Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #21

21. Deretan Angka di Sebuah Buku Tabungan

Pasca kejujuran itu, kondisiku memburuk. Aku hanya bisa terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang pernapasan yang terpasang. Dadaku terasa sangat sesak, sulit sekali bernafas tanpa alat bantu. Rasa perih di ulu hati masih terus menyiksaku. Aku masih terus mengeluarkan isi perutku ketika ada makanan atau minunan masuk.

Namun, sudah tak ku dengar lagi pertengkaran Ayah dan Ibu. Keduanya seperti sepakat untuk membuang ego masing-masing demi kesehatanku.

Hatiku miris ketika melihat Ibu yang suka diam-diam menangis ketika aku tidur. Seperti malam itu. Ibu pikir aku sudah tertidur, nyatanya belum. Sebelah tangan Ibu menggenggam tanganku, sedangkan sebelahnya lagi ia gunakan untuk mengusap lembut rambutku. Ibu terisak lirih.

"Sudah, Bu. Jangan ganggu tidur Disa."

Itu suara Bapak, sepertinya pria itu juga mendekat.

"Ibu takut, Pak." Suara isakan Ibu tampak tertahan. "Ibu takut Disa ninggalin kita."

Mati-matian aku menahan diri untuk tidak ikut terisak. Ketakutan itu juga sama ku rasakan. Aku takut mati. Ibu tidak punya siapa-siapa selain aku. Aku takut meninggalkan Ibu sendiri. Aku belum siap untuk meninggalkan dunia ini.

***

Paginya, aku masih di beri nafas untuk bangun. Hal yang selalu aku syukuri selama ada di rumah sakit. Seperti biasa, Ibu menyuapiku sarapan dan aku memuntahkannya. Wanita itu membersihkan diriku tanpa kata, namun matanya memancarkan kesedihan yang dalam.

Jika biasanya Bapak hanya bediri diujung bankarku, kini pria itu mendekat, duduk disampingku, dikursi yang biasa Ayah duduki.

Tangan Bapak bergerak kaku dan canggung, menepuk kepalaku pelan.

"Nggak capek apa nduk, muntah terus?" Kata Bapak lembut.

Mataku seketika memanas. Selama Ibu menikah dengan Bapak, tak pernah kami sedekat ini. Bapak tak pernah menunjukkan perhatiannya secara langsung. Bentuk kasih sayangnya adalah dengan memenuhi semua kebutuhanku.

"Capek, pak. Tapi setiap diisi perutnya, makanannya kayak cuma numpuk di leher. Rasanya kayak kecekik terus dada Disa sesak kalo nggak dimuntahin." Jelasku dengan suara parau, menahan tangis.

Bapak menghela nafas, "apa yang Disa pikirin? Kata dokter GERD bukan cuma karena soal pola makan, tapi juga pikiran." Bapak lalu menoleh pada Ayah dan Ibu bergantian. "Tuh liat, Ibu sama Ayah Disa udah nggak berantem lagi, udah akur. Mikirin apa lagi, nduk?"

Lihat selengkapnya