Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #17

Kalah Telak

Sisa kehangatan pelukan Alam semalam menjadi bahan bakar energi yang mengantarkanku melangkah di selasar kampus, mendampingi Alam untuk acara seminar di almamaternya pagi ini. Sengaja kupakai dress elegan berwarna abu-abu gelap, senada dengan warna jas yang dikenakan Alam, menegaskan pada semua orang di tempat ini bahwa akulah pasangannya.

​Alam melambatkan langkahnya. Ia sedikit menunduk untuk berbisik di telingaku, "Makasih ya, sayang, udah mau nemenin Mas. Tapi kalau boleh jujur, kamu terlalu cantik hari ini. Mas rasanya nggak rela kamu dipandang banyak laki-laki kayak sekarang."

​Seketika aku mengedarkan pandangan, dan benar saja, kami telah menjadi pusat perhatian mahasiswa yang lalu-lalang di sepanjang koridor. Aku mengeratkan genggaman tanganku pada Alam, berusaha menguatkan langkahku yang mulai terasa goyah.

​Seolah menyadari kegugupanku, Alam meremas jemariku yang ada di genggamannya. Senyumnya terbit, begitu hangat dan menenangkan.

​Namun, semua ketenangan itu mendadak menguap tanpa sisa saat kami melangkah melewati pintu gedung auditorium utama. Udara dingin dari pendingin ruangan seketika menusuk kulit. Suasana di dalam ruangan masih cenderung sepi karena kami memang berangkat lebih pagi, Alam harus melakukan sesi briefing terlebih dahulu dengan tim penyelenggara.

​Kedua mataku langsung tertuju pada banner digital raksasa yang terpampang sebagai latar panggung utama. Di sana, tampak jelas potret Alam dan Alana. Di bawahnya, tercetak tebal nama dan gelar mereka masing-masing: Alam Daneswara, S.H., M.H. dan Alana Mauren, S.H., LL.M.

​Dadaku seketika terasa sesak karena pasokan oksigen yang mendadak menipis. Namun, langkah kakiku tetap kupaksakan mengikuti Alam yang menuntunku menuju kursi barisan paling depan.

​Baru saja aku duduk, seorang pria berusia hampir lima puluhan mendatangi kami dengan senyum lebar. Aku buru-buru berdiri kembali mengikuti Alam, lalu menjabat tangan pria yang dikenalkan Alam sebagai Pak Ndaru. Rupanya, inilah sosok dosen di balik pesan WhatsApp yang sempat mengguncang pertahanan mentalku kemarin.

​"Siapa nih, Lam?" tanya Pak Ndaru dengan alis naik-turun, menggoda Alam.

​Dengan penuh kebanggaan, Alam melingkarkan lengannya di bahuku. "Calon istri, Pak. Doakan ya, semoga sebentar lagi bisa nyebar undangan."

​Di tengah sisa rasa percaya diriku yang berada di titik paling rendah akibat masa lalu Alam, aku dibuat sedikit melambung oleh perkataannya. Kalimat itu diucapkannya penuh kepastian, seolah ia ingin memamerkan pada dunia tentang hubungan kami. Tak ada keraguan sedikit pun dari nada suaranya.

​Namun, jawaban Pak Ndaru selanjutnya bagai belati yang menusuk tepat ke ulu hatiku.

​"Aamiin! Pinter kamu cari pasangan. Seleramu dari dulu konsisten ya," kata Pak Ndaru memuji Alam sembari menepuk bahunya renyah.

Konsisten.

​Kata itu langsung membuat kepalaku mendongak kaku, menatap potret Alana di banner yang sedang tersenyum manis. Kata-kata Pak Ndaru sama persis dengan kalimat teman Alam yang kami temui di mall hari itu.

​Kesendirianku saat Alam pergi bersama Pak Ndaru ke balik panggung untuk briefing membuatku kian tenggelam dalam renungan. Pikiranku riuh oleh berbagai praduga bahwa Alam benar-benar menjadikanku sebagai bayangan dari masa lalunya yang gagal.

​Aku bahkan tak menyadari saat ruang auditorium ini perlahan mulai dipadati oleh peserta seminar. Hiruk-pikuk di sekelilingku kalah bising oleh keraguan di dalam kepalaku sendiri.

​Kesadaranku baru kembali sepenuhnya ketika pembawa acara memanggil nama Alam dan Alana untuk naik ke atas panggung.

​Dan untuk pertama kalinya aku melihat Alana secara langsung.

​Ketukan stiletto heels yang dikenakan Alana memantul nyaring di dalam ruangan yang mendadak hening begitu keduanya melangkah masuk. Dari kursi baris paling depan, aku menunduk, menatap lipatan dress abu-abu gelap yang melekat di tubuhku.

​Sepulang dari rumah Alam semalam, aku langsung mengobrak-abrik isi lemariku, mencari pakaian yang paling selaras dengan warna jas abu-abu yang akan dikenakan Alam. Aku mengira kesamaan warna itu bisa menjadi penegas bahwa akulah yang memiliki Alam saat ini.

Lihat selengkapnya