PEWARIS TERAKHIR

Ahmad Barnash
Chapter #18

Dalang di Balik Semua

Kemudian sebuah Kalimat meluncur dari bibir keriput Hendra dengan nada sedingin es balok di puncak gunung. Tidak ada teriakan, tidak ada amarah yang meledak-ledak. Hanya sebuah pernyataan datar yang menggema di dalam kamar utama yang sunyi. 


"Ada satu kesalahan yang tidak pernah Ayah perintahkan kepadamu."


Udara di sekitar Ryan seakan membeku. Senyum kemenangan yang sedari tadi terukir angkuh di wajahnya perlahan luntur, digantikan oleh kerutan kebingungan yang dalam. Ia memutar tubuhnya, menatap ayahnya lekat-lekat. Jantungnya, yang baru saja berdetak dengan irama euforia, kini mulai memukul tulang rusuknya dengan ritme paranoia.


"Apa maksud Papa?" suara Ryan sedikit bergetar, berusaha mempertahankan topeng ketenangannya. Ia melangkah mendekat, matanya mencari setitik pun kehangatan di wajah Hendra, namun yang ia temukan hanyalah jurang kelam yang tak berdasar. "Kesalahan apa? Semuanya berjalan sempurna. Aku membersihkan semua parasit di keluarga ini, tepat seperti yang Papa harapkan, bukan?"


Hendra masih duduk diam di kursi rodanya. Pria tua yang di mata dunia terlihat lemah dan sekarat itu, kini memancarkan aura seorang kaisar yang sedang menghakimi pengkhianat di ruang eksekusi. Tangannya perlahan melepaskan cincin zamrud dari jari manisnya, meletakkannya di atas pangkuannya.


"Kau pikir kau adalah pemain utama dalam pertunjukan ini, Ryan?" ucap Hendra pelan. Suaranya serak, bergesekan dengan dinding tenggorokannya yang sakit. "Kau pikir kaulah sutradara yang mengatur setiap gerakan bidak catur di rumah ini?"


Ryan terdiam. Keringat dingin mulai merembes dari pelipisnya. Kata-kata ayahnya tidak hanya menghancurkan ilusi kekuasaannya, tetapi juga mulai mengoyak sisa-sisa kewarasannya. Ia menoleh ke arah Chintya yang berdiri di sudut ruangan. Gadis pelayan itu tidak lagi menatapnya dengan ketakutan. Matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan, seakan ia mengetahui sesuatu yang luput dari pandangan Ryan.


"Papa... aku tidak mengerti," bisik Ryan, suaranya kini dipenuhi kepanikan yang nyata. "Aku melakukan ini semua demi perusahaan. Demi Papa. Aku menyingkirkan Adrian, Ricko, Kevin... Aku—"


"Kau hanyalah alat," potong Hendra tajam, suaranya tiba-tiba menggelegar membelah kesunyian kamar. "Kau hanyalah seekor anjing pemburu yang kulepaskan dari rantainya, dan kau berlari tepat ke arah yang kuinginkan."


Pernyataan itu menghantam Ryan seperti godam raksasa. Kakinya melemas. Ia mundur selangkah, menatap ayahnya dengan horor yang tak terlukiskan. Alat? Ia, Ryan, si pemuda berwajah malaikat yang telah dengan cermat membunuh saudara-saudaranya, hanyalah sebuah alat?


Hendra memiringkan kepalanya sedikit, menatap putranya dengan rasa kasihan yang sangat tipis, nyaris tak terlihat. Hendra mengaku sebagai otak di balik rencana. Ryan hanyalah alat.

Lihat selengkapnya