PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #13

Rem yang Putus

Langit di atas pegunungan itu semakin menggelap, seolah menolak memberikan setitik pun harapan bagi para penghuni vila. Kabut turun semakin tebal, membungkus pepohonan pinus menjadi bayangan-bayangan hitam yang menyeramkan. Di dalam vila, udara tidak lagi hanya terasa dingin, tetapi juga beracun oleh kepanikan yang mendidih.

Ia menginjaknya dalam-dalam.

Tidak ada reaksi. Pedal rem itu terasa kosong, amblas begitu saja ke lantai tanpa memberikan perlawanan sedikit pun. Tidak ada decit ban, tidak ada penurunan kecepatan laju kendaraan.

"Sial! Sialan! Remnya!" teriak Kevin, matanya membelalak lebar melihat pembatas jalan yang semakin mendekat.

"Kevin?! Ada apa dengan remnya?! Kevin, jawab aku!" jeritan Siska dari speaker terdengar menyayat hati.

"Remnya blong, Siska! Adrian menyabotase mobilku! Aaaarrrghh!"

Jerit Kevin panik, matanya membelalak lebar melihat dinding tebing dan pembatas jalan yang semakin mendekat dengan kecepatan tinggi. Ia memompa pedal rem itu berulang-ulang kali dengan histeris, namun hasilnya nihil. Rem mobilnya tiba-tiba blong secara total.

Dalam keadaan terluka, panik, dan tidak bisa mengendalikan kendaraan, mobil SUV seberat dua ton itu tergelincir di atas kerikil basah, keluar dari jalur aspal, menghantam semak-semak belukar, dan akhirnya menabrak sebuah batang pohon pinus besar di pinggir jalan dengan benturan yang sangat keras.

BAM!

Kaca depan pecah berkeping-keping layaknya kristal yang dilempar ke dinding. Kantong udara meledak menghantam wajah Kevin. Suara logam yang berderak dan melengkung memenuhi udara, disusul oleh keheningan yang tiba-tiba terasa sangat pekat. Hanya suara desisan uap dari radiator yang bocor dan suara isak tangis Siska dari ponsel yang terpental ke lantai mobil yang tersisa.

"Kevin... Kevin! Tolong, siapa pun di sana... Kevin!"

Beberapa menit berlalu seperti berjam-jam. Perlahan, Kevin membuka matanya. Kepalanya berdenyut hebat seakan baru saja dihantam palu godam. Darah segar menetes dari pelipisnya, mengalir melewati mata dan membasahi kemejanya. Ia terbatuk keras, memuntahkan darah yang terasa amis di lidahnya. Tangannya yang gemetar meraba wajahnya, lalu turun ke dadanya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di tulang rusuknya, namun ia bisa bernapas. Kevin menabrak pohon, namun keajaiban berpihak padanya; ia masih hidup.

Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tulangnya, membuat kesadarannya hampir meredup. Namun di tengah kepulan asap radiator dan cucuran darah yang membasahi pelipisnya, dengan sisa tenaga, Kevin menendang pintu mobilnya yang penyok hingga terbuka. Ia merangkak keluar, jatuh ke atas tanah pegunungan yang basah dan dingin. Ia meringis kesakitan, memegangi tulang rusuknya.

Sambil bersandar pada batang pohon dengan napas yang tersengal-sengal parah, matanya menatap nanar ke arah bagian bawah mobilnya yang hancur. Ia melihat cairan rem yang menetes perlahan dari selang yang terpotong rapi. Itu bukan kecelakaan. Itu adalah pembunuhan terencana.

Lihat selengkapnya