Gema tembakan di ruang tamu vila memantul liar, menciptakan simfoni kehancuran yang memekakkan telinga. Asap mesiu berwarna kelabu tipis menggantung di udara, bercampur dengan debu dari puing-puing pilar batu dan serpihan kaca yang berserakan di atas karpet persia. Adrian bersembunyi di balik kabinet kayu yang berlubang, napasnya memburu cepat. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya, bercampur dengan sedikit darah dari goresan peluru yang nyaris merenggut nyawanya beberapa detik yang lalu.
Di seberang ruangan, di balik rongsokan mobil SUV yang masih mengepulkan asap radiator, Kevin berdiri dengan postur tubuh yang mengerikan. Pria yang selama ini selalu menjadi bulan-bulanan keluarga karena label pengecutnya itu kini bertransformasi menjadi algojo yang tak kenal ampun. Moncong pistol kaliber 9mm di tangannya terus mencari celah untuk melepaskan peluru mematikan.
Adrian, dengan sisa-sisa arogansi dan insting bertahan hidupnya yang tajam, mengokang revolver peraknya untuk membalas tembakan. Ia mengarahkan larasnya ke arah bayangan Kevin, bersiap mengakhiri kegilaan ini. Jari telunjuknya menarik pelatuk dengan mantap.
Klik.
Hanya suara logam kosong yang terdengar. Jantung Adrian seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh. Mata elangnya melebar. Ia menarik pelatuk itu lagi secara refleks, namun suara hampa yang sama kembali mengejeknya. Adrian kehabisan peluru. Revolver itu kini tak lebih dari sepotong besi yang tak berguna.
"Kau kehabisan peluru, Kakakku yang malang?!" raung Kevin dari seberang ruangan, suaranya diiringi tawa histeris yang melengking, memecah kesunyian yang tegang. "Biar aku yang menyelesaikan ini untukmu!"
Langkah kaki Kevin yang berat dan terseok terdengar mulai bergerak maju, menginjak pecahan kaca yang berderak hancur di bawah sepatunya. Menyadari posisinya yang sangat tidak menguntungkan, topeng ketenangan seorang CEO yang selalu dipakai Adrian akhirnya retak sepenuhnya. Kepanikan primal mengambil alih. Ia membuang pistol kosongnya ke lantai dan melompat dari balik perlindungannya.
"Mati kau, Adrian!" teriak Kevin sambil melepaskan satu tembakan yang meleset, hanya menghancurkan pajangan kristal di atas meja bufet.
Adrian lari ke kamar Ryan. Ia memacu langkah kakinya dengan kecepatan maksimal menaiki tangga pualam ganda yang melengkung menuju lantai dua. Napasnya tersengal-sengal, otot kakinya menjerit memprotes, namun adrenalin memaksanya untuk terus bergerak. Niat awalnya adalah mencari tempat berlindung atau mencari bantuan di kamar adik bungsunya, mengingat Ryan mungkin memiliki sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata. Namun, saat ia mencapai ujung tangga, ia menyadari bahwa mengunci diri di kamar Ryan bersama pemuda yang terluka itu hanya akan membuat mereka berdua menjadi target empuk bagi Kevin yang sedang kalap.
Saat mencari senjata, Adrian bersembunyi di kamar Ricko. Pintu kamar mendiang adik keduanya itu tidak terkunci. Adrian segera menyelinap masuk ke dalam kegelapan ruangan tersebut dan menutup pintunya tanpa menimbulkan suara, lalu menekan tubuhnya erat-erat ke dinding di balik pintu.
Kamar Ricko terasa sangat dingin dan pengap. Aroma wiski murahan, sisa asap cerutu, dan aroma parfum musk yang menyengat masih tertinggal di udara, seolah arwah pria arogan yang mati tenggelam di kolam renang es itu masih berdiam di sana. Kegelapan di dalam kamar itu hanya diterangi oleh cahaya bulan pucat yang menyusup dari balik celah gorden tebal.
Adrian mengatur napasnya yang memburu, berusaha membuat dirinya setenang mungkin. Telinganya menajam, menangkap suara langkah kaki Kevin yang mulai menaiki tangga. Dentuman sepatu adiknya itu terdengar lambat dan penuh ancaman, seperti detak jam raksasa yang sedang menghitung mundur waktu kematian Adrian.
"Sialan," umpat Adrian dalam hati. Otaknya yang brilian berputar seribu kali lebih cepat. Ia butuh sesuatu untuk mempertahankan diri. Tongkat biliar, asbak marmer, atau mungkin Ricko menyembunyikan senjata ilegal di suatu tempat.
Mata Adrian menyapu setiap sudut ruangan yang remang-remang. Pandangannya terpaku pada sebuah lemari pakaian besar berbahan kayu jati solid yang berdiri kokoh di sudut kamar. Jika Ricko menyembunyikan barang-barang berbahayanya, lemari itu adalah tempat yang paling logis.
Dengan langkah yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, Adrian berjalan mengendap-endap mendekati lemari tersebut. Tangannya yang gemetar meraih gagang pintu lemari yang terbuat dari kuningan berlapis emas.
Sebuah bau yang sangat aneh tiba-tiba menusuk hidungnya. Bau yang jauh lebih pekat dan memuakkan daripada sekadar aroma kayu tua atau pakaian yang lama tak dicuci. Itu adalah aroma manis yang membusuk. Bau kematian. Namun, dalam kepanikannya untuk segera menemukan senjata sebelum Kevin menemukannya, Adrian mengabaikan peringatan dari indra penciumannya.