"Loh, Mbak Wening? Tumben datangnya pagi sekali?"
Wening melirik arloji mini yang melingkar di tangan kiri. Rupanya, waktu masih menunjukkan jauh dari angka tujuh. Sebuah rekor baru terpecahkan. Sepagi-paginya ia ke kantor, biasanya pukul setengah delapan baru mengisi presensi.
"Iya, Mbak Mitra," jawab Wening sambil tersenyum. "Urusan saya di rumah sudah selesai. Jadinya, ketimbang saya gabut, saya berangkat aja, deh, ke kantor. Hehe. Mbak Mitra sendirian aja ini? Mau saya bantuin?"
Mbak Mitra menggeleng singkat, lalu tertawa kecil. "Ini sudah makanan sehari-hari buat tukang bersih-bersih kayak saya. Masa iya Mbak Wening yang udah cantik rupawan dan wangi begini malah bantu bersih-bersih? Mending Mbak ke kantor aja, dingin di sana, AC-nya sudah saya nyalakan. Teh sama kopi-kopiannya juga sudah saya isi stok baru."
Wening mengangguk. "Kalau gitu saya ke atas dulu, ya, Mbak."
"Siap, Mbak Wen. Nanti kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, Mbak Wening bisa hubungi saya."
"Oke," sahutnya. "Makasih, ya."
Kedua tungkainya masuk begitu saja ke dalam lift, menekan tombol angka tiga sebagai tujuan. Dalam perjalanan singkat itu, Wening kembali terbayang-bayang akan konversasi dingin yang terjadi di meja makan pagi ini.
"Sedayu, kamu masih ingat sama Pak Prabu yang waktu itu ke sini sama anak sulungnya? Kemarin menghubungi saya, kiranya kapan bisa datang untuk berkunjung?"
"Tidak ada larangan untuk datang berkunjung. Jika ingin berkunjung, silakan datang saja. Bukankah Ibu selalu bilang pintu rumah kita terbuka lebar untuk orang-orang yang sudah dianggap layaknya keluarga? Pak Prabu ini anak dari sahabat Bapak, kan, Bu?"
"Iya, benar. Perihal kunjungan, ini bukan kunjungan biasa, Sedayu. Pak Prabu bilang, dia ingin mempererat hubungan keluarganya dengan keluarga kita lewat perjodohan antara anak sulungnya, Satria, dan Wening."
"Perihal perjodohan, bukannya ini terlalu terburu-buru untuk hidup Wening, Bu? Wening masih menempuh pendidikan sarjana. Masih belum lulus."
"Masalahnya ada di mana? Wening bukan lagi pelajar, usianya juga lebih dari usia legal untuk menikah. Selain itu, juga tidak ada larangan untuk mahasiswi menikah. Jadi sah-sah saja jika Wening menikah dengan pria matang seperti Satria. Pak Prabu iku wong sae¹, Sedayu. Begitu juga dengan keluarganya. Saya berani jamin hidup Wening akan baik-baik saja dan terjamin keamanannya karena Pak Prabu adalah seorang Perwira Tinggi. Begitu juga dengan Satria yang mengikuti jejaknya. Saya rasa, tidak akan ada kekhawatiran di masa depan jika kita menitipkan anakmu di sana."
"Iya, benar. Namun, saya rasa hal ini terlalu buru-buru untuk Wening, Ibu. Dan, perihal perjodohan ini, saya tidak bisa memutuskan karena keputusan ini sakral untuk Wening sendiri."
"Sedayu ... ora kabeh babagan kuwi butuh persetujuan saka sing duwe urusan². Kamu lihat sendiri, setiap saya berusaha menyinggung tentang hal ini, anak semata wayangmu itu terkesan menghindari topik pembicaraan ini. Seperti sekarang, dia tidak ikut makan bersama kita. Mungkin kekhawatiran saya ini terlalu menekannya. Namun, saya melakukan ini karena saya sayang Wening. Di sisi lain, saya takut dia meninggalkan zona amannya dan melakukan hal-hal yang membahayakan nantinya."
"Tidak, Ibu. Wening tidak akan berbuat seperti itu. Dia anak yang patuh."
"Ya, Wening adalah anak yang patuh dan tidak pernah melakukan kesalahan. Hidupnya benar-benar teratur dan rapi, sama seperti kamu dulu. Sampai-sampai saya tidak menyadari adanya hal yang mencurigakan di dalam keteraturan itu."
"Saya pastikan Wening tidak akan mewarisi perilaku saya yang mengecewakan keluarga seperti dulu, Ibu."
"Tidak ada yang tahu tentang apa yang terjadi di masa depan, Sedayu Kinasih. Dan, kamu perlu mengetahui bahwa Wening adalah anakmu. Di darahnya, mengalir darahmu. Di darahnya, juga mengalir darah lelaki yang berkhianat. Tidak ada yang bisa menjamin di kemudian hari, matanya yang terlihat setenang telaga itu mungkin akan bergejolak. Ingat, Sedayu. Darah lebih kental daripada air."
"Selama saya masih ada di samping Wening, hal itu tidak akan terjadi, Ibu. Saya bisa pastikan semuanya akan baik-baik saja."
Ting!
Kehidupan benda mati seketika menyambut. Aroma kertas tua, tinta printer, dan cairan pembersih lantai beraroma mentol mengiringi langkah Wening melintasi koridor gedung pusat administrasi. Tidak ada siapa pun, hanya dirinya dan detak jam dinding yang terasa kaku.
Atensi Wening jatuh pada singgasana berlapis kulit yang selalu diagung-agungkan oleh kepala bagian kearsipan. Singgasana itu kosong, tidak berpenghuni, hanya ada tumpukan dokumen yang berantakan. Sejujurnya, ini adalah kali pertama baginya melihat tempat kerja Pak Andri tidak rapi. Mengingat bahwa pria paruh baya tersebut sangat mencintai kebersihan dan kerapian, jiwa perfeksionisnya pasti kan berceloteh panjang lebar jika melihat ketidakteraturan.
Ia merasa dilema, baiknya meja Pak Andri dibersihkan atau dibiarkan saja?
Biarkan saja, jawabnya dalam hati.