Kabut kelabu yang merayap di luar jendela villa pegunungan itu kian menebal, menyelimuti pepohonan pinus dalam keheningan yang menyesakkan. Pagi yang berdarah akibat insiden penyerangan terhadap Ryan meninggalkan atmosfer yang jauh lebih mematikan daripada sebelumnya. Di dalam dinding-dinding batu yang dingin itu, setiap penghuni kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan rasa curiga yang teramat pekat. Tidak ada lagi sisa-sisa kehangatan keluarga; yang tersisa hanyalah sebuah gelanggang gladiator psikologis, di mana setiap orang saling mengawasi gerak-gerik satu sama lain dengan mata penuh curiga.
Di kamar tidurnya yang berantakan, Kevin mondar-mandir bagaikan binatang buas yang terperangkap di dalam sangkar besi. Pulas tidur telah lama meninggalkan pelupuk matanya. Di kepalanya, kata-kata yang diucapkan Ryan kemarin malam berdengung keras tanpa henti, berputar-putar layaknya rekaman kaset rusak yang menuntut untuk dipecahkan.
“Tadi malam aku sempat lihat Kak Ricko masih ngobrol sama Kak Adrian di gazebo...”
Kalimat itu terngiang-ngiang di benak Kevin, bercampur aduk dengan pemandangan mengerikan pagi ini saat Ryan berlari masuk dengan tubuh berlumuran darah, mengaku diserang oleh seseorang yang berpostur tinggi besar—hampir sebesar Adrian. Kepingan-kepingan teka-teki itu mulai dirangkai oleh otak Kevin yang dipenuhi paranoia akut. Ricko ditemukan tewas tenggelam setelah malamnya terlihat minum bersama Adrian. Dan sekarang, Ryan hampir dibunuh oleh seseorang yang postur tubuhnya menyerupai Adrian.
"Jangan-jangan... jangan-jangan Ricko memang dibunuh oleh Adrian," bisik Kevin pada dirinya sendiri, suaranya bergetar hebat di tengah kamar yang temaram.
Ketakutan yang merayap di dalam dadanya seketika berubah menjadi tekad yang gelap. Kevin semakin yakin bahwa Adrian sedang menjalankan rencana sistematis untuk membersihkan seluruh pewaris satu per satu. Dengan tewasnya Ricko dan hilangnya Maya, jika Ryan berhasil disingkirkan, maka target berikutnya sudah pasti adalah dirinya. Pria sulung yang dingin dan diktator itu tidak akan membiarkan siapapun berdiri di antara dirinya dan delapan puluh persen warisan triliunan rupiah.
Di lantai bawah, suasana ruang makan utama tak kalah mencekam. Adrian duduk di kursi utamanya dengan punggung tegak, meneguk kopi hitamnya perlahan sementara matanya yang tajam mengawasi setiap sudut ruangan. Pria sulung itu merasa Kevin mulai bersikap aneh. Perubahan gerak-gerik adiknya yang gelisah, tatapan matanya yang penuh curiga, serta cara Kevin selalu mencengkeram benda-benda keras di dekatnya, tidak luput dari pengamatan analitis Adrian.
Langkah kaki yang ragu-ragu terdengar mendekati ruang makan. Kevin muncul dari balik lorong, wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Ia menatap Adrian yang sedang duduk tenang, lalu memutuskan untuk mengambil langkah konfrontasi.
"Adrian," panggil Kevin, suaranya bergetar namun berusaha ia buat senormal mungkin. "Aku ingin bicara sebentar denganmu."
Adrian mendongak perlahan, menatap adiknya dengan sorot mata sinis yang teramat dingin. "Bicara soal apa lagi, Kevin? Soal utang judimu? Atau soal ketakutan konyolmu pada bayanganmu sendiri?"
"Jangan bersikap seolah kau tidak tahu apa-apa!" desis Kevin, nadanya mulai meninggi tersulut emosi. "Kau tahu persis apa yang terjadi pada Ricko malam itu! Kau orang terakhir yang bersamanya di gazebo! Dan sekarang Ryan hampir mati diserang seseorang yang berpostur sepertimu!"
Adrian mendengus remeh, meletakkan cangkir porselennya ke atas meja dengan bunyi denting pelan yang menusuk telinga. Ia berdiri dari kursinya, memajukan tubuhnya menantang Kevin.
"Jadi sekarang kau menuduhku sebagai pembunuh?" ucap Adrian dengan senyum miring yang penuh penghinaan. "Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Kevin. Kau mencari kambing hitam untuk menutupi kepanikanmu sendiri karena ancaman rentenir."
"Kau bajingan licik!" teriak Kevin, amarahnya meledak tak tertahankan. "Aku tahu kau sedang membersihkan kami semua! Kau ingin menguasai semuanya sendirian!"
Karena pertengkaran hebat dan tuduhan-tuduhan liar itu, di mata Adrian, Kevin kini telah resmi menjadi tersangka utama atas kematian Ricko. Sebaliknya, Kevin semakin yakin bahwa Adrian adalah monster haus darah yang siap mencabut nyawanya kapan saja. Suasana vila berubah menjadi medan perang psikologis di mana semua orang saling mengawasi, saling mencurigai, dan siap menerkam.