Kesunyian yang turun menyelimuti vila pegunungan itu pasca baku tembak terasa jauh lebih mengerikan daripada suara ledakan peluru itu sendiri. Hawa dingin merayap masuk melalui pintu utama yang hancur lebur, membawa kabut abu-abu yang perlahan-lahan menyapu lantai marmer berlumuran darah. Di lantai dua, tepat di tengah-tengah kamar yang kini menjadi kuburan bagi tiga saudara kandungnya, Ryan berdiri mematung. Ia menarik napas panjang, membiarkan aroma mesiu dan darah segar memenuhi paru-parunya. Baginya, itu bukanlah bau kematian, melainkan aroma manis dari sebuah kemenangan mutlak.
Setelah memastikan posisi jasad Adrian dan Kevin benar-benar terlihat seperti tragedi pembunuhan berbalas yang sempurna, Ryan berbalik. Ia berjalan menuju cermin besar di sudut lorong. Di bawah cahaya lampu yang temaram, ia menatap pantulan dirinya sendiri. Pakaian olahraganya terkoyak, darah mengering di wajah dan lengannya, namun matanya memancarkan kepuasan seorang predator yang baru saja selesai berpesta.
Namun, pertunjukannya belum usai. Masih ada satu penonton terakhir yang harus ia yakinkan.
Ryan mengacak-acak rambutnya, memaksakan napasnya agar terdengar putus-putus dan berat. Ia memicingkan mata, memanggil kembali air mata kepalsuan yang selalu menjadi senjata utamanya sejak kecil. Dalam hitungan detik, raut wajah psikopat yang dingin itu meleleh, tergantikan oleh topeng seorang pemuda rapuh yang baru saja menyaksikan ujung dunia. Dengan langkah yang sengaja diseret, Ryan berjalan tertatih menyusuri lorong menuju kamar tidur utama ayahnya.
Di dalam kamar tidur utama, ketegangan masih merajai udara. Chintya berdiri kaku di balik meja rias jati yang ia jadikan barikade, kedua tangannya masih mencengkeram erat pistol kecil yang terarah lurus ke pintu ganda. Keringat membasahi pelipisnya. Di belakangnya, Hendra duduk diam di atas kursi roda, menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang tak terbaca, berteman dengan suara derak api dari perapian.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan lemah di pintu kayu mahoni itu membuat bahu Chintya tersentak. Jarinya menegang di atas pelatuk.
"Chintya... buka pintunya... ini aku..."
Suara Ryan terdengar bergetar hebat dari balik pintu, diselingi oleh isak tangis yang terdengar begitu menyayat hati.
Chintya menoleh ke arah Hendra, meminta persetujuan. Pria tua itu hanya memberikan anggukan pelan, sebuah gerakan sekecil milimeter namun sarat akan perintah mutlak. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Chintya menurunkan senjatanya. Ia menggeser meja rias itu perlahan, lalu memutar kunci ganda. Begitu pintu terbuka, sosok Ryan langsung ambruk ke lantai, berlutut dengan bahu yang berguncang hebat.
"Tuan Ryan!" seru Chintya, insting pelayannya sempat mengambil alih saat melihat pakaian pemuda itu dipenuhi darah, namun ia segera melangkah mundur, menjaga jarak aman.
Ryan tidak mempedulikan Chintya. Ia merangkak perlahan mendekati kursi roda ayahnya. Wajahnya bersimbah air mata, menatap Hendra dengan raut keputusasaan yang dirancang sedemikian rupa hingga terlihat sangat memilukan.
"Papa... Papa..." isak Ryan parau, ia menjatuhkan kepalanya ke pangkuan Hendra, meremas selimut tebal yang menutupi kaki ringkih ayahnya. "Semuanya hancur, Pa... Semuanya sudah berakhir."
Hendra tidak mengelus kepala putranya. Tangan pria tua itu tetap diam bersandar di sandaran kursi roda. Udara di sekitar mereka terasa membeku, sangat kontras dengan panasnya perapian di sudut ruangan.
"Apa yang terjadi di bawah sana, Ryan?" tanya Hendra. Suaranya sangat tenang, datar, dan sama sekali tidak mengandung getar kepanikan seorang ayah yang baru saja mendengar rumahnya dihancurkan peluru.
Ryan mengangkat wajahnya yang basah. "Kevin, Pa... Kevin benar-benar kehilangan akal sehatnya. Dia menabrakkan mobilnya masuk ke ruang tamu... Dia membawa pistol. Dia menuduh Kak Adrian yang merencanakan semua ini... menuduh Kak Adrian yang menyabotase rem mobilnya dan membunuh Ricko."
Ryan menarik napas dalam-dalam, membiarkan tubuhnya gemetar secara teatrikal. "Aku mendengar suara tembakan dari kamarku. Aku terlalu takut untuk keluar, Pa... Tapi saat suara itu berhenti, aku memberanikan diri melihat ke kamar Kak Ricko. Mereka... mereka ada di sana."