Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #20

20. Kejujuran di Rumah Sakit

Bau antiseptik yang pekat juga keheningan yang mencekam menyambutku pertama kali ketika tersadar. Aku menyipitkan mata ketika pendar lampu ruangan menyilaukan mata. Kepalaku berdenyut nyeri, dengan kerongkongan yang terasa kering dan pahit.

Untuk sejenak, aku menolehkan kepala dengan gerakan kaku dan terpatah-patah, berusaha mencerna tempat ini. Tiang infus yang berdiri tegap di samping kepalaku menyadarkanku bahwa sekarang aku ada dirumah sakit.

Mataku berkaca-kaca ketika mellihat pemandangan di sebelah kiriku. Di sofa dekat jendela, ada Ibu dan Bapak yang tengah terlelap. Sedangkan disampingku ada seorang pria yang menelungkupkan wajah dengan jemari yang masih menggenggam tanganku. Melihat ada banyak uban yang mencuat diantara rambut hitamnya yang berantakan, ku pastikan ini bukan Alam. Jika Bapak ada bersama Ibu, Ayahlah yang kini berada di sebalahku.

Kedua mataku mengembun, rasa hangat menjalar dengan lembut hatiku. Entah bagaimana caranya aku bisa ada dirumah sakit, tapi rasa haru karena kini aku dijaga oleh ketiga orangtuaku tak bisa ku bendung. Air mataku menetes.

Aku menyeka air mataku dengan tangan kanan. Seketika aku membeku, merasakan sebuah logam dingin yang menyentuh kulit wajahku. Saat ku perhatikan, disanalah aku melihat cincin yang sudah ku kembalikan pada Alam tiga minggu yang lalu kembali melingkar dengan cantik di jari manisku.

Aku makin tergugu, bukan hanya haru, tapi juga rasa bersalah dan rasa takut yang teramat sangat merajai hatiku, membuat dadaku makin terasa sesak. Alam masih sangat keras kepala mempertahankanku.


*****

Paginya, suasana haru kembali menyelimuti ruang rawatku. Ibu memelukku erat dan mendaratkan kecupan bertubi-tubi di wajahku. Tangisnya luruh, ia berkali-kali berkata kaget saat dikabari aku ditemukan pingsan di kost dan dalam kondisi kritis, ia takut kehilanganku. Sedangkan Ayah hanya tersenyum hangat, dengan gerakan kaku mengusap puncak kepalaku. Bapak hanya berdiri di ujung ranjang, senyumnya tampak lega.

Suasana haru itu bertahan setengah jam. Ayah berdiri di dekat jendela, sedangkan bapak izin keluar sebentar untuk membeli sarapan mereka. Aku mengobrol ringan dengan Ibu, berkali-kali wanita itu bertanya apa yang aku rasakan. Ketika sedang asik mengobrol, pintu ruang rawatku terbuka. Ku pikir bapak yang datang, ternyata Alam.

Pria itu datang dengan raut khawatir yang belum juga hilang. Selama aku mengenalnya, baru kali ini aku melihatnya dengan versi yang paling berantakan. Wajahnya tampak kuyu dengan lingkar hitam dibawah matanya, rambutnya acak-acakan.

Ada senyum lega yang muncul saat ia melihatku. Alam menyalami Ibu dan Ayah dengan sopan. Ia berjalan mendekat kearahku, lalu mengusap rambutku lembut, seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara kami.

"Kenapa bisa sampe gini sih sayang?" Tanya Alam lembut sembari menggenggam tanganku dengan hangat.

Kedua mataku berkaca-kaca. Aku sudah berusaha menghindarinya, meninggalkannya dengan kejam, namun ia tetap disini, tetap khawatir dengan kondisiku.

Lihat selengkapnya