Pagi di vila pegunungan itu tidak datang dengan sapaan hangat mentari, melainkan dengan selimut kabut abu-abu yang lebih tebal dan lebih mematikan dari hari sebelumnya. Udara terasa membekukan tulang, membawa serta kebisuan yang tidak wajar. Tidak ada nyanyian burung, tidak ada gemerisik daun pinus yang menenangkan. Alam seolah menahan napasnya, menolak menjadi saksi atas kekejian yang baru saja terjadi di bawah bayang-bayang malam. Kutukan yang mengintai keluarga konglomerat ini akhirnya menuntut darah pertamanya secara terang-terangan.
Di halaman belakang vila, terdapat sebuah kolam renang tanpa batas (infinity pool) berlapis keramik biru gelap yang airnya terlihat sehitam tinta di bawah langit mendung pagi itu. Di sanalah, mengambang tak berdaya di tengah air yang membeku, sosok Ricko terbujur kaku.
Pria arogan yang semalam masih meneriakkan sumpah serapah dan memamerkan keangkuhannya itu, kini tak lebih dari seonggok daging tak bernyawa. Ia masih mengenakan kemeja mahalnya yang beberapa kancing atasnya terlepas, basah kuyup dan menempel ketat pada kulitnya yang kini memucat seputih pualam. Wajahnya menghadap ke dasar kolam, dengan lengan-lengan yang terentang kaku layaknya boneka rusak yang tali penggeraknya baru saja digunting paksa. Sebuah botol bourbon kosong mengambang beberapa meter dari kepalanya, terombang-ambing pelan oleh riak air yang tertiup angin, menjadi saksi bisu yang mengejek akhir tragis sang penguasa malam.
Sebuah teriakan melengking memecah keheningan yang mencekik itu. Chintya, yang baru saja melangkah keluar membawa setumpuk handuk bersih untuk area teras, menjatuhkan bawaannya. Handuk-handuk putih itu berserakan di atas lantai kayu yang basah oleh embun. Gadis itu menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak ngeri menatap pemandangan di tengah kolam.
Jeritan itu bekerja bak alarm mematikan ke seluruh penjuru vila. Dalam hitungan detik, suara derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar menuruni tangga pualam. Adrian, Kevin, dan Ryan menghambur keluar menuju teras belakang, masih mengenakan pakaian tidur mereka yang berantakan.
Langkah ketiga pewaris itu terhenti mendadak di ambang pintu kaca geser. Napas mereka tercekat di tenggorokan. Udara pagi yang dingin seketika terasa seperti menguras oksigen dari paru-paru mereka.
"Astaga... Tuhan... Ricko!" pekik Kevin dengan suara bergetar hebat. Kakinya langsung melemas, membuatnya harus berpegangan kuat pada kusen pintu agar tidak jatuh pingsan. Keringat dingin sebesar biji jagung seketika membanjiri dahi dan pelipisnya.
Adrian berdiri terpaku bak patung es. Rahangnya mengeras. Mata elangnya yang biasanya selalu penuh perhitungan kalkulatif, kini menyipit tajam, memindai mayat adiknya dan area sekitar kolam dengan kecepatan komputer yang sedang memproses anomali fatal. Wajahnya tetap datar, tak ada setetes pun air mata yang jatuh, namun ada ketegangan yang merayap di otot-otot lehernya.
"Jangan ada yang menyentuh air itu atau mendekati pinggir kolam," perintah Adrian dengan nada suara yang membekukan, sangat otoriter dan dingin. "Chintya! Cepat masuk ke dalam. Kunci area ini dan jangan biarkan pelayan lain keluar. Kita harus menghubungi polisi sekarang."
"Polisi?!" Kevin memekik histeris, suaranya melengking menembus kabut. Ia menatap Adrian dengan mata liar yang dipenuhi urat merah. "Kemarin saat Maya hilang, kau melarang kami memanggil polisi demi saham sialanmu! Sekarang Ricko mati mengambang, dan kau bertingkah seperti warga negara yang taat hukum?! Kau membunuhnya, kan?!"
Adrian memutar tubuhnya, menatap Kevin dengan tatapan membunuh. Urat di pelipisnya berkedut.
"Jaga mulutmu, Kevin. Jangan melontarkan tuduhan tanpa dasar di saat seperti ini," desis Adrian, melangkah selangkah mendekati adiknya. "Kemarin kita tidak punya bukti kejahatan, hanya orang bodoh yang kabur. Hari ini, ada mayat di properti kita. Jika kita tidak memanggil polisi, kitalah yang akan membusuk di penjara."
"Jangan mencoba membodohiku, Kak!" teriak Kevin, telunjuknya yang gemetar teracung lurus ke wajah Adrian. "Semua orang tahu kau orang terakhir yang bersamanya semalam! Ryan melihat kalian berdua berduaan di gazebo itu sambil minum! Kalian merencanakan sesuatu, dan ketika dia tidak setuju, kau menenggelamkannya!"
Adrian menghentikan langkahnya. Matanya melirik tajam ke arah Ryan yang berdiri diam di samping Kevin.
"Begitukah, Ryan?" tanya Adrian dingin, nada suaranya mengancam. "Kau memata-mataiku dan menyebarkan cerita karangan kepada si pengecut ini?"
Ryan, dengan wajah pucat dan raut keprihatinan yang terlihat begitu meyakinkan, mengangkat kedua tangannya seolah berusaha menenangkan dua ekor singa yang siap saling menerkam.