Blurb
Siapa sangka bahwa kebenaran adalah hantu yang paling ditakuti di kediaman ini?
Bagi Seharum Wening Rembulan, hidupnya adalah sebuah deretan kepatuhan. Wening dipaksa untuk menjadi wanita yang "aman". Kuliah di jurusan yang tidak diinginkan, pulang tepat waktu, dan menjauhi segala bentuk keramaian politik. Itulah deretan aturan utama yang disusun rapi dan tidak boleh ditawar oleh Ibunya. Aturan mutlak yang ternyata juga dipelopori kuat oleh anggota keluarga tertua, Neneknya. Bagi Ibu dan Neneknya, suara adalah kutukan, dan diam adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Sayangnya, sunyi yang telah diwariskan turun-temurun selama puluhan tahun itu mulai retak ketika Wening nekat bergabung dengan pers mahasiswa secara sembunyi-sembunyi. Penelusurannya terhadap beasiswa yang salah sasaran hingga skandal pelecehan yang selalu berakhir damai oleh pihak kampus, malah menyeret Wening ke gudang belakang rumah yang selama ini terkunci rapat. Di tempat tertutup itu, Wening menemukan sebuah rahasia yang terbungkus rapi dalam naskah-naskah usang yang tidak sempat terbit. Ia menyadari bahwa suara yang selama ini ia dengar di dalam kepalanya, merupakan gema dari keberanian seseorang yang telah dihapus paksa dari sejarah keluarga.
Wening menyadari bahwasanya birokrasi kampus yang ia lawan hanyalah perpanjangan tangan dari kekuatan gelap di masa lalu. Musuh yang dulu membungkam keluarganya, kini kembali mengincar Wening. Di tengah desakan perjodohan dan juga kekuatan obsesif keluarga, Wening dihadapkan oleh dua pilihan: "Menjadi Pewaris Keheningan" atau "Meledakkan Kebenaran" meski dirinya harus menjadi target selanjutnya dari kekuasaan hukum yang tidak tersentuh.