Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #19

19. Akhir Hubungan

Sepanjang perjalanan pulang, bibirku terkunci rapat. Sesekali aku menyeka air mata yang dengan lancang dan tanpa bisa ku cegah menetes di pipiku. Pertengkaran itu tidak membuat perasaanku lega, namun justru membuat dadaku terasa semakin sesak. Tatapan sendu Ayah menghantuiku, menghadirkan rasa bersalah yang tak bisa ku tepis. Aku tak bisa membayangkan bagaimana hubunganku dengan Ayah dan keluarganya setelah ini, juga respon Ibu jika mengetahui semuanya.

Di balik jendela mobil yang memburam karena gerimis, tanpa sengaja aku melihat seorang Ayah yang tengah menjemput anaknya pulang sekolah. Dengan penuh kasih sayang dan kehangatan, pria itu memasangkan helm di kepala anaknya. Senyum mirisku terbit. Di kehidupan ini, aku tidak beruntung soal Ayah, tak sedikitpun ku dapatkan kasih sayang dari Ayah. Jika ada kehidupan lain, aku berharap mempunyai Ayah yang penuh kasih sayang padaku, Ayah yang bertanggungjawab dan selalu memanjakan juga menjagaku.

Tak terasa Alam sudah menghentikan mobilnya tepat di depan kostku. Setelah menyeka air mata untuk terakhir kalinya, aku berniat langsung keluar, namun ternyata pintu mobil masih terkunci.

Aku menoleh, kini Alam yang menatapku dengan sendu. Aku menarik nafas, dengan cukup tahu diri, aku mengucapkan terimakasih pada pria itu.

"Makasih ya Mas. Boleh buka pintunya? Aku mau istirahat. "

"Sini," tanpa aba-aba Alam menarikku kedalam pelukannya. Ini adalah pelukan kesekian yang selalu ia berikan ketika aku sedang rapuh.

Dalam pelukannya, pertahananku runtuh. Aku tak pernah bisa membendung tangisku. Air mataku jatuh membasahi kemeja batik yang ia kenakan. Usapan lembut dipuncak kepalaku menambah rasa sesak yang bergelayut di dadaku.

"Maksud Ayah baik sayang, beliau nggak mau anaknya merasa tersisihkan."

Tangisku langsung terhenti. Hangatnya pelukan Alam menguap dalam sekejap. Dengan gerakan sedikit kasar, aku melepas pelukan itu, menatap Alam dengan pandangan rumit.

"Kamu belain Ayah, Mas?" Tak bisa ku sembunyikan kekecewaan dari nada suaraku. Sama sekali tak menyangka Alam akan mengatakan kalimat itu.

"Bukan gitu sayang, kamu cuma salah memahami Ayah, Ayah keliatan sayang banget sama kamu."

"Kamu yang nggak paham!" Bentakku tanpa sadar. "Kamu nggak pernah jadi aku! Ayahmu selalu ada Mas, Ayahmu nggak pernah pernah pergi ninggalin kamu."

Aku terkekeh getir sembari menyeka air mata yang tak kunjung berhenti menetes. Terlintas kembali ucapan Tante Ami tadi. Ku pandangi wajah Alam dengan tatapan terluka. "Bener kata Tante Ami, kita ini nggak selevel, dunia kita beda jauh. Kita nggak cocok, Mas."

Alam melenggeleng cepat, berusaha mengelak, ia genggam tanganku dengan erat, "enggak sayang, jangan dengerin omongan orang."

"Tapi nyatanya emang gitu. Bahkan temen-temen dan orang dilingkunganmu sampai menyayangkan kenapa kamu sama aku. Kamu lebih cocok sama Alana, kalian serasi."

Alam mengusap wajahnya kasar, ia mencengkram setir mobil sampai buku jarinya memutih. "Alana lagi. Berapa kali Mas bilang kami nggak ada hubungan apa-apa Disa. Mas nggak ada perasaan apapun sama Alana."

Lihat selengkapnya