PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #9

Musuh Dalam Rumah

Matahari siang gagal menembus tirai kabut yang masih memeluk erat villa pegunungan tersebut. Di dalam, udara terasa lebih berat daripada timah. Hilangnya Maya tanpa jejak telah mengubah atmosfer rumah batu itu menjadi sebuah ruang interogasi tak kasat mata. Setiap tatapan adalah kecurigaan, setiap helaan napas terdengar seperti ancaman. Ketakutan yang merayap di bawah kulit para pewaris kini mulai menggerogoti sisa-sisa kewarasan mereka. Mereka terjebak; tidak bisa memanggil polisi karena takut kehilangan warisan, namun juga tidak bisa tidur nyenyak karena ketakutan bagaimana jika benar ada predator sedang berkeliaran di antara mereka.


Di ruang keluarga utama, sisa-sisa ketegangan itu menebal. Perapian menyala berderak-derak, namun panasnya tak mampu mengusir hawa dingin yang memancar dari empat pria yang duduk berjauhan. Chintya berdiri di sudut ruangan dekat meja bufet, sibuk menata ulang cangkir-cangkir teh yang sebenarnya tidak berantakan, berusaha membuat dirinya sekecil dan se-tak terlihat mungkin.


Ricko mondar-mandir di depan sofa dengan segelas bourbon di tangannya. Matanya merah dan liar. Tekanan dari misteri hilangnya Maya, ditambah dengan isolasi villa ini, membuat insting buasnya mendidih mencari pelampiasan. Pandangannya kemudian jatuh pada sosok Kevin yang duduk meringkuk di kursi tunggal. Adiknya itu tampak sangat menyedihkan; lututnya ditarik ke dada, tangannya tak henti-henti menggigiti kuku ibu jarinya hingga berdarah, dan matanya melotot kosong ke arah karpet persia.


Di tengah situasi yang mencekam itu, Ricko dan Kevin kembali bertengkar hebat. Ricko, yang tidak pernah bisa menahan lidah berbisa dan arogansinya, memutuskan bahwa Kevin adalah target yang paling tepat untuk meluapkan rasa frustrasinya.


"Berhenti menggigit kuku seperti tikus ketakutan, Kevin," tegur Ricko dengan suara parau yang dipenuhi nada mencemooh. Ia melangkah mendekati adiknya, bayangannya menutupi tubuh Kevin yang gemetar. "Kau membuat pemandangan di ruangan ini semakin menyedihkan."


Kevin perlahan mendongak. Matanya yang cekung memancarkan kepanikan kronis. "Aku... aku tidak bisa tenang. Maya hilang, Ricko! Seseorang di rumah ini mungkin... mungkin..."


"Mungkin apa? Membunuhnya?" Ricko tertawa keras, tawa sumbang yang menggema menyakitkan di telinga siapa pun yang mendengarnya. Ricko mengejek Kevin yang hidup dari utang, sementara Kevin mencoba mempertahankan sisa harga dirinya. "Jika ada pembunuh di sini, orang pertama yang akan dia bunuh adalah kau. Kau tahu kenapa? Karena kau adalah aib terbesar keluarga ini. Kau hidup dari belas kasihan rentenir kelas teri. Berapa utangmu sekarang? Sepuluh miliar? Kau pikir penagih utangmu peduli kau sedang bermain detektif di sini?"


"Tutup mulutmu!" desis Kevin, suaranya bergetar. Wajahnya mulai memerah, perpaduan antara rasa malu yang ditelanjangi dan amarah yang tersulut.


Namun Ricko justru semakin menikmati penderitaan adiknya. Ricko menghina Kevin sebagai penjudi yang menyedihkan dan parasit keluarga. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengendus udara di sekitar Kevin dengan gaya teatrikal.


"Bau keputusasaan," ejek Ricko sinis. "Kau hanyalah penjudi gagal yang tidak bisa berhenti menghamburkan uang Papa di meja baccarat. Kau rela menjual nyawamu dan nyawa istrimu demi kebiasaan bodohmu itu. Kau pikir Papa akan mewariskan kerajaan bisnisnya pada pria yang bahkan tidak bisa mengurus dompetnya sendiri? Kau bermimpi, Kevin."


Ketegangan di antara mereka seketika memuncak dan menjadi perhatian semua orang di ruangan itu. Adrian, yang duduk di sofa panjang sambil membaca dokumen di tabletnya, hanya mendongak sekilas dengan tatapan muak. Ryan yang berdiri di dekat perapian menatap kedua kakaknya dengan raut wajah prihatin yang begitu terlatih. Sementara di sudut ruangan, tangan Chintya terhenti di udara; ia mematung, menahan napas.


Rentetan hinaan itu ternyata menjadi titik didih bagi kewarasan Kevin yang sudah berada di ujung tanduk. Rasa takut yang selama ini mencekiknya tiba-tiba bermutasi menjadi keberanian yang buta. Kevin bangkit dari kursinya dengan gerakan mengentak. Ia mengayunkan tangannya, menepis gelas bourbon dari tangan Ricko hingga terpelanting dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.


"Setidaknya aku tidak menyiksa keluargaku sendiri, Bajingan!" teriak Kevin, suaranya menggelegar memecah kesunyian vila. Dadanya naik turun dengan cepat, urat lehernya menonjol keluar.


Keheningan seketika menyergap ruangan itu. Ricko tertegun sejenak, wajahnya berubah kaku sebelum rona merah amarah menjalar dari leher hingga ke telinganya.


"Apa kau bilang?" desis Ricko, mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk menghancurkan rahang adiknya.


Lihat selengkapnya