"Jangan ngikutin kata Bapakmu, Dis. Kamu kerja ya buat kamu sendiri. Jangan karena pengen nabung kamu jadi super irit sampe nggak makan. Sakit kan jadinya," omel Ibu dari seberang telepon.
Aku tersenyum hambar di atas bantal. Yang Ibu tahu, GERD hanya disebabkan karena telat makan. Aku memilih bungkam, tidak mau menjelaskan faktor pemicu psikologis lainnya karena takut diinterogasi hal apa yang sampai membuatku stres berat.
"Bapak kan cuma ngingetin, Bu. Bukan maksa Disa harus nabung yang banyak," sayup-sayup terdengar sahutan Bapak.
"Tapi Bapak ngingetinnya setiap Disa pulang atau telepon! Kan mau nggak mau anaknya kepikiran terus, Pak!"
"Loh, Disa kan sudah dewasa, harusnya dia udah bisa ngatur keuangannya. Gimana caranya kebutuhan cukup dan masih bisa nyisihin buat tabungan."
"Yang Bapak pikirin cuma nabung terus! Inget Pak, uang itu nggak dibawa mati!" cetus Ibu sarkas.
Brak!
Terdengar suara pintu ditutup dengan kasar. Sepertinya Ibu meninggalkan Bapak di dalam dan berjalan menuju teras atau kamar lain.
"Anak sakit bukannya ditanya gimana kabarnya, malah diajak debat," Ibu masih terus menggerutu, suaranya kini terdengar lebih jelas. Aku makin mengeratkan selimut tebal, memilih menjadi pendengar pasif tanpa berniat untuk ikut campur.
"Maklumin aja, Dis. Namanya juga Ayah tiri. Biar gimanapun, darah itu lebih kental daripada air."
Deg.
Kata-kata Ibu begitu telak menusuk relung hatiku. Kalimat itu menyisakan rasa perih yang dingin. Ayah kandungku saja tidak pernah memberi kasih sayang yang utuh, lantas mana pantas aku berharap pada orang asing yang tidak memiliki ikatan darah denganku?
Tak terasa, setitik air mata hangat menetes dari sudut mataku. Buru-buru kuhapus dengan kasar.
"Ibu hari ini masak apa?" tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan yang mulai tidak sehat.
"Ibu cuma rebus telur. Biarin aja itu Bapakmu cuma makan telur, salah sendiri Ibu nggak dikasih uang. Padahal Ibu udah bilang jatah bulanannya habis. Yah, ginilah Dis kalau istri nggak kerja, suami jadi seenaknya sendiri. Ibu udah capek ngemis-ngemis minta tambahan uang ke Bapakmu, tetep nggak dikasih. Mau kerja juga udah nggak laku, udah tua."
Aku menjauhkan ponsel dari telinga sejenak. Dengan gerakan cepat yang kupaksakan, jemariku bergerak lincah membuka aplikasi mobile banking. Segera kukirimkan sejumlah nominal uang ke rekening Ibu.
"Aku udah transfer ya, Bu. Ibu pakai aja buat beli kebutuhan dapur yang habis."
"Duh Dis, kamu nggak seharusnya ngirim-ngirim gini. Ibu cuma cerita kok. Mending uangnya buat kamu makan di sana, jangan sampe sakit lagi."
"Emang udah waktunya sakit, Bu, bukan karena kurang makan," gumamku pelan.
"Kamu nanti kalau menikah, usahakan tetap kerja ya, Dis. Biar nggak disepelein suami, biar nggak perlu ngemis-ngemis ke suami kayak Ibu."
Aku menarik napas dalam-dalam. Kuangkat tangan kananku, memandangi jemariku yang masih tersemat cincin bermata berlian tunggal dari Alam.
Padahal, niat utamaku menelepon Ibu hari ini adalah untuk membagikan kabar bahagia ini. Aku ingin meminta pendapat Ibu tentang rencana pertemuan keluarga dan pertunangan resmi kami. Namun, mendengar keluh kesah dan nasihat beracunnya, lidahku mendadak kelu. Keberanianku surut total. Fisik dan mentalku benar-benar belum siap menerima warisan mingguan yang melelahkan itu.
"Oiya, kemarin waktu pergi ke Jogja, kamu nginep tempat Ayahmu, ya?" Tanya Ibu pelan.
Jantungku seketika berpacu cepat. Rasa cemas dan bingung bergelung jadi satu, membuatku mendadak gagap. Ada nada kecemburuan yang pekat dari intonasi suara Ibu. Meski tidak pernah mengatakannya secara gamblang, Ibu selalu tidak suka jika aku berdekatan dengan Ayah. Ibu seperti takut aku akan memilih bersama Ayah dan meninggalkannya.
Itulah alasan utamaku mengapa sejak pulang dari Jogja hampir tiga minggu lalu, aku sengaja tidak pulang ke rumah Ibu dan tidak menjawab panggilan telponnya. Aku tahu lambat laun Ibu pasti mendengar kabar ini dari keluarga besar Ayah, mengingat Ibu dan keluarga besar Ayah tinggal di lingkungan yang sama. Kupikir, waktu tiga minggu sudah cukup untuk membuat Ibu lupa. Ternyata aku keliru. Ibu menjaga dendamnya tetap segar.
"Enak ya di sana?" tanya Ibu lagi.
Aku memilih membisu. Kujauhkan kembali ponsel dari telinga, enggan mendengar runtunan kalimat penghakiman selanjutnya. Namun, karena suasana kamar kosku yang terlampau hening, suara Ibu tetap merambat masuk secara samar.
"Mereka hidup bahagia, kan? Kok bisa ya, Dis, orang yang udah nyakitin bisa sebahagia itu? Sedangkan Ibu di sini masih menderita kayak gini. Bener-bener nggak adil."