PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #3

Lima Pewaris

Malam turun membungkus vila pegunungan itu bak selimut beludru hitam yang pekat, menelan segala sisa cahaya dari balik deretan pinus raksasa. Angin malam berdesir kencang, menghantam kaca jendela dengan suara merintih yang panjang dan menyayat. Di dalam bangunan batu bergaya Eropa klasik itu, kehangatan yang dipancarkan oleh perapian sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang merayap dari hati para penghuninya. Malam ini, di balik pintu-pintu kayu mahoni yang tertutup rapat, satu per satu karakter diperkenalkan bersama topeng dan rahasia mereka.


Bagi dunia luar, keluarga Hendra adalah simbol kesempurnaan dan kekuasaan. Namun, di dalam lorong-lorong vila yang sunyi ini, kebusukan itu mulai tercium. Di sisi lain, Chintya diam-diam menjadi saksi bagaimana mereka memperlakukan Hendra, para karyawan, dan dirinya. Sambil membawa nampan berisi teh herbal dan obat-obatan, langkah kaki gadis itu nyaris tak terdengar. Matanya yang tajam merekam setiap intonasi yang meninggi, setiap bantingan pintu, dan setiap raut wajah bengis yang tersembunyi dari pandangan publik.


Sang Anak Sulung: Ambisi yang Membutakan

Di ruang kerja utama di sayap kiri vila, lampu gantung kristal menyinari sosok Adrian yang ambisius. Pria itu masih mengenakan kemeja putihnya yang lengannya digulung hingga siku, berdiri menghadap jendela besar yang menampakkan kegelapan malam. Asap cerutu mengepul dari bibirnya, menciptakan kabut tipis di sekeliling wajahnya yang bersudut tajam. Ponsel di telinganya seolah menjadi perpanjangan dari otaknya yang terus berhitung.


"Aku tidak mau dengar alasan apa pun, Surya!" bentak Adrian ke arah ponselnya, suaranya berat dan mengancam. "Beli saham minoritas itu sekarang sebelum dewan direksi yang lain mencium gelagat kita. Gunakan dana taktis jika perlu."


"Tapi, Pak Adrian," terdengar suara gugup dari seberang telepon. "Manuver secepat ini bisa memicu audit internal. Tuan Hendra masih memegang kendali penuh. Jika beliau tahu—"


"Tutup mulutmu dan dengarkan aku baik-baik!" potong Adrian tajam, jemarinya mengetuk-ngetuk keras kaca jendela. "Orang tua itu sedang menghitung hari. Napasnya sudah berada di ujung tenggorokan. Begitu surat wasiatnya dibacakan minggu depan, aku yang akan duduk di kursi presiden direktur. Pastikan draf akuisisi perusahaan kompetitor itu sudah ada di mejaku hari Senin. Kau mengerti?"


"Ba-baik, Pak. Akan segera saya laksanakan."


Adrian memutus sambungan secara sepihak dan melempar ponselnya ke atas sofa kulit. Ia tersenyum sinis, menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Kematian ayahnya bukanlah sebuah tragedi baginya; itu hanyalah sebuah tenggat waktu menuju tahta yang selama ini ia idam-idamkan. Chintya yang kebetulan lewat di depan pintu ruang kerja yang sedikit terbuka itu hanya bisa menundukkan pandangan, mencatat dalam hati betapa dinginnya darah yang mengalir di nadi putra sulung tersebut.


Sang Putri Anggun: Kebijaksanaan yang Rapuh

Di kamar tidurnya yang dihiasi perabotan antik bernilai ratusan juta, duduklah Maya yang tampak paling bijaksana. Publik mengenalnya sebagai filantropis yang lembut, seorang ibu dan istri yang nyaris sempurna tanpa cela. Namun, di depan cermin riasnya malam ini, topeng itu perlahan retak. Maya sedang mengusap riasan wajahnya dengan kapas basah secara kasar, mengabaikan botol parfum Chanel yang nyaris tersenggol sikunya.


"Kau gila, Mas?!" desis Maya menahan amarah melalui earpiece nirkabel di telinganya. "Aku sudah bilang, jangan beli lukisan sialan itu! Kartu kreditku sudah melebihi batas, dan tagihan dari butik di Paris belum kubayar!"


Suara suaminya terdengar meremehkan dari ujung sana. "Tenanglah, Sayang. Bukankah ayahmu yang kaya raya itu sebentar lagi mati? Kau pasti mendapat bagian triliunan. Apa artinya satu lukisan ini?"


"Kau tidak mengerti!" Maya memukul meja riasnya dengan kepalan tangan, membuat botol-botol kosmetiknya berdenting pelan. "Adrian dan Ricko akan melakukan apa saja untuk menyingkirkanku dari wasiat itu! Aku harus bersandiwara menjadi putri kesayangan yang rela merawat Papa di tempat terpencil dan membosankan ini. Papa tidak boleh tahu kalau bisnis investasi yang kau jalankan itu bangkrut total!"


"Maya, jaga nada bicaramu. Aku ini suamimu."

Lihat selengkapnya