Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #22

22. Keputusan Disa

Ayah benar-benar menepati ucapannya. Ia selalu ada disampingku, menyuapiku, dan memberi kasih sayang yang selama ini ku idamkan. Entah sudah berapa kali ia memelukku. Kami menonton kartun bersama, tertawa bersama seperti dulu, sebelum Ayah pergi.

Ayah juga menemaniku ke poli jiwa. Atas saran dokter, bukan hanya fisikku saja yang harus diobati, tapi juga mentalku. Ditambah, aku mempunyai trauma dan ketakutan akan pernikahan.

Berkali-kali aku menolak ke poli Jiwa, takut di cap gila. Dalam kepalaku, orang awam akan melabeli seseorang terkena gangguan jiwa jika sampai berobat ke psikiater. Namun, Ayah selalu meyakinkanku.

"Ayah cuma pengen anak Ayah sembuh sepenuhnya. Ayah yang bikin Disa trauma, dan Ayah mau trauma itu sembuh, biar Disa bisa jalanin hari tanpa beban lagi. Ayah mau anak Ayah punya masa depan. Gimana kalo Disa takut menikah terus? Ayah nggak bisa nemenin Disa selamanya. Kalo nanti Ayah dan yang lainnya udah nggak ada, siapa yang menenin Disa?"

Mataku berkaca-kaca ketika Ayah mengatakan itu. Apalagi Ayah mengatakannya sambil mendekapku. Akhirnya aku setuju, dan meminta untuk tetap di dampingi. Ibu juga ikut masuk. Ibu yang sudah banyak mengalami kekalahan dalam hidupnya, Ibu yang banyak menanggung derita, mentalnya juga tidak baik-baik saja. Psikis Ibu juga ikut diobati.

Namun meski begitu, rasanya mentalku masih sangat berantakan. Aku duduk termenung di depan jendela ruang rawatku. Mataku menatap kosong pada jalanan kota Semarang yang terlihat dari balik jendela. Kota ini menyimpan banyak sekali kenangan, terutama bersama Alam.

Alam menjadi kanvas proyeksi traumaku. Dia menjadi korban salah sasaran dari trauma yang dibuat Ayah dan Ibu. Aku bisa bersama Ayah dan Ibu tanpa merasa tertekan, berbeda dengan Alam. Ketika bersama Alam, telapak tanganku langsung mengeluarkan keringat dingin. Bayangan Alam yang mengajak menikah, kedekatan Alam dan Alana, juga permintaan Alam agar aku menjadi ibu rumah tangga seutuhnya dan dilarang untuk bekerja lagi terus berputar dikepala ketika aku melihatnya. Aku membayangkan Alam akan berubah seperti Ayah nantinya, dan aku tidak sanggup ada di kondisi itu, ditinggalkan dalam ketidakberdayaan.

Setiap kali Ibu menceritakan masa lalunya yang kelam, aku selalu merasakan dadaku sesak, seolah aku sendiri yang sedang mengalami rasa sakit itu. Tanpa sadar, aku tumbuh menjadi gadis yang memandang pernikahan sebagai sebuah jebakan maut.

Tapi merelakannya juga berat untukku. Aku tidak sanggup melihatnya bersama yang lain. Rasanya ingin sekali aku meninggalkan Alam dan kota ini, agar hatiku bisa berdamai. Setidaknya aku tidak perlu melihat Alam bersama yang lain.

Untuk kesekian kali, ponselku kembali berdering. Panggilan telpon dari pak Benny. Jika biasanya aku akan langsung mengangkatnya dan mendahulukan semua perintahnya, kali ini aku mangkir. Kepalaku rasanya ingin pecah karena mendapat spam telpon dan chat dari atasan dan rekan kerjaku yang lain. Aku bagai tersangka yang melarikan diri.

Dari kabar yang ku dengar, pekerjaan dikantor banyak yang menumpuk. Aku yang biasa diandalkan di segala situasi, ketidakhadiranku langsung menghambat kinerja kantorku.

Namun aku juga merasa lelah, tekanan perkerjaan disana terlalu keras. Seperti sekarang ini, awalnya pak Benny hanya bertanya kapan aku keluar dari rumah sakit, sekarang pria itu memintaku WFH, banyak deadline pekerjaan yang harus segera ku kerjakan, tanpa bertanya bagaimana kondisiku dan apakah aku sudah sanggup bekerja.

Selama ini aku menjadikan pekerjaan sebagai pelarian dari rasa kesepian, melarikan diri dari trauma, dan mati-matian mencari validasi bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri dan pantas bersanding dengan Alam. Aku berpikir, semakin keras aku bekerja dan semakin tinggi pencapaianku, semakin berkurang rasa sakit dan rasa terbuang yang kupendam, juga tidak ada yang memandangku rendah ketika bersama Alam.

​Tapi aku salah.

​Pekerjaan ini tidak pernah benar-benar menjadi penolongku, ia hanya menutupi lukaku dengan rasa lelah sampai tubuhku sendiri menyerah dan hampir mati.

"Ngelamunin apalagi, Dis?"

Lamunanku buyar ketika mendengar teguran Ibu. Aku sontak menoleh, Ibu sudah berdiri disampingku. Ayah dan Bapak langsung menghentikan obrolan mereka dan memberikan atensi penuh padaku.

Belum sempat aku menjawab, ponselku kembali berdering dan menampilkan nama Pak Benny sebagai penelpon.

"Ibu liat daritadi atasanmu nelpon terus, kenapa?" Tanya Ibu lagi.

Aku menghela nafas pelan, "nanya kapan Disa masuk Bu, nyuruh Disa WFH soalnya banyak deadline."

Kening Ayah langsung berkerut dalam, "memangnya dia nggak tau kamu masih dirawat?"

"Kemaren juga temenmu Sila yang kesini itu bilang, sebelum masuk rumah sakit kamu lembur terus sampe larut malem, sampe lupa makan juga kan?" Timpal Ibu.

Lihat selengkapnya