Tengah malam merayap turun menyelimuti vila pegunungan itu dengan keheningan yang mencekik. Badai mungkin telah berlalu meninggalkan langit malam yang bersih dan dihiasi pendaran bulan purnama pucat, namun di dalam dinding-dinding batu yang dingin itu, sebuah badai psikologis baru saja mencapai puncaknya. Jam kakek di sudut lorong utama berdenting dua belas kali, suaranya menggema memantul di atas lantai marmer, seolah menghitung mundur sisa kewarasan yang masih dimiliki oleh para penghuni vila.
Pengumuman tentang delapan puluh persen warisan dan syarat mutlak yang ditetapkan Hendra pagi tadi telah bertransformasi menjadi racun yang menyebar cepat di dalam aliran darah kelima anaknya. Tidak ada yang bisa tertidur pulas. Ranjang-ranjang empuk berlapis seprai sutra di kamar masing-masing terasa seperti ranjang paku yang menyiksa punggung. Udara malam terasa terlalu tipis untuk dihirup, tergantikan oleh kabut paranoia dan keserakahan yang menyesakkan dada.
Satu per satu karakter diperkenalkan bersama topeng dan rahasia mereka. Di lantai dasar, tepatnya di area dapur bersih dan mini bar yang remang-remang, cahaya lampu gantung kristal kecil menyinari dua sosok yang saling berhadapan. Suara denting es batu yang beradu dengan gelas kaca memecah kesunyian malam.
Ricko duduk bersandar di kursi bar yang tinggi. Kemeja mahalnya kusut berantakan, tiga kancing teratasnya terbuka, menampilkan dada yang memerah karena pengaruh alkohol. Sebotol single malt scotch yang harganya setara dengan gaji tahunan seorang manajer kini hanya tersisa sepertiga. Ia menuangkan cairan keemasan itu ke dalam gelasnya dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu meneguknya kasar. Ricko yang arogan, tidak pernah tahu bagaimana cara menghadapi tekanan selain dengan menenggelamkan dirinya dalam minuman keras.
Di seberang meja pualam, berdiri Kevin dengan postur yang membungkuk, tangannya gemetar mencengkeram tepi meja pualam seolah meja itu adalah satu-satunya pelampung di tengah lautan badai. Wajah Kevin pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam pekat menggantung di bawahnya. Kevin yang terlilit utang, kini tampak seperti mayat hidup yang sedang menunggu giliran eksekusi mati.
"Bisa tidak kau berhenti minum?" desis Kevin, suaranya parau dan bergetar hebat menahan frustrasi. "Tidakkah kau sadar situasi kita sekarang? Papa tidak main-main dengan ancamannya, Ricko. Delapan puluh persen warisan! Jika bukan aku yang mendapatkannya, aku benar-benar akan mati! Orang-orang Togar akan mencincangku!"
Ricko mendengus, tawa sumbang meluncur dari bibirnya yang basah oleh alkohol. Ia menatap adiknya dengan sorot mata meremehkan yang sangat tajam, menelanjangi kepengecutan pria di hadapannya.
"Lalu apa yang kau harapkan dariku, Kevin? Membantumu berdoa agar si tua bangka itu tiba-tiba tersentuh hatinya dan menyerahkan semuanya padamu?" ejek Ricko sambil memutar-mutar gelasnya, menikmati bunyi pecahan es yang bertabrakan. "Kau ini terlalu lemah. Sejak kecil kau selalu bersembunyi di belakang punggung Mama, dan sekarang kau merengek padaku? Hadapi saja rentenirmu itu seperti laki-laki."
"Kau bajingan egois!" umpat Kevin setengah berbisik, matanya melotot marah ke arah sang kakak. "Kau pikir kau lebih baik dariku? Kelab malammu yang bangkrut itu hanya bisa bertahan karena uang Papa! Kau sama hancurnya denganku, Ricko. Jangan bertingkah seolah kau berada di atas angin!"
Suara derap langkah kaki yang mantap dan berat dari arah lorong seketika menghentikan perdebatan mereka. Dari balik bayangan pilar batu, muncullah Adrian. Pria itu masih mengenakan celana bahan dan kemeja putihnya yang disetrika rapi, seolah ia tidak pernah benar-benar melepaskan seragam kerjanya. Adrian yang ambisius, menatap kedua adiknya dengan tatapan dingin penuh dominasi. Rahangnya mengeras, memancarkan aura seorang diktator yang merasa wilayah kekuasaannya diganggu oleh tikus-tikus kecil.
"Jika kalian berdua ingin saling bunuh, tolong lakukan di luar vila. Jangan kotori lantai ini dengan kepengecutan kalian," tegur Adrian dingin. Ia berjalan melintasi bar, menuangkan segelas air putih mineral ke dalam gelasnya dengan gerakan mekanis yang sangat terukur. "Kalian mengganggu waktu berpikirku."
Ricko meletakkan gelasnya dengan keras ke atas meja. "Waktu berpikir? Oh, maafkan kami, Tuan Presiden Direktur yang terhormat. Apakah kau sedang menghitung berapa banyak uang yang akan kau curi lagi dari perusahaan jika kau menang nanti?"
Adrian menghentikan gerakannya sesaat. Ia menoleh perlahan, menatap Ricko dengan sorot mata yang cukup tajam untuk mengiris baja.
"Jaga mulutmu, Ricko," desis Adrian, setiap suku katanya ditekankan dengan ancaman yang nyata. "Aku tidak mencuri. Aku mengelola apa yang tidak bisa dikelola oleh orang tua yang sekarat. Jika bukan karena keputusanku, aset kita sudah lama merosot. Dan asal kalian tahu, warisan itu akan jatuh ke tanganku karena akulah satu-satunya yang memiliki kapasitas untuk melipatgandakannya. Kalian berdua hanyalah benalu."
Wajah Kevin semakin memerah, perpaduan antara rasa takut yang memuncak dan amarah yang meledak. Ia memukul meja pualam dengan kepalan tangannya.