Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #16

16. Jas dan kemeja emerald

Sehari sebelum acara seminar, Alam mengajakku makan malam di rumahnya. Alasannya karena Ibunya yang mengajak, mengaku rindu karena sudah lama tidak bertemu denganku, sekaligus menyampaikan permintaan maaf karena tidak sempat menjengukku ketika aku sakit minggu lalu.

Gemuruh di hatiku bukannya mereda, malah kian menjadi ketika acara seminar itu kian dekat. Hatiku masih tidak terima dan belum siap membayangkan Alam berdiri di atas panggung acara bersama Alana, tampak begitu serasi, dihiasi hujan pujian dari semua peserta, sementara aku sendirian duduk di barisan paling depan dengan hati yang berdarah-darah.

Namun, aku berusaha bersikap biasa saja. Kupasang topeng ketegaran itu rapat-rapat. Mengikuti alur permainan Alam yang mengira bahwa idenya mengajakku duduk di kursi terdepan adalah jalan keluar paling tepat untuk menenangkanku.

"Aduh, anak perempuan Ibu yang paling cantik ini akhirnya sampai juga!" sambut Ibu Lina—Ibu Alam—begitu aku melangkah melewati pintu depan, lalu langsung memelukku hangat.

Aku tersenyum lebar, membalas pelukan hangat Ibu Lina. Kutanggalkan sementara rasa gundah yang menggerogoti hatiku sejak aku mendengar nama Alana.

Setelah melepas pelukan, aku bergeser menyalami Ayah Dimas. Kudapatkan usapan lembut di bahuku dari Ayah Alam itu.

"Udah sehat kan, Nak?" tanya pria paruh baya itu dengan nada lembut, sembari menggiringku masuk ke ruang tengah.

"Sudah, Ayah."

"Bagus kalau gitu. Kalau Masmu itu lebih mentingin kerjaannya daripada kamu, aduin ke Ayah ya, Nak. Jangan sungkan."

Ibu Lina terkekeh. Sambil menuntunku untuk duduk di meja makan, ia berujar, "Kamu tahu? Ayah marah besar sama Masmu waktu tahu kamu berobat sendiri waktu sakit kemarin."

Ayah Dimas yang baru saja meletakkan cangkir tehnya di meja menoleh, lalu menatap Alam dengan tatapan tajam.

"Ya jelas Ayah marah," sahut Ayah Alam mantap. "Tugas laki-laki itu menjaga. Lah ini, calon mantu Ayah sakit terus ke klinik sendirian, Masmu malah sibuk sama kerjaannya. Awas aja kalau sampe keulang lagi, Ayah bakal ngenalin Disa sama anak teman-teman Ayah. Banyak yang lebih hebat, kamu mah nggak ada seujung kukunya. Biar nanti Disa tinggal milih."

Alam yang baru saja hendak menyendok nasi langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap Ayahnya dengan wajah memelas. "Ya jangan dong, Yah, Alam bisa gila kalau kehilangan Disa."

Calon mantu Ayah.

Lihat selengkapnya