Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #14

14. Masalalu Alam

"Dari sebelum berangkat, Mas kan udah ingetin mending ganti alas kaki yang nyaman. Kamu ngeyel sih," omel Alam yang baru saja kembali dengan jinjingan totebag di tangannya. Ia langsung berjongkok di hadapanku, memeriksa pergelangan kakiku yang terkilir.

Aku meringis, merasakan perih ketika jemari pemuda itu sedikit menekan pergelangan kakiku. "Kan biar totalitas cantiknya, Mas."

"Cantik kalau nyiksa buat apa, Sayang? Udah, ganti ini aja," katanya sembari mengeluarkan sepasang flatshoes dari dalam totebag. Ia memasangkannya langsung pada kedua kakiku, menggantikan heels yang baru saja memicu insiden terkilir ini.

Aku pura-pura cemberut, menutupi rasa salah tingkah akibat perhatian manis Alam. Pemuda itu memijat kakiku begitu aku mengeluh tadi, lalu tanpa banyak bicara langsung berlari membelikanku alas kaki baru. Model dan warnanya bahkan senada dengan pakaian yang kukenakan. Alam sangat hafal kalau aku seorang perfeksionis, segala sesuatu yang menempel di tubuhku harus seirama.

Bahkan tanpa rasa malu di depan publik, Alam berjongkok di depanku, memasangkan sepatu itu dengan lembut bak pangeran yang menemukan Cinderella-nya.

"Udah yuk, lanjut cari kadonya. Keburu acaranya dimulai," ajakku sembari mencoba berdiri. Alam dengan sigap menahan sikutku, membantuku bertumpu.

"Bisa nggak jalannya? Apa mau Mas gendong?"

Aku mendelik, mencubit lengannya dengan sebal. Alam malah tertawa renyah, tawa yang sempat mengundang perhatian beberapa orang di sekitar kami. Tanpa menunggunya, aku berjalan terlebih dahulu dengan langkah yang masih agak tertatih-tatih.

Kami berhenti di Kidz Station untuk mencari kado yang cocok untuk Nael. Hari ini anak laki-laki Lisa itu berulang tahun. Aku dan Alam sudah mendapat undangan pesta perayaannya sejak dua hari lalu. Namun, karena kesibukan kami masing-masing, kami baru sempat memcari kado sekarang. Masih ada waktu satu jam sebelum acara dimulai.

Aku melewati deretan rak mainan. Di rumah Lisa, sudah terlalu banyak mainan Nael yang berujung hanya disimpan di dalam box karena Nael mudah bosan. Aku ingin memberikan hadiah yang fungsional, sesuatu yang akan selalu dia gunakan.

Perhatianku jatuh pada sepasang sepatu kets berwarna putih. Nael adalah anak yang sangat obsesif pada sepatu. Mau bepergian kemanapun, dia pasti akan merengek untuk mengenakan sepatu.

Aku menoleh, berniat menunjukkan pilihan ini pada Alam. Namun, pemuda itu tidak lagi berada di sampingku. Keningku berkerut saat melihat Alam justru berdiri diam di depan rak sepatu anak perempuan. Ia tampak tersenyum hangat, memandangi sepasang sepatu mungil berwarna pink cerah di genggamannya.

"Nael itu laki-laki loh, Mas. Masa mau dibeliin sepatu warna pink? Mana mungil banget lagi, itu mah buat newborn," celetukku setelah berjalan mendekatinya.

Alam tertawa kecil. Dibawanya sepatu mungil itu ke hadapanku, menunjukkan setiap detail sepatu yang terlihat cantik.

"Lucu ya, Sayang? Mas jadi ngebayangin kalau anak kita nanti perempuan, terus pakai sepatu ini. Pasti cantik sekali," kata Alam dengan binar mata yang memancarkan kebahagiaan yang teramat tulus.

Dadaku langsung terasa sesak.

Hantaman kalimat itu membuat ulu hatiku kembali merasa nyeri samar. Pembahasan tentang masa depan dan pernikahan selalu berhasil membuatku tidak nyaman. Semua kejadian belakangan ini seolah bersekongkol menjatuhkanku, aku selalu dihantui oleh keluh kesah Ibu yang terus terputar seperti kaset rusak di kepalaku setiap malam, memupuk dinding ketakutanku hingga menjulang semakin tinggi.

"Masih lama, Mas," jawabku pelan, mencoba menepis bayangan itu.

Kening Alam berkerut. Tanpa diduga, ia meraih tangan kananku, mengangkatnya tepat di depan wajah kami hingga memperlihatkan cincin yang melingkar indah di jari manisku.

"Bukannya sebentar lagi?" tanyanya dengan sebelah alis terangkat, setengah menggoda.

Aku menelan ludah dengan gugup. Kutarik kembali tanganku dengan paksa dari genggamannya. "Nggak menjamin langsung hamil setelah menikah, kan?"

"Nanti kita usaha teruslah sampai kamu hamil," jawab Alam dengan seringai jahil yang khas.

Seharusnya, dalam kondisi normal, aku akan mencubit lengannya dengan sebal karena kerlingan jahil itu. Namun, yang mampu kulakukan saat ini hanyalah mengulas senyum hambar. Aku benar-benar tercekik oleh pembahasan ini.

"Udah yuk bayar, keburu acaranya dimulai."

Aku berjalan lebih dulu menuju kasir, melarikan diri. Alam mengekor di belakang setelah menyambar sebuah mainan edukasi untuk tambahan kado Nael.

Saat kami sedang mengantre di barisan kasir yang cukup panjang, tiba-tiba sebuah seruan heboh terdengar dari arah belakang.

"Gokil si Alam! Diam-diam balikan sama mantan terindah!" kelakar seorang pria di belakang kami.

"CLBK waktu reuni apa gimana nih, Lam?" Kali ini terdengar suara perempuan menyahut penuh nada seloroh.

Lihat selengkapnya