Kata orang, rumah adalah tempat ternyaman untuk pulang. Sayangnya, Wening kehilangan peran rumah itu sendiri. Alih-alih merasa nyaman dan tenang, kedua tungkai yang baru saja melintasi ambang pintu rumah seolah-olah menuntunnya untuk mendekam kembali ke dalam jeruji besi. Meskipun jerujinya berbeda, tetapi ia bisa merasakan adanya tekanan yang sama-sama membuat dadanya terasa sesak. Dua pasang atensi yang mengawasi dari ruangan berbeda itu seperti menguliti setiap gerak-geriknya.
Ok, Wen. Tetap tenang. Kamu tidak melakukan kesalahan. Ibu dan Mbah Uti hanya ingin memastikan bahwa anggota keluarga termuda kembali ke rumah ini dalam keadaan selamat, monolognya dalam hati.
Samar-samar tercium aroma pekat yang membuat perutnya berdendang lembut. Dari arah dapur, aroma simfoni rempah dan keluak berlayar layaknya kabut tipis yang menghangatkan seluruh ruangan. Membuat cacing-cacing di dalam perutnya ingin segera dimanjakan dengan potongan-potongan daging sapi yang berenang bebas di lautan hitam yang gurih.
"Sudah pulang, Wen?"
"Sudah, Bu."
Wening mengiakan pertanyaan datar dan tanpa intonasi yang menyambut kepulangannya itu dengan senyuman. Ia meletakkan sepatu ketsnya di rak begitu presisi seolah-olah sedang menyusun kode arsip di kantor MMU tadi pagi. Tidak boleh ada suara yang terlalu berisik, tidak boleh ada jejak-jejak tanah yang tertinggal. Semuanya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak meninggalkan bekas. Di kediaman ini, sunyi dan kebersihan adalah cerminan lain dari penghapusan jejak.
"Bersih-bersih dulu, baru setelah itu ke ruang makan. Jangan lama-lama, Mbah Uti sudah menunggu."
"Iya, Bu. Wening ke atas dulu, ya."
Setelah meletakkan tasnya di dalam kamar, Wening kembali ke lantai satu untuk menuju ruang makan. Tanpa perlu berlama-lama, ia ikut duduk mengitari meja bundar kayu jati yang berada di tengah ruangan. Melihat adanya jarak yang begitu renggang seolah-olah memberikan batasan-batasan yang mengintimidasi.
"Sugeng daluยน, Mbah Uti."
Sapaan Wening hanya dijawab dengan anggukan kepala. Anggota tertua dalam keluarga masih sibuk merajut dalam keheningan. Di sela-sela untaian benang yang menari-nari, bibirnya senantiasa komat-kamit, merapal doa dengan suara yang tidak pernah terdengar. Sejak kehilangan pasangan hidupnya, Mbah Uti seakan-akan mematri sumpah untuk tidak pernah lagi bersuara yang lebih keras dari desauan napasnya sendiri.
Di sudut lain, sorot mata Wening jatuh pada mesin ketik jadul yang teronggok sunyi di dalam kotak akrilik yang mulai menguning. Kata Ibu, benda itu adalah satu-satunya peninggalan dari Mbah Kakung yang tidak boleh dibuka atau bahkan disentuh oleh siapa pun. Sedangkan lewat sudut pandangnya, ia merasa bahwa benda itu adalah alat komunikasi pribadi milik Mbah Uti. Sejak kecil, ia selalu melihat Mbah Uti menghabiskan waktunya begitu lama hanya untuk memandangi mesin ketik tua tersebut dalam diam. Walaupun tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya, tetapi sorot matanya bersuara begitu lantang mengenai kepedihan. Hingga saat ini, Mbah Uti masih belum bisa berdamai dengan duka nestapa puluhan tahun silam.
Lamunan Wening seketika buyar saat melihat Ibu datang dengan semangkuk rawon yang diletakkannya di tengah meja. Suara denting sendok yang berantuk dengan piring porselen layaknya bom atom yang diledakkan di tengah-tengah kesunyian.
"Magang hari ini gimana, Wen?"
Pertanyaan berulang dari Ibu yang selalu menjadi pembuka kala sesuap nasi sudah mendarat di mulut.
Wening buru-buru mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya, lalu menelan makanan yang belum dicerna dengan baik itu susah payah. "Sama seperti sebelum-sebelumnya, Bu. Lancar. Pak Andri tadi juga bilang kalau saya kerjanya bagus dan teliti."