PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #7

Anak yang Hilang

Fajar menyingsing di pegunungan dengan kebisuan yang meresahkan. Cahaya pucat matahari pagi merayap lambat melalui celah dedaunan pinus yang basah, seakan enggan menyentuh bumi. Kabut tebal sisa badai semalam masih memeluk erat vila megah berarsitektur Eropa tersebut, menyembunyikan dinding-dinding batunya dalam selimut putih yang membekukan. Tidak ada kicau burung yang menyambut pagi. Hanya terdengar suara angin dingin yang berembus pelan, membawa aura kematian yang diam-diam merembes masuk ke dalam tulang-tulang bangunan, bersiap memangsa kewarasan siapa pun yang berada di dalamnya.


Di dalam villa, ketegangan sisa pertengkaran brutal semalam masih menggantung kental di udara. Umpatan, rahasia kotor, dan aib yang telanjur dibongkar kini menjadi racun yang terhirup oleh setiap pewaris dalam setiap tarikan napas mereka.


Jarum jam kakek di lorong utama menunjuk tepat di angka delapan pagi. Di ruang makan utama, meja mahoni panjang yang mengilap telah ditata sempurna oleh para pelayan. Hidangan sarapan bergaya kontinental—roti panggang sourdough, telur benedict, daging asap, dan kopi hitam pekat—tersaji hangat, mengepulkan uap tipis ke udara yang dingin. Namun, tak satu pun dari keempat pria yang duduk mengelilingi meja itu memiliki selera makan. Hendra memilih untuk menghabiskan pagi di kamarnya dengan alasan kesehatan, meninggalkan anak-anaknya terjebak dalam kecanggungan yang mematikan.


Suara denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring porselen sesekali memecah keheningan, terdengar sangat canggung dan berhati-hati.


"Di mana perempuan itu?" suara serak Ricko akhirnya membelah kesunyian yang mencekik.


Mata Ricko yang memerah karena kurang tidur dan masih menyisakan efek mabuk dari botol wiski semalam, menatap lurus ke arah kursi kosong di seberang meja. Kursi dengan sandaran beludru tinggi yang biasanya ditempati oleh sang putri anggun. Maya tidak ada di sana.


Adrian, yang duduk tegak bagai patung marmer di ujung meja, sedang mengoleskan mentega ke atas roti panggangnya dengan gerakan mekanis yang sangat rapi. Ia bahkan tidak repot-repot mengangkat wajahnya. "Mungkin dia sedang sibuk mengemasi barang-barangnya yang penuh kepalsuan itu. Atau dia terlalu malu untuk menampakkan wajahnya di meja ini setelah aku menelanjangi status aslinya semalam."


"Kau benar-benar keterlaluan semalam, Kak Adrian," sela Ryan dengan nada lembut yang sarat akan celaan halus. Ia mengaduk teh kamomilnya perlahan, memancarkan aura kebijaksanaan palsu yang telah ia asah selama bertahun-tahun. "Meskipun kau tahu rahasia itu, tidak seharusnya kau membongkarnya dan mengusirnya dari perebutan warisan di depan kita semua. Papa bisa sangat murka jika mendengar caramu memperlakukan putrinya."


Adrian akhirnya meletakkan pisau menteganya. Bunyi denting logam pelan itu entah mengapa terdengar sangat mengancam di telinga saudara-saudaranya. "Aku hanya menyingkirkan parasit dari pohon keluarga kita. Dia tidak memiliki setetes pun darah Hendra di nadinya. Sudah sepantasnya anak pungut itu tahu di mana tempatnya berpijak."


Kevin, yang duduk merosot di kursinya dengan wajah pucat pasi dan lingkaran hitam pekat di bawah matanya, menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang bersembunyi di bawah meja tak henti-hentinya gemetar.


"Tapi ini sudah jam delapan lewat," gumam Kevin, suaranya parau dan diwarnai kepanikan yang kronis. "Biasanya Maya yang paling pertama turun ke ruang makan untuk memastikan tehnya diseduh dengan suhu yang pas, sekadar untuk mencari perhatian pelayan dan Papa. Ini sama sekali tidak wajar."


Tepat saat kalimat Kevin menggantung di udara, pintu ganda ruang makan terbuka. Chintya melangkah masuk dengan napas sedikit terengah. Wajah gadis pelayan itu tampak kebingungan, tangannya meremas celemek putihnya dengan gerakan gugup yang tak biasa ia tunjukkan.


"Permisi, Tuan-tuan..." suara Chintya sedikit bergetar, menarik perhatian keempat pewaris itu seketika. "Saya baru saja dari lantai atas untuk mengantarkan teh herbal pagi Nyonya Maya. Tapi... kamar itu kosong."


"Kosong bagaimana maksudmu, Chintya?" potong Ricko tajam, meletakkan gelas kopinya dengan kasar. "Dia pasti sedang berjalan-jalan di taman belakang untuk meredakan amarahnya yang meledak semalam."


"Tidak, Tuan Ricko," jawab Chintya, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menghindari tatapan buas dari pria-pria di depannya. "Tempat tidurnya masih rapi, seolah tidak pernah ditiduri semalaman."


Sebuah fakta dingin seketika menyuntikkan hawa yang menusuk tulang ke dalam ruangan itu; keesokan paginya Maya menghilang.


Keempat saudara itu saling berpandangan. Hening sejenak sebelum kecurigaan mengambil alih logika mereka. Tanpa aba-aba, Adrian bangkit berdiri. Ia melempar serbet linen putihnya ke atas meja dan melangkah panjang menuju lantai dua. Ketiga adiknya segera menyusul, terseret oleh gelombang kepanikan dan rasa ingin tahu yang tak tertahankan.

Lihat selengkapnya