Asap mesiu yang pekat menggantung tebal di udara kamar tidur yang remang-remang itu. Bau anyir darah segar seketika menyengat indra penciuman, menelan sisa-sisa aroma parfum dan wiski yang sebelumnya memenuhi ruangan. Di atas karpet persia yang kini ternoda oleh genangan merah gelap, Adrian terkapar tak berdaya. Tangan kanannya gemetar hebat, menekan lubang di dada kirinya yang terus memuntahkan cairan kehidupan. Setiap tarikan napas pria sulung itu terdengar seperti bunyi gemericik air yang mengerikan, paru-parunya tenggelam oleh darahnya sendiri.
Hanya beberapa langkah dari tubuh Adrian yang meregang nyawa, tubuh kaku Maya tergeletak bisu dengan mata melotot ke arah langit-langit, seolah menjadi saksi bisu dari kehancuran total keluarga ini.
Kevin berdiri mematung di ambang pintu. Moncong pistol kaliber 9mm di tangannya masih mengepulkan asap tipis. Napasnya memburu brutal. Ada keheningan yang sangat ganjil dan panjang merayap masuk ke dalam ruangan itu. Di satu sisi, Kevin merasa ngeri dengan apa yang baru saja dilakukannya, namun di sisi lain, sebuah perasaan menang yang memuakkan dan bengkok mulai menguasai otaknya yang telah dirusak oleh paranoia. Ia telah membunuh sang diktator. Ia telah menyelamatkan dirinya sendiri.
"Ini... ini salahmu sendiri, Adrian..." gumam Kevin dengan suara parau yang bergetar. Tangannya perlahan turun, pistol itu terasa begitu berat di genggamannya. "Kau yang memulainya. Kau yang membuat kita menjadi seperti ini."
Adrian tidak bisa menjawab. Mulutnya hanya terbuka dan tertutup seperti ikan yang dilempar ke daratan. Mata elangnya yang selalu tajam kini meredup, menatap Kevin dengan campuran antara keputusasaan dan sebuah peringatan yang tak bisa ia suarakan. Adrian tahu kebenaran yang sesungguhnya. Ia tahu ada sosok lain di balik layar ini, tapi lidahnya telah kelu.
Tepat pada saat Kevin hendak berbalik untuk melarikan diri dari kamar itu, sebuah suara tepuk tangan yang pelan, lambat, dan sangat ritmis terdengar dari arah lorong yang gelap.
Prok... prok... prok.
Kevin tersentak. Tubuhnya menegang seketika. Ia memutar tubuhnya dengan kasar, mengangkat kembali pistolnya yang terasa semakin berat.
Dari balik bayang-bayang lorong yang temaram, muncullah sosok itu. Ryan berjalan melangkah masuk ke dalam kamar mendiang Ricko dengan ketenangan yang luar biasa mengerikan. Tidak ada lagi wajah syok atau kepanikan yang ia tunjukkan pagi tadi saat berlari masuk dengan tubuh berlumuran darah. Luka robek di bajunya masih ada, namun posturnya sangat tegap. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap kekacauan berdarah di depannya dengan senyum simpul yang membuat darah Kevin seketika membeku.
"Bravo, Kak Kevin. Bravo," ucap Ryan dengan nada suara yang selembut sutra, namun mengandung racun yang sangat pekat. "Sebuah pertunjukan yang luar biasa. Sang pengecut akhirnya menemukan taringnya, walau harus di saat-saat terakhir."
"Ryan...?" Kevin menelan ludah dengan susah payah. Kebingungan melumpuhkan otaknya. "Apa yang kau lakukan di sini? Cepat, kita harus pergi! Adrian... Adrian yang membunuh Maya! Dia yang merencanakan semuanya! Aku baru saja menghentikannya!"
Ryan terkekeh pelan. Tawa itu terdengar sangat jernih, mengalun indah namun menusuk saraf pendengaran seperti pisau bedah. Ia melangkah maju perlahan, melewati genangan darah, berdiri tepat di antara Kevin dan tubuh Adrian yang masih menggeliat lemah.
"Adrian yang membunuh Maya?" tanya Ryan dengan nada jenaka, sebelah alisnya terangkat. Ia menunduk menatap Adrian yang sekarat, lalu menendang pelan kaki kakak sulungnya itu. "Begitukah, Kak Adrian? Kau yang membunuh jalang berisik ini dan menyembunyikannya di lemari? Sayang sekali, reputasi sempurnamu harus hancur di detik-detik terakhir hidupmu."
"Ryan... apa maksudmu?" Suara Kevin mulai bergetar kembali. Insting liarnya mulai menangkap ada sesuatu yang sangat salah dengan pemuda di depannya ini. Pistol di tangan Kevin tanpa sadar sedikit menurun. "Kau... kau harusnya bersembunyi di kamarmu..."
"Kenapa aku harus bersembunyi di saat mahakaryaku sedang mencapai babak klimaks?"
Tanpa peringatan apa pun, dan dengan kecepatan yang mustahil dilakukan oleh seseorang yang sedang terluka, tangan kanan Ryan merogoh saku belakang jaket olahraganya. Sebuah pistol revolver berwarna hitam kelam berkilat tertimpa cahaya bulan.