PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #2

Undangan Terakhir

Kabut tebal merayap turun dari puncak gunung, menelan pepohonan pinus ke dalam pelukan putih yang membekukan. Di ujung jalan berliku yang tersembunyi dari peradaban kota, berdirilah sebuah villa megah berarsitektur Eropa klasik. Dinding-dinding batunya tampak kokoh, namun di bawah langit sore yang semakin menggelap, bangunan itu lebih menyerupai sebuah benteng isolasi atau bahkan, sebuah penjara mewah. Udara di luar begitu menggigit, membawa serta aroma basah dedaunan yang membusuk di atas tanah.


Seminggu setelah pemakaman yang penuh dengan ketegangan itu, Hendra mengumpulkan seluruh anaknya di vila pegunungan ini. Panggilan tersebut datang secara mendadak melalui asisten pribadinya, tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk penolakan. Bagi kelima anak Hendra, titah sang ayah adalah hukum mutlak yang mengendalikan napas serta dompet mereka.


Di dalam ruang keluarga utama, kehangatan perapian yang menyala terang berbenturan dengan hawa dingin yang menguar dari kelima sosok yang duduk mengelilingi ruangan. Sofa-sofa berlapis kulit asli berwarna cokelat tua itu menjadi saksi bisu berkumpulnya lima pewaris kekayaan yang saling melempar pandangan penuh curiga. Suara detak jam antik di sudut ruangan menjadi satu-satunya ritme yang memecah keheningan yang mencekik.


Adrian duduk dengan punggung tegak bak penggaris besi, jemarinya terus bergerak menyapu layar tablet di pangkuannya. Ia bahkan tidak repot-repot melepas jas abu-abunya yang dipesan khusus dari Milan. Di seberangnya, Maya duduk menyilangkan kaki, memutar-mutar perlahan cangkir teh porselen di tangannya tanpa berniat untuk meminumnya. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala melengkung membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.


Di sudut ruangan yang lebih gelap, Ricko bersandar dengan gaya arogan, sebelah tangannya memegang gelas kristal berisi wiski yang sudah setengah tandas, sementara kakinya dinaikkan dengan santai ke atas meja kayu mahoni. Berbeda dengan Ricko yang tampak terlalu santai, Kevin justru terlihat seperti narapidana yang menunggu vonis mati. Kakinya terus bergoyang gelisah, matanya melirik ke arah pintu dan jendela secara bergantian seolah mencari jalan keluar tercepat. Hanya Ryan yang tampak tenang, berdiri di dekat perapian sambil menatap nyala api dengan ekspresi simpatik yang telah ia latih bertahun-tahun.


Pintu kayu oak ganda di ujung ruangan akhirnya terbuka dengan suara derit yang berat. Semua mata serentak tertuju pada sosok yang muncul dari balik pintu. Hendra didorong masuk di atas kursi rodanya. Pria tua itu tampak jauh lebih rapuh dibandingkan minggu lalu. Kulitnya pucat pasi, tulang pipinya menonjol tajam di bawah matanya yang cekung. Namun, sorot matanya tetaplah sorot mata seekor predator—tajam, mengintimidasi, dan penuh perhitungan.


Di belakangnya, seperti bayangan yang tak terpisahkan, Chintya mendorong kursi roda itu dengan gerakan pelan dan terukur. Gadis itu mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap, wajahnya menunduk, namun matanya yang waspada sesekali menyapu wajah kelima anak majikannya.


"Senang melihat kalian semua bisa meluangkan waktu dari jadwal sibuk kalian untuk orang tua ini," suara Hendra memecah keheningan. Nadanya parau, diiringi helaan napas yang terdengar berat di dadanya.


Adrian langsung menghentikan gerakan jemarinya di atas layar tablet dan menatap ayahnya lurus-lurus.


"Kita tidak perlu berbasa-basi, Papa," ucap Adrian dengan nada formal yang dingin. "Undangan ini sangat mendadak. Aku harus membatalkan penerbanganku ke Singapura untuk proyek reklamasi. Apa yang sebenarnya terjadi sampai Papa meminta kami semua datang ke tempat terpencil ini?"


Hendra tersenyum tipis, sebuah tarikan bibir yang lebih menyerupai ringkisan kesakitan. Ia memberi isyarat kecil dengan tangannya, dan Chintya segera mengunci roda kursi tersebut di tengah ruangan, menghadap perapian dan kelima pewaris itu. Gadis itu kemudian melangkah mundur, berdiri mematung di sudut yang tak tersentuh cahaya, diam-diam mengamati setiap mikro-ekspresi dari keluarga konglomerat ini.


"Waktuku tidak banyak, Adrian. Dan aku pastikan, waktumu yang terbuang tidak akan sia-sia," jawab Hendra, suaranya diwarnai oleh batuk kering yang mengguncang tubuh rentanya.


Maya meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan dengan bunyi denting pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memasang wajah penuh keprihatinan yang terlihat begitu sempurna.


"Papa sakit? Dokter bilang apa? Kenapa Papa tidak dirawat di rumah sakit VIP saja di Jakarta? Udara di pegunungan ini tidak baik untuk paru-paru Papa," cecar Maya dengan intonasi suara yang mendayu-dayu, penuh dengan kekhawatiran yang telah dikalkulasi.


Hendra menatap putri keduanya itu lama, matanya seolah mampu menembus topeng kebaikan Maya. Ia mengaku kesehatannya terus menurun dan ingin mereka tinggal bersamanya selama beberapa hari.

Lihat selengkapnya