Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #15

15. Dilema Alam

Aku memperhatikan pantulan diriku dalam cermin besar. Balutan gaun emerald yang hampir jadi itu melekat indah di tubuhku, berkilau mewah memantulkan cahaya lampu ruangan. Senyumku mengembang, sangat puas dengan hasil jahitan Mbak Nuri, penjahit langgananku. Kain warna emerald polos pemberian Ayah itu disulapnya menjadi gaun anggun yang begitu pas di tubuh mungilku.

"Ini bagian pinggangnya mau begini aja atau mau di-press badan, Mbak?" tanya Mbak Nuri.

Aku memperhatikan pantulan diriku sekali lagi, melihat Mbak Nuri yang menarik bagian belakang gaunku, membuat kain itu melekat ketat di pinggang rampingku. Terlihat indah, namun aku kurang nyaman jika memakai pakaian yang terlalu mencetak lekuk tubuh.

"Gini aja deh, Mbak. Jangan terlalu ketat."

Mbak Nuri mengangguk paham. Ia mencatat setiap detail yang menurutnya perlu direvisi atas persetujuanku.

Karena tidak ada lagi percakapan di antara kami, suara dari televisi yang sejak tadi menyala di sudut ruangan terdengar kian jelas. Aku seketika menoleh saat layar kaca itu menayangkan berita tentang kasus penganiayaan seorang artis oleh suaminya.

Atensiku benar-benar terpusat pada televisi, bukan karena aku tertarik pada skandal itu, bukan pula karena aku menggemari artis tersebut, tetapi karena aku sangat mengenali sosok pengacara yang berdiri kokoh di sana. Wajah Alam tersorot jelas saat berbicara di depan media, tampak gagah, tegas, dan berwibawa.

Tanpa sadar aku tersenyum kecil, dibaluri rasa bangga yang meletup tipis di dada. Alam berhasil memenangkan kasus besar itu, menuntut tersangka dengan hukuman berat dan denda yang tidak sedikit.

Rupanya, hari di mana ia tidak hadir saat aku sakit dan berobat seorang diri minggu lalu adalah karena ia tengah mempertaruhkan kariernya di ruang sidang kasus ini.

"Loh, itu pacar Mbak yang duduk di ruang tamu itu, kan?" tanya Mbak Nuri kaget, matanya melirik bergantian antara layar televisi dan ruang tamu tempat Alam menunggu.

"Iya, Mbak," jawabku pelan, mencoba meredam senyum.

"Wah, hebat banget pacarnya, Mbak! Cariin saya yang kayak gitu satu dong, Mbak."

Aku terkekeh pelan mendengar permintaan Mbak Nuri. Mataku bergulir, melirik sosok Alam lewat pantulan cermin. Namun, binar bangga di mataku perlahan redup.

Wajah Alam di ruang tamu tampak datar, bahkan terkesan gusar. Kedua alis tebalnya bertaut kaku, matanya terpaku sangat serius pada layar ponsel di genggamannya. Ia sama sekali tidak terpengaruh oleh celotehan kami maupun suara bising televisi. Bahkan, ia tidak menoleh untuk melihatku sebentar saja. Padahal sebelumnya, ia adalah orang yang paling bersemangat menemaniku kesini.

Senyumku perlahan surut total. Ada sedikit rasa kecewa yang mendadak mengendap di dasar dadaku. Kuurungkan niat awal untuk memamerkan gaun emerald ini pada Alam. Dengan senyum yang dipaksakan, aku meminta Mbak Nuri untuk menyudahi proses fitting hari ini.

Lihat selengkapnya