu, sementara perutku diaduk dengan kasar. Aku memuntahkan seluruh isi perutku ke wastafel. Tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali hingga jam dinding hampir menyentuh angka lima pagi.

Aku meringkuk di atas tempat tidur dengan tubuh bergetar hebat. Ada rasa terbakar yang pekat menjalar dari ulu hati hingga ke kerongkongan—panas, asam, dan menyiksa. Tubuhku lemas tak bertenaga. Cairan kuning yang terasa pahit menjadi hal terakhir yang kukeluarkan karena lambungku sudah benar-benar kosong tak bersisa.

Sebelum kesadaranku meredup karena kelelahan, aku sempat mengirim pesan singkat kepada Pak Benny untuk izin tidak masuk kerja hari ini.

Ketika matahari mulai naik, dengan sisa-sisa kekuatan yang kupaksakan, aku beranjak dari ranjang. Kusambar kardigan rajut tebal dari dalam lemari untuk membungkus tubuhku yang terus menggigil kedinginan. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku memesan taksi online untuk pergi ke klinik terdekat.

Seorang diri. Menembus jalanan pagi tanpa ada satu pun tangan yang mendekapku hangat.

*****

"GERD itu bukan cuma soal telat makan atau pemicu fisik saja, Mbak. Tapi juga akumulasi dari stres yang berlebih."

Kata-kata dokter paruh baya di klinik tadi kembali terngiang di kepalaku. Aku tersenyum miris, sangat tipis hingga hampir tak terlihat di cermin taksi. Belakangan ini, pola makanku memang berantakan. Namun, beban pikiran yang kupikul kian bertumpuk sejak aku kembali dari Jogja.

Selama ini, aku hanya dihantui oleh cerita-cerita Ibu yang terus mempertebal dinding ketakutanku akan sebuah pernikahan. Namun, setelah berurusan dengan Ayah belakangan ini, aku seperti dipaksa melihat contoh nyata dan dampak paling berdarah dari apa yang selalu Ibu ceritakan.

Aku berjalan lunglai menyusuri lorong kosan menuju kamar. Tangan kananku menjinjing kantong plastik berisi bubur ayam hambar dan beberapa strip obat. Matahari sudah benar-benar naik, memancarkan sinar terik yang terasa membakar kulitku yang sensitif.

Langkahku terhenti ketika melihat sebuah paket tergeletak di atas kursi kayu di depan kamar. Namaku tertulis jelas di sana sebagai penerima. Dengan dahi berkerut bingung, aku membawa paket misterius itu masuk ke dalam kamar.

Aku memaksakan diri menyendok bubur, meski tenggorokanku menolak dan rasa mual terus mendesak di dada. Sebagai pengalihan, aku meraih ponsel yang sejak tadi tak berhenti bergetar di atas kasur. Ada belasan panggilan tak terjawab dan rentetan pesan dari Alam. Pemuda itu tampak sangat khawatir karena aku mendadak hilang kabar sejak dia mengantarku semalam.

Jemariku bergerak cepat membalas pesannya, memberi tahu kondisiku secara singkat. Namun, pesanku hanya berakhir centang satu. Aku tidak terlalu memikirkannya. Aku tahu, pagi ini Alam sedang mendampingi klien di persidangan penting—alasan utama yang membuatnya tidak bisa datang langsung untuk memeriksa kondisiku pagi ini.

Lihat selengkapnya