Kepergian mobil polisi dan ambulans yang membawa jenazah Ricko dari pelataran kerikil sama sekali tidak membawa kelegaan ke dalam villa pegunungan tersebut. Sebaliknya, udara di dalam bangunan batu itu terasa semakin pekat, beracun, dan mencekik. Kematian Ricko yang tragis dan terkesan ditutup-tutupi oleh aparat penegak hukum membuat suasana villa berubah menjadi teror psikologis yang nyata. Tidak ada lagi sekadar ancaman hilangnya warisan; kini, nyawa benar-benar menjadi taruhan yang diletakkan di atas meja.
Di ruang keluarga utama, sisa-sisa badai emosional masih sangat terasa. Perapian yang baru saja dinyalakan oleh berderak pelan, berusaha mengusir hawa dingin yang merayap naik dari lantai marmer. Adrian berdiri di dekat jendela, menatap ke arah luar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Wajah pria sulung itu sedatar patung lilin, namun matanya memancarkan perhitungan yang sangat tajam. Di seberangnya, Kevin duduk meringkuk di atas sofa, memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Seluruh tubuh Kevin gemetar, keringat dingin tak henti-hentinya mengucur membasahi kerah kemejanya.
Pertengkaran hebat antara Ricko dan Kevin pada malam sebelumnya telah menjadi bumerang yang mematikan bagi Kevin. Di mata Adrian, pertengkaran itu adalah motif yang sangat sempurna.
"Kau beruntung Polisi bodoh itu terlalu malas untuk melakukan penyelidikan menyeluruh, Kevin," suara Adrian tiba-tiba memecah keheningan. Nadanya sangat rendah, dingin, dan menembus langsung ke pusat ketakutan adiknya.
Kevin mendongak perlahan, matanya yang memerah dan dipenuhi lingkaran hitam menatap kakaknya dengan panik. "Apa maksudmu, Kak? Aku sudah bilang, aku tidak tahu apa-apa soal kematian Ricko!"
Adrian berbalik lambat-lambat, melangkah mendekati sofa tempat Kevin duduk. Setiap langkahnya memancarkan dominasi absolut. "Jangan bermain-main denganku. Semua orang di villa ini mendengar ancaman Ricko padamu semalam. Dia tahu kau mencoba membongkar aib masa lalunya. Dia berjanji akan membuatmu menyesal. Dan kebetulan sekali, keesokan paginya dia ditemukan mati tenggelam?"
"Itu hanya kebetulan!" jerit Kevin parau, suaranya melengking karena putus asa. Ia berdiri dengan cepat, menjauh dari jangkauan Adrian. "Kau sendiri yang bilang pada polisi bahwa dia mabuk dan terpeleset! Kenapa sekarang kau malah menuduhku?!"
Adrian tersenyum miring, sebuah seringai yang sangat sinis dan kejam. "Aku mengatakan itu kepada polisi agar harga saham perusahaan kita tidak anjlok ke dasar jurang karena skandal pembunuhan antar saudara. Tapi di ruangan ini, di antara kita berdua, kita tahu kebenarannya. Kau panik karena utang rentenirmu, kau takut Ricko akan menghancurkan posisimu di mata Papa, lalu kau menyelinap ke teras dan mendorongnya saat dia sedang lengah. Kau adalah tersangka utama yang paling logis, Kevin."
"Bukan aku!" teriak Kevin, membanting bantal sofa ke lantai dengan histeris. "Kau yang terakhir bersamanya di gazebo semalam! Ryan yang melihatnya! Kau yang punya rencana busuk untuk menyingkirkan kami semua agar kau bisa menguasai delapan puluh persen warisan itu sendirian!"
Adrian mendengus remeh. "Logikamu sekacau keuanganmu, Kevin. Jika aku ingin membunuhnya, aku tidak akan melakukannya di properti milik Papa saat kita semua sedang diawasi. Sebaliknya, kau merasa semua orang sedang diarahkan untuk menyalahkannya, bukan? Itu karena insting pengecutmu tahu bahwa kau telah melakukan kesalahan fatal."
Perdebatan itu tidak menemui titik temu. Kepercayaan di antara saudara kandung itu telah benar-benar runtuh, hancur menjadi serpihan debu yang tak bisa disatukan lagi. Kevin merasa dirinya didorong ke sudut jurang, dihakimi secara sepihak, dan dijadikan kambing hitam yang sempurna. Adrian menatapnya dengan rasa muak yang tak ditutup-tutupi, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan Kevin sendirian dalam cengkeraman paranoia yang melumpuhkan.
Malam harinya, Kevin mengunci rapat pintu kamarnya. Ia menyeret sebuah kursi berat dan mengganjalnya di bawah gagang pintu. Tangannya mencengkeram erat sebuah tongkat golf besi, bersiap menyerang siapa pun yang berani masuk. Setiap bayangan yang jatuh dari pantulan cahaya bulan di luar jendela tampak seperti monster yang siap menerkamnya. Ia tidak tidur sedetik pun. Detak jantungnya memburu, otaknya terus merangkai konspirasi yang membuatnya nyaris gila.
Keesokan paginya, villa itu kembali diselimuti oleh kabut pekat yang tak wajar. Waktu baru menunjukkan pukul enam pagi, matahari bahkan belum benar-benar tinggi, cahayanya hanya berupa pendaran abu-abu yang suram di ufuk timur.
Adrian dan Kevin kebetulan berada di lantai dasar pada waktu yang bersamaan. Adrian sedang menuangkan kopi hitam ke dalam cangkirnya di area dapur bersih, sementara Kevin duduk kaku di kursi ruang makan, masih mengenakan pakaian yang sama dengan semalam, memeluk tongkat golfnya dengan tatapan kosong. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka. Keheningan itu begitu berat hingga terasa bisa diiris dengan pisau.
Tiba-tiba, suara dobrakan keras dari arah pintu utama menghancurkan kesunyian pagi.
BRAK!