35°C.
Alih-alih disapa oleh rintik-rintik atau hujan deras seperti yang diberitakan dalam ramalan cuaca hari ini, Kota Malang malah diteror dengan teriknya pusat tata surya yang membulat sempurna di angkasa. Durasi teriknya pun tidak main-main, mulai dari fajar menyingsing hingga langit biru mulai merona jingga. Jadi tidak heran jika luasnya lapangan rektorat di awal bulan April ini terlihat jauh lebih bersih dari hiruk pikuk manusia yang berlalu-lalang seperti biasanya saat moving class ke gedung lain.
Walaupun jalanan alternatif untuk berteduh bisa mengurangi rasa panas yang menyengat kepala, tetapi bulir-bulir keringat yang jatuh membasahi pelipis hingga cetakan basah yang menyerupai danau kecil di antara sela-sela ketiak, tidak bisa berdusta tentang ramalan cuaca yang meleset total. Malang yang dikenal akrab sebagai Kota Dingin kian merupa menjadi Gurun Sahara.
Untungnya, hal mengenaskan tersebut tidak terjadi pada satu-satunya mahasiswi yang bertugas di dalam gedung utama Malang Metropolitan University (MMU), tepatnya lantai tiga. Penampilannya masih rapi dari ujung kepala hingga kaki sejak mendaratkan pantatnya di kursi putar pukul 8 pagi. Bahkan aroma khas teh dari calir raga yang dioleskan rata pada seluruh tubuhnya dan semprotan minyak wangi dengan aroma cendana setelah mandi pagi tadi, samar-samar masih tercium karena memang aktivitasnya yang minim gerak di dalam ruangan ber-AC.
Dari kovernya, aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswi tersebut terlihat nyaman dan tenang. Namun, siapa sangka bahwa aktivitas teduh tersebut adalah sebuah kontradiksi bagi Seharum Wening Rembulan? Berada di dalam ruangan yang masih dijaga kelestarian arsitektur kolonialnya terasa seperti mendekam di dalam penjara. Setiap pergerakan besar atau spontan rasanya seperti mengundang atensi sekitar untuk menjadi pusat perhatian. Hawa dingin yang terus menggelitik dan bergulir di dalam ruangan seolah-olah membawa bisikan yang mencekam dan menuntut kepatuhan hingga bulu kuduknya tidak pernah absen untuk meremang. Waktu juga seolah-olah berhenti pada detak jarum jam dinding yang kaku dan bunyi mesin fotokopi yang mengerang rendah.
Atensi Wening bergerak teratur dari ujung ke ujung untuk memperhatikan benda-benda di atas mejanya. Sebagai mahasiswi semester enam Administrasi Perkantoran yang sedang menjalani masa magang, benda-benda yang tertata rapi di atas meja adalah sebuah representasi dari ketertiban yang absolut. Di sisi kanan, ada tumpukan surat masuk yang sudah diurutkan berdasarkan sistem abjad. Di sisi kiri, ada beberapa lembar surat yang menunggu untuk dibubuhi stempel basah. Di tengah, ada sebuah komputer—yang usianya tidak kalah tua dengan gedung tertua di kampus ini—dengan tampilan baris-baris spreedsheet yang monoton. Tepat di hadapannya, ada tumpukan map tulang warna-warni seperti pelangi yang siap untuk dieksekusi.
Jari-jari Wening bergerak lincah di atas keyboard menekan tuts-tuts alfabet dan numerik sesuai dengan kode-kode arsip dengan kecepatan yang patut diacungi jempol.
001/HBH-MMU-MLG/IV/2026
002/HBH-MMU-MLG/IV/2026
Sebenarnya, Wening enggan membicarakan hal ini karena takut dikata besar kepala. Namun, ia sering mendapatkan sanjungan dari staf senior di kantor ini. Bagi mereka—yang mayoritas adalah sekumpulan generasi X akhir dan Y awal, hadirnya Wening adalah sebuah anugerah karena ia cepat tanggap dengan sistem kampus yang baru. Tidak banyak bicara, teliti, tekun, dan seolah-olah ia memang dilahirkan untuk menjinakkan kekacauan birokrasi. Itu mengapa pepatah populer "Talk Less, Do More" melekat begitu sempurna pada Wening.
Namun, siapa sangka akan ada cerita lain di balik lincahnya jemari yang menari-nari di atas tuts keyboard? Meskipun baris-baris spreedsheet menyedot seluruh atensinya untuk fokus ke layar, tetapi ada dunia lain yang sedang meronta minta dilepaskan dari aktivitas yang konsisten dan presisi ini.