PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #8

Bayangan Pertama

Matahari telah lama tenggelam di balik punggung gunung, namun kegelapan yang sesungguhnya baru saja menelan vila megah tersebut. Malam mulai terasa mencekam. Angin pegunungan yang biasanya hanya berdesir lembut di sela-sela daun pinus, malam ini berembus membawa lolongan panjang yang terdengar seperti rintihan arwah penasaran. Kabut tebal turun memeluk setiap jengkal dinding batu, mengisolasi bangunan itu dari dunia luar, memenjarakan para penghuninya dalam sangkar emas yang kini mulai berbau anyir kematian.


Di lorong-lorong vila yang panjang dan berkarpet merah marun, keheningan berkuasa secara mutlak. Tidak ada lagi langkah kaki pelayan yang terburu-buru, tidak ada lagi suara denting gelas dari ruang biliar. Kelima kamar di sayap kanan dan kiri vila terkunci rapat dari dalam. Di balik pintu-pintu kayu mahoni yang kokoh itu, paranoia sedang berpesta pora. Kevin meringkuk di sudut kamarnya sambil menggenggam tongkat golf, Ricko menenggak sisa alkoholnya dengan mata liar yang terus mengawasi jendela, Adrian duduk dalam gelap sambil menyusun skenario manipulasi, dan Ryan berdiri menatap cermin dengan senyum yang tak pernah mencapai matanya. Mereka semua terkurung dalam teror ciptaan mereka sendiri atas hilangnya sang kakak perempuan.


Namun, jauh dari hiruk-pikuk kepanikan dan kebisuan yang mencekik di kamar anak-anaknya, pemandangan yang sama sekali berbeda tergelar di kamar tidur utama. Ruangan itu luas, diterangi oleh nyala api perapian yang menari-nari memantulkan cahaya jingga ke dinding. Di tengah ruangan, jauh dari jangkauan telinga siapa pun, Hendra diam-diam berbincang dengan Chintya tentang perilaku anak-anaknya.


Hendra tidak sedang berbaring lemah di atas ranjang pesakitannya. Pria tua itu duduk tegak di atas kursi rodanya, menghadap ke arah jendela kaca besar yang menampakkan kegelapan malam. Posturnya tidak lagi rapuh seperti saat ia berada di ruang makan atau perpustakaan. Garis wajahnya keras, rahangnya terkunci rapat, dan matanya memancarkan ketajaman yang mengerikan. Di belakangnya, berdiri Chintya. Gadis muda berpakaian sederhana itu tidak menundukkan kepalanya dalam ketakutan seperti yang biasa ia lakukan di depan para pewaris. Posturnya tegap, tatapannya lurus dan penuh perhitungan.


"Mereka sudah kembali ke kamar masing-masing, Tuan," ucap Chintya, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan. Suaranya tenang, datar, dan sama sekali tidak bergetar.


Hendra tidak menoleh, matanya masih terpaku pada kabut di luar jendela. Jemarinya yang keriput mengetuk sandaran tangan kursi roda dengan ritme yang lambat dan mematikan.


"Ceritakan padaku, Chintya. Gambarkan apa yang terjadi setelah kalian menemukan kamar Maya kosong pagi ini," perintah Hendra dengan suara berat dan serak.


Chintya melangkah maju selangkah, menempatkan dirinya tepat di sisi kursi roda majikannya. "Seperti yang Tuan duga, kepanikan langsung mengambil alih logika mereka. Tuan Kevin adalah yang pertama kali kehilangan kendali. Dia gemetar, nyaris histeris, menyadari bahwa mobil dan barang-barang berharga Nyonya Maya masih ada di kamar."


"Dan Adrian?" potong Hendra dingin.


"Tuan Adrian langsung mengambil alih situasi. Dia menolak keras ide untuk memanggil polisi. Dia beralasan bahwa jika kabar hilangnya Nyonya Maya bocor ke publik, saham perusahaan akan anjlok. Dia lebih memilih mengunci informasi ini dan membiarkan batas waktu dua puluh empat jam, dengan asumsi bahwa Nyonya Maya hanya sedang merajuk dan pergi ke kota."


Hendra terkekeh pelan. Sebuah tawa kering yang bergesekan di tenggorokannya, terdengar seperti suara kertas amplas yang digosokkan ke atas kayu busuk.

Lihat selengkapnya