PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #1

Pemakaman Terakhir

Langit kelabu menggantung rendah di atas tanah pemakaman, seakan alam semesta pun enggan memberikan secercah cahaya pada hari yang muram ini. Angin basah berhembus membawa aroma tanah liat yang baru saja digali dan wangi bunga kamboja yang menguar tebal. Rintik hujan berjatuhan, lambat namun pasti, membasahi payung-payung hitam yang menutupi sekelompok kecil orang di sudut pemakaman bergengsi tersebut. Ini bukanlah pemakaman seorang tokoh negara, bukan pula perpisahan bagi seorang sosialita papan atas. Marni, pembantu yang telah mengabdi lebih dari dua puluh tahun kepada Hendra, meninggal dunia.


Bagi sebuah keluarga konglomerat, kehilangan seorang asisten rumah tangga biasanya hanya memicu sedikit ketidaknyamanan operasional—sebuah cek pesangon yang besar, karangan bunga standar, dan perwakilan staf rumah tangga untuk melayat sudah dianggap lebih dari cukup. Namun, apa yang terjadi di liang lahat itu sama sekali menentang kelaziman.


Hendra, sang patriark keluarga yang dikenal bertangan besi di dunia bisnis, pria yang tak pernah berkedip saat menghancurkan perusahaan lawan, kini duduk di atas kursi rodanya dengan tubuh bergetar hebat. Di pemakamannya, Hendra menangis jauh lebih dalam dibanding saat kehilangan siapa pun. Suara isaknya terdengar parau, menyayat hati, mengalahkan suara rintik hujan yang menabrak kain payung. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah ingin ikut terjun ke dalam lubang gelap di mana peti kayu itu perlahan diturunkan. Tangannya mencengkeram erat gundukan tanah basah. Sebuah duka yang terlampau purba dan terlampau dalam untuk sekadar hubungan antara majikan dan bawahan biasa.


Beberapa meter di belakang Hendra, terpisahkan oleh jarak yang lebih dari sekadar fisik, berdiri lima sosok pewaris sah kekayaan keluarga. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dari desainer ternama, kacamata gelap menutupi mata mereka, berdiri kaku seperti manekin yang dingin.


"Berapa lama lagi pendeta itu akan berbicara?" bisik Adrian, putra sulung yang selalu mengukur segala sesuatu dengan metrik waktu dan keuntungan. Ia melirik jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya dengan rahang mengeras. "Aku ada rapat direksi jam delapan malam. Waktuku terbuang sia-sia di tempat berlumpur ini."


"Diamlah, Adrian," desis Maya, putri kedua yang selalu berusaha tampil anggun dan paling bijaksana. Ia merapatkan kerah mantel mahalnya, matanya memindai sekeliling dengan awas. "Setidaknya berpura-puralah berduka di depan Papa. Jurnalis mungkin tidak ada di sini, tapi pelayan dan supir kita melihat. Citra keluarga tetap harus dijaga."


Ricko, yang berdiri sedikit lebih jauh sambil mengisap rokok elektronik, mendengus pelan lalu menghembuskan asapnya ke udara yang lembap. "Citra apa? Bahwa keluarga kita menangisi kepergian seorang babu seperti kehilangan pahlawan nasional? Papa benar-benar sudah gila. Menangis histeris di pemakaman pembantu, ini memalukan."


"Kau tidak punya perasaan, Kak," tegur Ryan dengan nada lembut, walau kakinya tidak melangkah seinci pun untuk mendekati ayahnya di depan sana. "Dia sudah melayani keluarga kita sejak kita masih kecil. Wajar kalau Papa merasa kehilangan."


Kevin, yang sedari tadi tampak gelisah dan terus memutar-mutar ponsel di tangannya, memotong perdebatan itu dengan nada suara yang bergetar. "Bisa tidak kita sudahi saja debat ini? Aku harus segera pergi. Ada urusan mendesak. Kalau Papa tanya nanti, bilang saja aku sakit perut atau apa."


"Urusan mendesak apa? Dikejar penagih utang lagi?" sindir Ricko sambil tersenyum miring. "Kau ini benar-benar aib, Kevin. Di pemakaman pun kau masih memikirkan bagaimana cara melarikan diri dari masalah rentenirmu."


"Tutup mulutmu, Ricko!" Kevin setengah berteriak, tertahan oleh kesadaran akan tempat mereka berada. Matanya melotot marah. "Kau tidak tahu apa-apa soal urusanku!"


"Sudah, cukup!" potong Maya, suaranya tajam namun tertahan, menghentikan pertengkaran saudara itu. "Kita di sini sampai peti itu tertutup tanah sepenuhnya. Setelah itu, kita bebas kembali ke kehidupan kita masing-masing. Bersabarlah lima belas menit lagi."


Lihat selengkapnya