Pagi itu, udara di dalam vila pegunungan terasa jauh lebih beku daripada malam sebelumnya. Badai yang mengamuk sepanjang malam memang telah mereda, menyisakan sisa-sisa rintik hujan dan kabut tebal yang menyelimuti rapat hutan pinus di luar sana. Namun, di dalam dinding-dinding batu vila ini, sebuah badai yang jauh lebih destruktif baru saja mengumpulkan kekuatannya. Setelah makan malam mengerikan yang menelanjangi begitu banyak dosa dan kebohongan, tidak ada satu pun dari kelima pewaris yang berhasil memejamkan mata. Paranoia telah berakar kuat di benak mereka.
Pukul delapan tepat, asisten pribadi Hendra kembali memanggil mereka untuk berkumpul, kali ini di perpustakaan utama vila. Ruangan itu luas, berdinding panel kayu mahoni yang memancarkan kesan suram, dengan deretan rak buku menjulang hingga menyentuh langit-langit. Aroma kertas tua, debu, dan lilin lebah menguar tebal di udara yang lembap. Perapian di sudut ruangan sengaja tidak dinyalakan, membiarkan hawa dingin pegunungan meresap masuk menembus pakaian tebal yang mereka kenakan.
Adrian berdiri tegak di dekat jendela kaca patri, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dengan postur defensif. Di seberangnya, Maya duduk kaku di atas sofa beludru hijau, meremas sapu tangan sutranya hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha keras mempertahankan sisa-sisa keanggunannya. Ricko bersandar di rak buku, menggosok pelipisnya menahan pening akibat terlalu banyak menenggak alkohol semalaman. Sementara itu, Kevin mondar-mandir seperti tikus yang terperangkap, terus menggigit kuku ibu jarinya dengan tatapan kosong. Hanya Ryan yang tampak diam, duduk di kursi berlengan sambil menatap pintu ganda yang tertutup rapat, menunggu sang eksekutor tiba.
Tepat saat jam kakek di sudut ruangan berdentang, daun pintu terbuka. Chintya melangkah masuk, mendorong kursi roda Hendra dengan ritme yang begitu tenang, sangat kontras dengan kepanikan yang mendidih di dalam dada kelima pewaris. Wajah Hendra pagi ini terlihat lebih redup, napasnya terdengar sedikit bergemuruh di dadanya yang ringkih, namun matanya memancarkan ketegasan absolut yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun. Di pangkuannya, tergeletak sebuah map kulit tebal berwarna hitam.
Chintya mengunci roda kursi tersebut di tengah ruangan, lalu melangkah mundur ke dekat pintu, menundukkan kepalanya. Ia mengubah dirinya menjadi bayangan tak kasat mata, mengamati dalam diam.
"Aku tidak akan membuang waktu kalian yang sangat berharga," suara Hendra memecah keheningan, serak namun menggema memantul di dinding-dinding perpustakaan. Tangannya yang dipenuhi bintik penuaan bergerak perlahan, mengetuk pelan map kulit di pangkuannya.
Seluruh pasang mata di ruangan itu seketika tertuju pada map tersebut. Ambisi, keserakahan, dan ketakutan memancar jelas dari sorot mata mereka.
Hendra mengumumkan bahwa surat wasiat sudah selesai, tetapi belum akan dibuka. "Notarisku telah merampungkan semuanya subuh tadi melalui sambungan telepon rahasia. Semua dokumen legal, pemindahan aset, dan kepemilikan saham mayoritas sudah disahkan dan disegel."
Adrian menelan ludah dengan susah payah, memaksakan diri melangkah selangkah ke depan. "Kalau begitu... bacakan saja sekarang, Pa. Untuk apa kita menunda-nunda lagi? Kondisi Papa sedang tidak stabil, dan ketidakpastian ini tidak baik untuk bursa saham perusahaan kita jika sampai bocor ke publik."
Hendra mendongak, menatap putra sulungnya dengan pandangan meremehkan. "Kau selalu saja berpikir tentang bursa saham, Adrian. Tapi kau lupa, tanpa persetujuanku, kau tidak punya apa-apa untuk dijual di bursa saham itu."
"Aku setuju dengan Kak Adrian, Pa," sela Maya, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha membuatnya terdengar lembut. "Kita semua kelelahan. Jika memang wasiat itu sudah selesai, bukankah lebih baik disampaikan sekarang? Agar kami bisa... fokus merawat Papa tanpa beban pikiran."
Ricko mendengus keras dari sudut ruangan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan raut wajah mencemooh. "Berhentilah bersandiwara, Maya. Kau hanya takut kalau bagianmu dipotong karena ketahuan mau membuang Papa ke panti jompo, kan? Jujur saja, kita semua di sini butuh kejelasan."