Pewaris Ketakutan Ibu

ardiin
Chapter #23

23. Akhir Yang Diharapkan

Rintik hujan menyambutku ketika tiba di Ungaran. Semesta seperti tahu suasana hatiku hari ini selepas meninggalkan Semarang, Alam, dan seluruh kenangannya. Kami segera membersihkan diri, sedangkan Ayah pulang kerumah Nenek.

Malamnya, aku melamun sembari menatap langit kamar ketika Ibu masuk. Wanita paruh baya itu membawa selimut di tangannya dengan senyum teduh.

"Ibu boleh tidur sama Disa?"

Aku langsung mengangguk setuju. Ibu berbaring disampingku. Posisinya miring. Selimut yang tadi ia bawa, ditariknya untuk menutupi tubuh kami. Tangannya yang mulai keriput ia gunakan untuk mengusap rambutku dengan lembut.

Belum apa-apa, mataku sudah memanas. Entah kapan terakhir aku tidur bersama Ibu. Rasanya seperti bernostalgia pada masa kecilku, ketika dunia belum menghajarku tanpa ampun seperti sekarang.

"Maafin Ibu ya, Ibu nyesel udah cerita masalah Ibu ke Disa sampe bikin anak Ibu ini trauma. Maaf ya sayang, Ibu bawa Disa ke situasi sekarang. Kalo aja dulu Ibu nggak menikah sama Ayah, mungkin Disa nggak akan bernasib gini."

Aku sontak memeluk Ibu, menyembunyikan air mataku. "Kalo Ibu nggak menikah sama Ayah, Disa nggak disini, Bu."

"Ya nggak apa-apa. Disa bisa lahir dari keluarga lain, keluarga yang utuh, yang cemara."

"Disa maunya jadi anak Ibu!" Aku tergugu, sangat menyakitkan mendengar penuturan Ibu yang penuh luka dan ketidakpercayaan diri.

Aku tidak menyalahkan Ibu karena kelahiranku. Bagiku, Ibu hanya seorang perempuan yang dulu mengharapkan dicintai dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, sepertiku sekarang. Namun nyatanya, takdir terlalu jahat menjatuhkannya ke lubang yang paling dalam. Ia dilukai berkali-kali, tanpa bisa melawan.

"Terimakasih ya nduk sudah milih Ibu jadi orangtuamu. Diantara sengsaranya Ibu, Ibu sangat bersyukur punya Disa. Disa itu selalu jadi penguat Ibu."

Malam itu, kami menangis bersama. Saling memaafkan, juga sama-sama sepakat untuk membuka lembaran baru. Malam itu, kami menyadari kehadiran kami adalah hal yang sangat disyukuri satu sama lain.

Aku menyadari Ibu seberjuang itu untukku. Dulu, Ibu memutuskan menikah dengan Bapak karena Bapak terlihat menyayangiku. Ibu melihatku butuh figur seorang Ayah. Dan memang terbukti bagaimana kasih sayang Bapak terhadapku. Kasih sayang yang tak pernah diucapkan lewat kata. Ibu juga terkejut ketika tahu Bapak menyiapkan finansial jangka panjang untukku.

Dirumah sakit juga Ibu baru tahu, dulu Bapak lebih dulu jatuh hati padaku, baru pada Ibu. Bapak menyayangiku sejak ia melihatku dengan rambut kuncir dua yang terpisah dari Ibu di pasar. Bapak yang menuntunku duduk di depan tokonya, menunggu wanita yang kehilangan anak. Bapak jatuh hati pada ketenanganku. Itu juga menjadi pertemuan pertama antara Bapak dan Ibu. Kejadian yang bahkan sudah ku lupakan.

Selama masa peyembuhanku, tak sedikit gunjingan tetangga yang ku dengar. Menyayangkan keputusanku resign. Bapak yang selalu menasehatiku untuk tidak mendengarkannya.

Baru ku sadari ketika lama dirumah, lingkungan tempat tinggal Ibu banyak orang-orang toxic dan suka menggunjing. Ibu sengaja ikut berkumpul bersama mereka karena kesepian, juga agar tidak menjadi bahan gunjingan. Tetapi justru rasa bersyukur Ibu yang terkikis habis. Setiap hari teman-teman Ibu selalu pamer, membuat Ibu membandingkan dengan Bapak dan akhirnya melabeli Bapak pelit, karena tuntutannya agar terlihat setara dengan mereka tak pernah dikabulkan Bapak.

Rasanya aku ingin mengejek Ibu, mengatakan kata-katanya dirumah sakit tempo hari cocok dengan Ibu juga. Ibu seharusnya mencari lingkar pertemanan yang setara, yang menerimanya apa adanya.

Aku sudah kenyang menjadi bahan gunjingan mereka selama dirumah. Aku berusaha menutup telinga, berusaha tak terpengaruh. Aku tak ingin jadwal konseling dengan psikiater ku makin lama. Aku ingin segera sembuh. Namun rupanya Ayah yang tidak tahan.

Seperti hari ini, Ayah rela datang dari Jogja untuk menemaniku berobat ke psikiater. Ayah datang menjemput ketika Bu Avi, salah satu teman Ibu tengah lewat.

"Loh Disa masih disini toh. Nggak sayang apa sama ijasah S1 nya kalo nganggur gitu?" Tanya Bu Avi dengan tatapan julidnya.

Aku memutar bola mata malas. Baru saja aku akan membuka mulut, Ayah lebih dulu menjawab.

Lihat selengkapnya