PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #4

Luka yang Tak Pernah Sembuh


Ruang makan utama vila itu dirancang menyerupai aula perjamuan kastil kuno, dengan meja kayu mahoni panjang yang mampu menampung hingga dua puluh orang. Namun malam ini, hanya enam kursi yang terisi. Lampu gantung kristal raksasa di atas meja memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, memantul pada permukaan gelas anggur kristal dan piring-piring porselen putih berpelisir emas. Di luar jendela besar yang mengelilingi ruangan, badai pegunungan semakin mengamuk. Angin melolong dan menampar kaca dengan tempias hujan yang terdengar seperti ribuan jarum tajam yang menuntut untuk masuk.


Hendra duduk di ujung meja, di kursi utama yang menyerupai singgasana. Wajahnya pucat pasi, tulang pipinya semakin menonjol, dan napasnya terdengar berat memecah keheningan. Meski tubuhnya terlihat ringkih di atas kursi roda, matanya memancarkan ketajaman seekor predator yang membuat suhu ruangan terasa beberapa derajat lebih dingin. Di sisi kanan dan kirinya, duduk kelima anak kandungnya: Adrian, Maya, Ricko, Kevin, dan Ryan. Mereka mengenakan pakaian rapi layaknya bangsawan, menyantap hidangan bistik sapi wagyu dan sup krim jamur truffle dalam keheningan yang mencekik.


Denting garpu dan pisau yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya melodi yang menemani makan malam yang terasa seperti upacara pemakaman kedua ini. Daging mewah di piring mereka terasa seperti sekam, dan anggur merah seharga jutaan rupiah terasa masam di tenggorokan. Malam itu, Hendra mulai menguji anak-anaknya melalui percakapan dan makan malam bersama. Ia tidak mengumpulkan mereka hanya untuk bernostalgia; ia mengumpulkan mereka untuk menguliti kepalsuan yang selama ini menutupi keluarga konglomerat tersebut.


Hendra meletakkan pisau dan garpunya perlahan, menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain linen putih. Gerakan lambat itu seolah menjadi aba-aba tak kasat mata bagi kelima pewarisnya. Serentak, mereka menghentikan aktivitas makan dan menatap sang ayah dengan kewaspadaan tingkat tinggi.


"Kalian tahu," suara Hendra memecah kesunyian. Suaranya serak dan pelan, namun getarannya mampu menguasai seluruh sudut ruangan. "Duduk di sini, melihat kalian semua berkumpul di satu meja... membuatku teringat pada banyak hal yang terjadi di perusahaan dan di belakang punggungku selama beberapa tahun terakhir."


Adrian berdehem pelan, membetulkan letak dasinya dan berusaha mempertahankan ekspresi datarnya. "Masa lalu sudah berlalu, Papa. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan Papa dan bagaimana kita melangkah ke depan untuk mempertahankan perusahaan."


"Benarkah, Adrian?" Hendra menatap putra sulungnya dengan sorot mata yang menembus hingga ke dasar jiwa. "Melangkah ke depan dengan cara diam-diam menggerogoti apa yang telah kubangun?"


Udara di ruang makan itu seakan tersedot habis. Adrian menegang, punggungnya kaku. "Papa... apa maksud Papa? Semua keputusan strategisku selalu melalui prosedur dewan direksi."


"Aku mungkin sakit kronis, Adrian, tapi aku belum buta ataupun pikun," balas Hendra dingin.


Makan malam ini adalah ruang sidang. Malam itu, sedikit demi sedikit terlihat bahwa mereka pernah memalsukan tanda tangannya, menjual aset perusahaan, datang hanya saat membutuhkan uang, hingga berencana memasukkannya ke panti jompo.


"Aku telah membaca laporan audit internal kuartal ketiga," Hendra melanjutkan, matanya mengunci pandangan Adrian yang kini mulai gelisah. "Gudang distribusi raksasa kita di Surabaya dan lahan kosong seluas sepuluh hektar di Balikpapan tiba-tiba beralih kepemilikan ke sebuah perusahaan cangkang. Kau menjual aset perusahaan tanpa persetujuanku."


"Itu... itu murni untuk efisiensi, Pa," Adrian berkilah, rahangnya mengeras menahan harga dirinya yang terkoyak. "Gudang itu sudah tidak produktif dan biaya perawatannya membebani arus kas. Aku mengambil inisiatif demi menyelamatkan likuiditas perusahaan kita."


"Dengan memalsukan tanda tanganku di dokumen persetujuan pengalihan aset?" Suara Hendra tidak meninggi, tetapi efeknya bagaikan cambuk yang dilesatkan ke udara, membelah kesombongan Adrian.


Ruangan seketika membeku. Adrian terdiam kaku. Ia segera meneguk anggur merahnya dengan cepat, berusaha menelan kepanikan yang mulai merayap di kerongkongannya. "Aku... aku bisa menjelaskannya nanti, Pa. Ada dokumen legal darurat yang melegitimasinya. Itu semua demi perusahaan."


Lihat selengkapnya