PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #14

Darah di Halaman Villa

Ledakan suara dari benturan baja melawan beton dan kayu solid masih bergema memekakkan telinga di seluruh penjuru villa. Asap tebal bercampur debu material bangunan mengepul ke udara, menciptakan tirai kelabu yang menyesakkan dada. Hawa dingin pegunungan yang menusuk tulang kini berhembus bebas melalui lubang menganga yang dulunya adalah pintu ganda utama dari kaca patri dan kayu mahoni. Mobil menabrak hingga masuk Rumah, mengubah ruang tamu yang megah dan dipenuhi perabotan antik bernilai miliaran rupiah itu menjadi sebuah arena reruntuhan yang mengerikan.


Lampu gantung kristal di tengah ruangan berayun liar sebelum akhirnya putus dan jatuh menghantam lantai marmer, pecah berkeping-keping menyerupai hujan berlian yang mematikan. Cairan hitam kental dari oli mesin dan air radiator mulai menggenang di atas karpet persia, menebarkan bau bensin yang menyengat dan mengancam akan menyulut percikan api kapan saja.


Di sudut ruangan, terbatuk-batuk hebat di balik sofa kulit yang terbalik, Adrian berusaha bangkit. Wajah pria sulung yang biasanya selalu tertata rapi tanpa cela itu kini dipenuhi debu putih dan goresan luka kecil akibat serpihan kaca. Pakaiannya robek di bagian lengan. Ia menatap ke arah pusat kekacauan dengan mata membelalak lebar, otaknya yang selalu rasional masih berusaha mencerna kegilaan brutal yang baru saja terjadi.


Dari balik kepulan asap kap mesin SUV hitam yang ringsek parah, terdengar bunyi logam yang dipaksa terbuka. Pintu pengemudi ditendang dari dalam hingga engselnya berderak patah.


Kevin keluar dari Mobil dengan menenteng pistol Dan langsung menembaki Adrian.


Pewaris yang selama ini dikenal sebagai pengecut dan selalu gemetar ketakutan itu, kini tak ubahnya seperti iblis yang bangkit dari neraka. Wajah Kevin sepenuhnya tertutup oleh topeng darah segar yang mengering, matanya melotot liar dipenuhi urat merah kemarahan. Jasnya compang-camping, dan napasnya memburu layaknya binatang buas yang sedang kelaparan. Di tangan kanannya, sebuah pistol kaliber 9mm—senjata ilegal yang selalu ia simpan di laci mobilnya untuk berjaga-jaga dari ancaman rentenir—kini tergenggam erat dan terarah lurus ke depan.


DOR! DOR!


Dua tembakan membahana, memecah keheningan yang baru saja turun, memantul di dinding-dinding batu vila layaknya suara petir. Peluru pertama meleset, menghancurkan vas porselen dari Dinasti Ming yang berada hanya beberapa sentimeter dari kepala Adrian. Peluru kedua merobek sandaran sofa kulit tempat Adrian bersembunyi.


"Mati kau, Adrian! Mati kau, Bajingan!" raung Kevin dengan suara yang nyaris hancur karena histeria. Lilitan paranoianya telah mencapai titik tanpa kembali. "Kau pikir kau bisa menyingkirkan kami semua?! Kau pikir kau bisa membunuhku seperti kau membunuh Maya dan Ricko?!"


Adrian merunduk panik, jantungnya berdetak sekeras genderang perang. Sentuhan kematian yang mendesing begitu dekat dengan telinganya berhasil melumpuhkan arogansinya sejenak. Namun, insting bertahan hidup pria itu sama buasnya. Menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan orang gila yang tidak lagi memiliki nalar, Adrian segera merayap ke arah kabinet kayu di dekat perapian. Ia menarik laci terbawah dengan kasar dan mengeluarkan sebuah pistol revolver perak yang memang sengaja ia simpan di ruang tamu semenjak kematian Ricko.


"Kau sudah benar-benar gila, Kevin!" balas Adrian berteriak dari balik perlindungannya. Ia mengokang senjatanya dengan tangan yang mulai berkeringat dingin. "Aku tidak membunuh siapa pun! Kau hanya termakan halusinasimu sendiri karena ketakutan pada rentenir sialanmu itu!"


"Pembohong!" jerit Kevin. Ia melangkah maju dengan kaki yang diseret, mengabaikan rasa sakit dari tulang rusuknya yang patah akibat tabrakan. Moncong pistolnya menyapu ruangan yang dipenuhi debu. "Kau menyabotase rem mobilku! Kau memotong selangnya agar aku mati di dasar jurang! Kau adalah monster yang rakus, Adrian! Kau ingin delapan puluh persen warisan Papa itu sendirian, kan?!"


Lihat selengkapnya