Kata sah yang di ucapkan saksi disambut suka cita dan doa-doa yang dipanjatkan untuk pernikahan Della. Semua orang tampak bahagia, kecuali aku. Berkali-kali aku mengelap telapak tanganku yang terus berkeringat, sangat tidak nyaman berada di atmosfer yang terasa asing ini.
Tidak ada seorangpun yang mendekat atau mengajak berbicara, mereka sibuk bercengkrama tanpa mengajakku. Ibu tidak hadir di acara pernikahan Della. Setelah bercerai, sebisa mungkin Ibu menghindar untuk bertemu Ayah. Sedangkan Alam yang berjanji akan menemaniku, belum juga datang. Sejak pertengkaran dengannya sepulang dari acara seminar, hubungan kami merenggang. Aku tidak lagi membahas acara pernikahan Della padanya. Aku sudah pasrah jika Alam tidak datang.
Disudut ruangan, ku lihat Bella yang tengah bergurau dengan sepupuku yang lain, sedangkan Ayah duduk diantara pada saudaranya. Berkali-kali aku melihat Ayah melirikku, namun tidak sedikitpun ia berniat menghampiri. Aku merasa asing di tengah keluargaku sendiri.
Aku menghela nafas berkali-kali, berusaha cuek ketika adik-adik Ayah yang duduk tak jauh dariku melirikku, lalu berbisik dengan yang lain. Aku menunduk, memeriksa apakah ada yang salah pada diriku, namun tidak ada.
Aku menoleh ketika merasakan tepukan lembut dibahuku. Rupanya Nenek pelakunya, wanita itu tersenyum hangat. Hanya Nenek yang menyambutku dengan hangat, sejak dulu.
"Kok nggak gabung sama yang lain, nduk?" Tanya Nenek sambil melirik kearah sepupuku yang lain.
Aku tersenyum canggung, bingung harus menjawab apa. Aku tidak di ajak oleh mereka, dan aku tidak ingin sok akrab.
Seolah paham apa yang aku pikirkan, Nenek hanya tersenyum. Tangan rentanya meraih tanganku untuk digenggam. "Yaudah, Nenek temenin ya."
"Nenek apa kabar?" Tanyaku untuk mengusir sepi.
"Baik, Disa nggak pernah main kerumah Nenek kalo enggak lebaran, Nenek jadi kangen."
Aku meringis, "maaf ya Nek, Disa sibuk banget, kerjaannya banyak." Alibiku.
"Nenek nggak sabar liat Disa menikah, pasti cantik sekali." Celetuk Nenek tiba-tiba.
Dadaku langsung terasa sesak mendengar ucapan Nenek, aku sendiri tidak ada bayangan untuk menikah dan duduk dipelaminan. Tidak terbayang olehku orangtua mana yang akan mendampingiku di pelaminan nanti mengingat keluargaku sudah berantakan. Bahkan aku sendiri sudah berniat mengakhiri hubunganku dengan Alam.
Tepat sebelum aku membuka mulut untuk menjawab ucapan Nenek, Ayah kembali menoleh kearahku.
Nenek tersenyum menatap Ayah, ia menepuk punggung tanganku pelan. "Takut kayaknya Ayahmu kalo anaknya nggak ditemenin, daritadi ngeliatin terus." Kata Nenek sambil tersenyum sendu. "Nggak apa-apa kalo Disa lupain Nenek, tapi jangan Ayahmu ya, nduk. Sering-sering telpon Ayahmu, tanyain kabarnya. Ayahmu itu suka diem aja kalo sakit, nanti kalo udah parah banget baru bilang."
Aku tersenyum hambar, ingin sekali aku menjawab ucapan Nenek, harusnya Nenek menyampaikan pesan itu pada Ayah, bukan padaku. Ayahlah yang melupakanku, ia membuangku setelah mendapatkan keluarga baru.